Makam Al Hawi Condet, Wisata Religi

Komplek pemakaman Al Hawi terletak di depan Masjid Al Hawi di Jalan Raya Condet, Jakarta Timur. Ada sepuluh habib kharismatik yang dimakamkan di sini yaitu Habib Mukhsin bin Muhammad Alatas, Habib Muhammad bin Ahmad bin Alhaddad, Habib Ali bin Husin Alatas, Habib Muchsin bin Sholeh Alatas, Habib Umar bin Muhammad Alatas, Habib Husin bin Umar bin Syech Abu Bakar, Habib Ahmad bin Husin bin Jindan, Habib Salim bin Ahmad bin Jindan, Habib Abdul Kadir bin Muhammad Alhaddad, dan Habib Zain bin Abdullah Alaydrus. Tidak diketahui pasti kapan kompleks pemakaman Al-Hawi di Jakarta Timur ini berdiri. Namun Habib Mukhsin adalah adalah orang pertama yang dimakamkan di sini di tahun 1938.

Habib Mukhsin bin Muhammad Alatas dikenal dengan kesalehan sosialnya yang mau membantu siapa pun di sepanjang hidupnya. Biasanya orang-orang datang kepada Habib Mukhsin untuk berobat. Meski tidak memiliki rekam jejak ilmu pengobatan, orang-orang percaya bahwa air pemberian Habib Mukhsin dapat menyembuhkan penyakit. Beliau bukanlah seorang juru dakwah dan tidak memiliki satu pun majelis taklim. Namun Habib Mukhsin diketahui senang mengaji agama kepada sejumlah habib tenar di Jakarta dan sekitarnya, salah satunya kepada Habib Abdullah bin Muhsin Alatas di bilangan Empang, Bogor. Habib Muhammad bin Ahmad bin Alhaddad adalah yang mendirikan Masjid Al Hawi di tahun 1926. Habib Zain bin Abdullah Alaydrus merupakan salah satu ulama yang mendirikan madrasah pertama di Jakarta, yaitu Jamiat Khair, pada 1322 H/1902. Habib Zain lahir di As-Suweiry, dekat Tarim, Hadramaut, pada 1289 H/1869 M, dan hijrah ke Indonesia bersama beberapa saudaranya saat berusia 12 tahun.

Kompleks pemakaman Al-Hawi selalu ramai pada bulan Sya’ban atau bulan  ruwah. Orang-orang dari pelbagai daerah datang untuk berziarah seperti Kalimantan, Malaysia, dan Singapura. Bahkan ada seorang peziarah yang ketika kecil kerap diajak orangtuanya berkeliling melakukan ziarah, setelah dewasa kemudian mengikuti kebiasaan orangtuanya itu, dan salah satunya adalah ziarah ke makam Al Hawi. Menurutnya kalau ke Jakarta selalu berziarah ke makam Condet, Kwitang, Kampung Bandan, dan Luar Batang. Tidak ada hari atau alasan khusus untuk berziarah, kapan hati memanggil saat itulah kakinya akan melangkah. Kebanyakan orang memang percaya bahwa makam-makam orang sholeh memberikan keberkahan, dan meski telah meninggal masih bisa memberi manfaat kepada mereka yang masih hidup. Peziarah pun bisa menghabiskan waktu hingga tiga jam untuk membaca istighfar, sholawat, dan berdoa di depan makam. Terkadang hal seperti ini memunculkan kontroversi karena dikhawatirkan niat yang semula baik malah mengarah pada hal-hal yang bersifat kemusyrikan. Berdoa di makam orang sholeh adalah baik, tetapi jangan sampai peziarah berdoa memohon bantuan dari orang yang sudah meninggal. Itulah sebabnya banyak pengelola yang memberlakukan aturan-aturan tertentu untuk menghindarinya, bahkan memasang papan peringatan tertentu seperti yang dilakukan oleh pengurus makam Masjid Angke yang berbunyi “Hati-hati dengan kemusyrikan”, atau gambar tangan menengadah ke atas dengan tulisan Allah di bagian atasnya. Kompleks pemakaman Al-Hawi biasanya mencapai puncak kepadatan pada saat malam 23 Ramadhan hingga Jalan Raya Condet harus ditutup sementara, biasanya mulai pukul 19.00 WIB sampai 21.00 WIB.