MAIN KALENGAN

 

Permainan yang lebih kenal oleh masyarakat diwilayah Jakarta Timur, kelurahan Batu Ampar, khususnya didaerah Condet. Asal mula permainan ini tidak diketahui secara pasti, akan tetapi nama tersebut berasal dari alat yang digunakan yaitu bahan dari kaleng (susu, biskuit). Tetapi jaman dahulu alat yang digunakan yaitu potongan-potongan bambu bulat supaya dapat diletakkan dalam posisi berdiri. Dan sebagai alat tarohannya biji-biji melinjo yang dimasukkan keatas lobang bambu atau kaleng susu. Biasanya permainan ini dimainkan pada waktu siang hari dihalaman rumah dang tidak tergantung pada musim buah melinjo.

Permainan yang popular dikalangan anak-anak Betawi kemudian berangsur-angsur hilang atau mengalami kemunduran pada masa Pendudukan Jepang. Sebab pada waktu itu kehidupan sangat sulit, anak-anak tidak ada waktu luang untuk bermain. Mereka sibuk membantu orang tuanya bekerja. Kemudian mulai muncul kembali setelah jaman Kemerdekaan dan sekarangpun anak-anak masih suka memainkan permainan kalengan, walaupun tidak sepopuler dan semeriah dulu.

Permainan ini karena sifatnya kompetitif, maka pelaksanaan dilakukan oleh baik laki-laki maupun wanita minimal dua orang dan tanpa batas maksimum. Pemain dilengkapi dengan “Gacoan”, yaitu sebuah batu pipih sebesar telapak tangan yang digunakan sebagai alat lempar. Sebagai alat taruhannya yaitu biji-biji melinjo yang diambil dari kebun. Potongan bambu bulat ukuran tinggi 10-13 cm dan diameter 5-7 cm. sekarang digunakan kaleng susu sebagai pengganti bambu dengan ukuran tinggi 10-20 cm dan diameter 9 cm.

Sebagai tahapannya setelah tarohan pertama atas pasangan biji melinjo itu diletakkan kedalam kaleng, posisi pemain dibelakang kaleng, kemudian lemparkan gacoannya untuk menjauhi kaleng tersebut. Maksudnya adalah untuk menentukan siapa yang lebih dulu melemparkan gacoannya kearah kaleng. Sebelum permainan dimulai para pemain terlebih dahulu mengumpulkan sejumlah biji melinjo sebagai alat tarohannya. Setelah ditentukan biji melinjonya maka diberikan ke setiap pemain sebagai pasangan (tarohan) lalu ditaruh kedalam kaleng tersebut untuk dilempar dengan gaco tersebut.