MAHMUD BADARUDDIN II, SULTAN

Pahlawan Nasional, lahir di Palembang tahun 1767. Dinobatkan sebagai Sultan Kerajaan Palembang tahun 1803. Ia menjalin kerja sama dengan Inggris membebaskan Palembang dari kekuasaan Belanda dan berhasil lewat pertempuran di Sungai Aur pada 14 September 1811. Bulan itu pula Inggris merebut Indonesia dari Be1anda, namun Badaruddin tak mau mengakui kekuasaan Inggris atas Palembang. Inggris memaksakan kehendaknya dengan kekuatan militer. Bulan Maret 1812 Palembang diduduki dan Badaruddin menyingkir ke Muara Rawas. Sesuai Konvensi London tahun 1814, kekuasaan Belanda di Indonesia dikembalikan Inggris kepada Belanda. Ia diangkat kembali menjadi sultan, tetapi di daerah pedalaman, rakyat menentang kembalinya kekuasaan Belanda. Belanda menuduh Sultan Badaruddin II berdiri di belakang pergolakan itu.

Bulan Juni 1819 pasukan Belanda berusaha merebut keraton, tetapi gagal. Sultan Badaruddin II diajak berunding, tetapi menolak. Tahun 1821 Belanda mendatangkan pasukan lebih besar di bawah pimpinan Mayor Jenderal Marcus de Knock. Pertempuran pun pecah kembali. Belanda berhasil menduduki Benteng Kembar dan Plaju. Dengan demikian, jalan menuju Palembang terbuka. De Knock mengultimatum Badaruddin agar menyerah, tapi tidak diindahkan Sultan dan Belanda pun melancarkan serangan besar-besaran.Tanggal 1 Juli 1821 kraton mereka duduki dan Badaruddin II ditawan. Pemerintah Belanda membuangnya ke Ternate dan di sini ia meningga1 dunia tanggal 26 N0pember 1852. Untuk mengenang jasanya namanya diabadikan sebagai nama jalan yang terletak di daerah Margamulya, Jakarta Pusat.