Maengket, Seni Tari

Tari Maengket adalah tarian tradisional bertema pertanian asal Minahasa, Sulawesi Utara, yang turut memeriahkan acara pembukaan Asian Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Saputangan yang menjadi ciri tarian ini dilambai-lambaikan oleh para penari ke arah penonton. Tarian ini dahulu ditampilkan dalam upacara panen raya, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan dan kegembiraan atas hasil melimpah yang mereka dapatkan. Seiring perkembangan, tari Maengket juga ditampilkan di berbagai acara adat, penyambutan tamu, pertunjukan seni, dan festival budaya. Nama “Maengket” sendiri berasal dari kata “engket” yang dalam bahasa setempat artinya mengangkat tumit naik turun, tambahan kata “ma” bisa diartikan sebagai menari dengan mengangkat tumit naik turun.

Tari Maengket dalam upacara petik padi (panen) dilakukan dalam tiga babak, yaitu “Maowey Kamberu”, “Lalayaan” dan “Marambak”. Upacara petik padi itu sendiri berlangsung selama dua puluh delapan hari berturut-turut. Tari Maengket “Maowey Kamberu” sebagai ungkapan rasa syukur atas panen melimpah dilakukan tujuh hari sebelum purnama di halaman batu (tumotowa). Tari Maengket “Lalayaan” yang dahulu merupakan  tari pergaulan muda-mudi Minahasa dalam mencari jodoh, dibawakan pada malam bulan purnama. Sedangkan tari Maengket “Marambak” yang menggambarkan semangat gotong royong masyarakat Minahasa ditampilkan tujuh hari setelah bulan purnama, dalam upacara pemasangan lampu untuk rumah baru (sumolo).

Tari Maengket Maowey Kamberu dibawakan secara berkelompok dengan  berpasangan, laki-laki dan perempuan, serta seorang perempuan sebagai pemimpin tari yang disebut “Walian in Uma”, yang dibantu oleh “Walian in Pengumam’an” atau lelaki dewasa. Walian adalah agama asli yang dianut oleh suku Minahasa, pemimpinnya disebut “Walian Mangorai”, seorang perempuan tua yang bertugas sebagai penasehat dan pengawas dalam pelaksanaan upacara-upacara kesuburan. Tarian dimulai dengan lambaian saputangan oleh “Walian in Uma” yang bermaksud mengundang dewi bumi (lumimu’ut) agar ruh dewi bumi memasuki tubuhnya, setelah ‘kerasukan’ barulah tarian benar-benar dimulai. Agar penari lain tidak kesurupan roh jahat, “Tonaas Wangko” atau “Tonaas Uma”, yang menemani “Walian in Uma”,  memegang tombak sebagai simbol dewa matahari (Toar), dan di sekitar halaman batu (tumotowak) ditancapkan tombak- tombak. Tarian Maengket Moawey Kamberu atau Owey Kamberu menggambarkan rasa lelah  menanam padi yang menghasilkan kesenangan saat menuai padi. Makna dibalik tarian ini adalah kelelahan karena bekerja keras akan menghasilkan kesenangan di kemudian hari.

Penari perempuan mengenakan kebaya berwana putih berenda dan bawahan kain panjang dengan bagian yang bermotif diletakkan di bagian depan. Rambut digelung atau dikonde menggunakan sanggul pingkan, dengan bunga ros atau sejenisnya yang diselipkan di sisi kiri dekat telinga. Penari laki-laki mengenakan kemeja baniang dengan kancing depan, di bagian ujung lengan dan dada diberi hiasan motif bunga atau pita. Bagian bawah berupa celana panjang dengan ikat pinggang dari bahan kain yang diikat di pinggang sebelah kanan. Ikat kepala bermotif gunung khas Sulawesi Utara  melengkapi penampilan penari laki-laki. Motif gunungnya bisa satu atau tiga gunung, satu gunung bermakna keagungan Tuhan; sedangkan tiga gunung bermakna keagungan Tuhan untuk gunung yang di tengah, dan hidup sesama manusia untuk dua gunung yang mengapitnya. Warna ikat kepala dan ikat pinggang biasanya senada. Khusus untuk pemimpin tari, pakaian yang dikenakan hampir sama dengan penari perempuan, tetapi ditambahkan beberapa kreasi seperti corak bahan atau warna agar tampak berbeda, dan ada juga yang mengenakan kebaya dipadu rok panjang berwarna senada. Rambut disanggul model yang sama seperti penari wanita. Properti penting bagi seluruh penari adalah “lenso” atau saputangan, yang dikaitkan pada jari kelingking kiri dan kanan. Para penari tidak mengenakan alas kaki saat menari.

Alat musik untuk mengiringi tari Maengket awalnya hanya tambur (gendang), tetapi kemudian ada yang menambahkan tetengkoren, gong, suling, tifa, dan kolintang. Tetengkoren adalah alat musik dari bambu yang bentuknya mirip dengan kentongan, dimainkan dengan cara dipukul-pukul, sering dimainkan para petani untuk menghibur hati sekaligus mengusir hama burung. Tifa adalah alat musik pukul sejenis gendang kecil terbuat dari kayu yang isi bagian tengahnya dibuang (dibuat berongga). Kolintang atau kulintang atau totobuang, adalah alat musik perkusi khas Minahasa yang terbuat dari kayu. Selain iringan bunyi alat musik, tari Maengket juga diiringi lagu yang dinyanyikan oleh para penari. Syairnya mengungkapkan situasi panen padi (makamberu), situasi naik rumah baru (marambak), dan situasi pergaulan muda-mudi (lumaya). Ketiga tema lagu tersebut menyatu dalam satu paket tarian Maengket dengan judul masing-masing tema yaitu Makamberu, Maramba dan Lalaya’en. Irama yang dimainkan para pemusik hanya mengikuti gerakan tari dan lagu adat yang dinyanyikan oleh para penari.