MAEN PUKULAN

Sebutan orang Betawi untuk seni pencak silat. Maen berarti "latihan". Orang Betawi zaman dahulu harus bisa mengaji dan maen pukulan untuk menunjang penyebaran agama Islam yang sering dilakukan pada malam hari berjalan dari satu tempat ke tempat lain sehingga sangat mungkin menemui bahaya. Maen pukulan sebenarnya dipelajari tidak untuk berkelahi tapi hanya berjaga diri. Beladiri ini memiliki banyak sekali aliran yang berkembang, termasuk salah satu folklore yang hidup dan sudah mendarah daging di masyarakat Betawi. Tidak ada orang Betawi yang sama sekali' nihil dari maen pukulan, bahkan kaum perempuan sekalipun mahir memperagakanjurus maen pukulan mulaijurus dasar sampai jurus pamungkas.

Dalam tradisi maen pukulan, ada dua aspek yang menonjol, yaitu ucapan dan gerakan. Aspek yang utama adalah gerak. Praktek gerak ini erat hubungannya dengan rasa, waktu, dan tempat menurut kaidah-kaidah tertentu, yang diciptakan pendiri aliran maen pukulan. Pendiri mengajarkan melalui praktek kepada generasi pertama. Murid generasi pertama yang sudah mahir dan menjadi guru mengajarkan pula kepada generasi kedua, begitu seterusnya. Aspek gerak tentu tidak akan dapat dimengerti tanpa ada penyampaian melalui ucapan atau kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan gerakan, menjelaskan kaidah, menceritakan riwayat, menyampaikan amanat guru, memotivasi murid yang sedang belajar dsb.