Lilin Siwa, Seni Tari

Tari Lilin Siwa adalah tarian tradisional dari Palembang, Sumatera Selatan, yang konon sudah ada sejak masa kerajaan Sriwijaya. Pada saat kerajaan Sriwijaya berkuasa di Palembang, agama yang berkembang adalah Hindu, dan tari Lilin Siwa ini merupakan bentuk penghormatan kepada Dewa Siwa sebagai dewa tertinggi dalam pantheon Hindu. Tarian ini belum pernah dicatat atau dibukukan hanya terpelihara secara turun temurun hingga akhirnya menghilang. Tari Lilin Siwa kemudian diangkat dan dipopulerkan kembali oleh Sukainah Rozak di tahun 1943.

Tari Lilin Siwa dibawakan oleh remaja perempuan berusia ± 15 tahun dengan jumlah penari minimal tiga orang. Pertunjukan dimulai dengan masuknya para penari sambil membawa tumpukan lima buah piring besar, dan lima buah piring kecil dengan beberapa lilin tetapi hanya ada satu yang menyala apinya. Sang penari kemudian mengambil posisi duduk bersimpuh, dan meletakkan tumpukan piring yang dibawanya ke lantai. Setelah memberikan sembah ia mulai menata piring yang dibawanya dalam satu barisan memanjang ke belakang, dengan cara meletakkannya satu persatu sambil melangkah mundur menggunakan lutut. Lilin yang dibawa satu persatu dinyalakan dengan bantuan api lilin yang memang sudah menyala sejak awal. Satu piring berisi lilin menyala diletakkan di atas kepala, dan dua piring lagi dibawa dengan kedua telapak tangan. Para penari lalu berjalan di atas lima buah piring besar yang sebelumnya sudah ditata rapi. Adegan  berikutnya adalah menari sambil membawa piring lilin dengan posisi satu di atas kepala, dua pada siku, dan satu di antara jari jemari kedua tangan yang disatukan di bagian depan. Mereka  kembali berjalan di atas piring besar. Selanjutnya mereka menari dengan membawa lima piring lilin, satu di kepala, dua pada siku, dan dua di kedua telapak tangan. Mereka kembali menari dengan melangkah di atas piring besar beberapa kali, sambil mengubah-ubah posisi piring lilin, kecuali posisi piring di atas kepala. Menjelang adegan terakhir keseluruhan penari berdiri dalam satu baris, dengan membawa dua piring lilin di kedua telapak tangan dan satu di kepala. Kedua tangan diayun-ayunkan membuat gerakan yang seolah-olah menampakkan seseorang dengan jumlah tangan yang banyak, sebagaimana penggambaran Dewa Siwa dalam salah satu perwujudannya. Tarian diakhiri dengan mematikan seluruh api lilin sambil melakukan gerakan-gerakan tertentu.

Dalam membawakan tari Lilin Siwa, para penari dituntut konsentrasi tinggi, keseimbangan tubuh, dan ketenangan jiwa. Geraknya lebih banyak menggunakan gerakan tangan yang selalu menggunakan properti piring dan lilin. Jika hilang konsentrasi sedikit saja akan mengakibatkan piring lilin terjatuh, atau salah dalam menginjak piring besar di lantai. Banyak filosofi yang terkandung dalam tarian ini sebagaimana penjelasan Sukainah Rozak saat diwawancara oleh Kantor Berita Antara. Posisi piring di atas kepala dengan lilin yang menyala sebagai simbol bahwa api di atas segala-galanya, dimana tidak ada orang yang tidak membutuhkannya. Lilin hanya satu yang hidup dan terus dibakarkan kepada lilin-lilin yang lain sebagai simbol bahwa api yang awalnya kecil bisa menjadi besar. Piring di atas siku mengandung makna bahwa api bukanlah penghubung untuk sesuatu, jadi agar bisa menjadi sesuatu kita memerlukan api. Menginjak piring dan lain-lainnya hanya untuk memperlihatkan kecakapan dan keahlian dalam membawakan tarian tersebut.

Busana penari Lilin Siwa terdiri dari Pakaian Gede atau Hiasan Gede. Hiasan Gede dikenakan oleh penari inti, sedangkan penari lainnya menggunakan Hiasan Dodot atau Selendang Mantri. Makna kostumnya lebih menekankan kepada kejayaan zaman Hindhu Budha pada zaman kerajaan Sriwijaya yang kuat dipengaruhi oleh kebudayaan Tionghoa, terutama pada hiasan kepala, dada, dan tangan. Musik pengiring menggunakan instrumen akordeon, biola, saxophone, gong, gitar, kenong, bonang, tok-tok dan gendang. Lagu pengiring adalah lagu Nasep (musik khas Palembang).