Likurai, Seni Tari

Salah satu tarian tradisional bertema perang yang ditampilkan dalam “opening ceremony” Asian Games 2018 adalah Likurai dari daerah Belu, Nusa Tenggara Timur.  Tarian Likurai dahulu digelar untuk menyambut para pahlawan yang pulang dari medan perang sebagai ungkapan rasa syukur dan kegembiraan warga atas kemenangan yang diraih, serta kembalinya para pahlawan dengan selamat. Mereka yang berhasil pulang biasanya membawa kepala musuh yang dikalahkannya sebagai simbol keperkasaan. Konon dahulu di daerah Belu terdapat tradisi memenggal kepala musuh, tetapi di era kemerdekaan tradisi mengerikan tersebut dihapus. Likurai dalam bahasa suku Tetun yang ada di daerah Belu, terdiri dari dua kata yaitu liku yang artinya menguasai, dan rai artinya tanah atau bumi. Jadi “likurai” dapat dimaknai sebagai menguasai bumi, dan Tarian Likurai merupakan simbol penghormatan kepada para pahlawan yang telah berhasil menguasai atau menaklukkan bumi, tanah air tercinta.

Tarian Likurai dahulu dibawakan oleh para perempuan (feto) cantik terutama yang berdarah bangsawan, sambil membunyikan kendang kecil (tihar) yang berbentuk lonjong dan terbuka di salah satu sisinya. Tihar dibawa dengan cara dijepit di bawah ketiak lalu dipukul dengan irama gembira sambil menari dengan berlenggak-lenggok. Kaki berderap cepat sebagai ekspresi kegembiraan dan kebanggaan menyambut kedatangan kembali para pahlawan suku mereka. Sementara penari laki-laki (mane) mengacung-acungkan pedang atau parang berhiaskan perak, dan beberapa lainnya mengalunkan syair keberanian serta memuja pahlawan.
Kepala musuh yang dibawa dari medan perang kemudian dijatuhkan ke tanah oleh para penari sebagai bentuk penghinaan kepada musuh. Pahlawan diarak ke altar persembahan yang disebut “Ksadan” dimana para tetua adat telah menunggu, untuk menjemput mereka sambil mencatat kepala musuh yang dipenggal itu. Tetua adat akan menuturkan panjang lebar kepada warga tentang jumlah musuh yang berhasil ditaklukkan sampai terpenggal kepalanya sebagai bukti keperkasaan suku Tetun.

Tari Likurai saat ini tidak lagi berfungsi sebagai tarian perang tetapi bergeser menjadi tari penyambutan tamu penting, upacara adat, pertunjukan seni, dan festival budaya. Tari Likurai ditampilkan sebagai bentuk penghormatan, rasa syukur, dan kegembiraan masyarakat dalam menyambut tamu mereka. Namun sebelum dipentaskan diadakan suatu upacara adat terlebih dahulu untuk menurunkan Likurai atau tambur-tambur itu dari tempat penyimpanannya.

Tari Likurai ditampilkan oleh penari perempuan berjumlah sepuluh atau lebih, dan dua penari laki-laki. Penari perempuan membawa kendang kecil (tihar), sedangkan penari laki-laki membawa pedang. Gerakan penari perempuan didominasi oleh gerakan tangan yang memainkan kendang dengan cepat, dan gerakan kaki menghentak secara bergantian, sambil tubuhnya melenggak-lenggok ke kiri dan ke kanan sesuai irama. Gerakan penari perempuan cukup sulit, karena selain  bergerak menari juga harus berkonsentrasi memainkan kendang, dan menjaga agar irama kendang yang dimainkan tetap sama dengan penari lainnya. Gerakan penari laki-laki didominasi gerakan tangan yang memainkan pedang, dan hentakan kaki yang harus disesuaikan dengan irama kendang. Pada saat memainkan pedang tubuh penari sesekali merunduk dan berputar-putar. Tari Likurai tidak menggunakan musik pengiring apapun selain kendang kecil atau “tihar” yang dimainkan oleh penari perempuan, dan suara “giring-giring” di kaki para penari. Suara teriakan para penari laki-laki yang khas membuat tarian ini menjadi semakin meriah, dan kesan sebagai tarian perang tetap terasa.

Penari Likurai biasanya mengenakan pakaian adat. Para penari perempuan mengenakan kain sarung panjang yang menutupi tubuh mereka dari dada sampai kaki. Rambut dikonde, memakai ikat kepala khas Belu, kalung, dan gelang, serta membawa kendang kecil yang digunakan untuk menari. Penari laki-laki mengenakan baju lengan panjang dan bawahan kain sarung, serta memakai  ikat kepala khas  Belu. Properti tari berupa pedang yang dipegang di tangan kanan, dan sarung pedang di tangan kiri. Dalam perkembangannya, terdapat tambahan variasi dan kreasi gerakan tari serta kostum berikut penyajian tariannya. Hal ini dilakukan agar Tari Likurai terlihat lebih menarik tanpa meninggalkan ciri khasnya, serta sebagai upaya melestarikan dan memperkenalkannya kepada masyarakat luas.