Likok Pulo, Seni Tari

Tari Likok Pulo adalah salah satu tarian tradisional yang turut memeriahkan hajatan besar Pekan Kebudayaan Nasional 2019 di Istora Senayan, Jakarta. Tari Likok Pulo diciptakan sekitar tahun 1849 oleh seorang pedagang sekaligus ulama asal Arab bernama Syeh Ahmad Badron, yang tinggal menetap di Pulo Aceh atau Pulau Beras (Breuh), tepatnya Desa Ulee Paya, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Dalam kegiatan dakwahnya itu muncul keinginan untuk memperkuat akidah dan amal ibadah masyarakat di Pulo Aceh. Syeh Ahmad Badron lalu menggabungkan rapai (alat musik perkusi semacam rebana), syair, dan gerak tubuh, sebagai sarana perbaikan serta pembangunan akidah dan  tauhid Islam, selain juga turut membangun persaudaraan antar masyarakat. Tarian ini kemudian menjadi sarana dakwah yang berkembang di meunasah-meunasah (semacam balai pertemuan tempat aktivitas warga termasuk belajar agama). Dalam perkembangannya tari Likok Pulo juga menjadi tari hiburan yang dapat disaksikan oleh khalayak ramai. Saat ini tari Likok Pulo sering ditampilkan dalam acara-acara penyambutan tamu, perkawinan, khitanan, pentas budaya, dan keramaian rakyat lainnya. Nama tarian ini bermakna gerak tari dari kata “likok” dan pulau dari kata “pulo”.

Tari Likok Pulo di Desa Ulee Paya dahulu dipentaskan di tepi pantai beralaskan pasir dengan bentangan tikar daun lontar atau pandan di atasnya. Tarian dipertunjukan pada malam hari selepas menanam padi atau panen sebagai hiburan sekaligus dakwah, terkadang juga menjadi pertandingan antar kampung yang bisa berlangsung hingga pagi. Likok Pulo dibawakan secara berkelompok oleh penari laki-laki sebanyak 10 sampai 16 orang. Posisi penari sepanjang tarian berlangsung lebih banyak bersimpuh seperti gerakan duduk di antara dua sujud dalam sholat, kecuali pada gerakan tertentu yang mengharuskan bangun dari duduk, berjalan dengan cara jongkok, dan berdiri saat atraksi. Para penari duduk berbanjar dalam satu shaf (baris) dengan sangat rapat, pemain utama yang disebut syekh duduk paling tengah, sedangkan penari yang berada di sisi kiri dan kanannya disebut apit atau pengapit. Mereka membawa properti tari yang disebut boh likok, berupa potongan bambu bulat sepanjang ± 5 cm yang dapat dipegang dengan dua jari.

Ragam gerak tari Likok Pulo diiringi syair yang berisi nasehat disertai pemukulan rapa’i untuk mengatur tempo tarian. Adapun gerak Likok Pulo adalah sebagai berikut:

  1. Saleum. Gerak salam sebagai pembuka tari. Penari menepuk tangannya sendiri dan tangan teman di sampingnya. Kemudian mengangkat tangan kanan memberi salam kepada penonton, telapak tangan kiri berada di bawah siku tangan kanan.
  2. Lumbang Heu Geulumbang. Tangan kanan menepuk tangan kiri dua kali dalam posisi badan membungkuk, kemudian penari kiri dan kanan melakukan gerakan secara berhadapan. Selanjutnya menepuk dada satu kali, menepuk tangan diatas kepala dua kali, dan dua kali di depan dada.
  3. Ingat Ke Tuhan. Gerakan diawali dengan tangan kanan menepuk telapak tangan kiri yang diletakkan di paha, kemudian dada, lalu tangan ditarik ke belakang bergantian, menepuk kedua bahu bersamaan, diakhiri tepukan tangan di atas kepala masing-masing penari. Gerakan dilakukan dengan badan serta kepala menghadap ke samping kanan dan kiri secara bergantian. Selanjutnya penari ganjil dan genap saling berhadapan, melakukan gerakan yang hampir sama dengan beberapa variasi, diakhiri posisi membungkuk berhadapan antara penari ganjil dan genap.
  4. Ala Minhom. Gerakan diawali dengan posisi penari ganjil menarik badannya agak ke belakang, sedangkan penari genap tetap membungkuk. Penari ganjil menepuk dengan tangan kirinya, penari genap yang posisinya membungkuk  menepuk dengan tangan kanan. Saling tepuk di antara penari ganjil dan genap dilakukan sambil menganyunkan badan ke kanan dan kiri. Selanjutnya para penari berganti posisi badan, penari ganjil agak membungkuk, penari genap duduk tetapi badan agak ditarik ke belakang. Gerakan ini dilakukan berulang-ulang hingga syair selesai dinyanyikan.
  5. Han Meu Pateh Natsu Angen. Gerakan diawali dengan duduk bersimpuh sambil menepuk-nepuk tangan ke paha, kemudian penari genap menekan tangan ke lantai sambil memegang boh likok sementara penari ganjil menepuk ke belakang. Gerakan ini dilakukan bergantian dengan penari ganjil. Selanjutnya dilakukan gerakan menepuk-nepuk boh likok ke alas duduk secara bergantian, kemudian menepuk boh likok yang ada di tangan antara penari ganjil dan genap sambil bangun dari duduk. Posisi tangan kiri saling menggenggam antara penari ganjil dan genap. Gerakan dilakukan berulang-ulang diselingi duduk bersimpuh seperti di awal dengan boh likok diletakkan di atas alas. Akhir dari gerakan ini adalah posisi penari ganjil duduk tegak menatap penonton, sedangkan penari genap membungkuk menghadap ke permukaan lantai.
  6. Neuraka Tujoh. Gerakan menekan boh likok ke lantai dan dada. Badan diputar ke samping kanan dan kiri, kemudian membuat gerakan ikatan rantai menggunakan boh likok yang selanjutnya diayunkan ke sisi kanan dan kiri seperti gelombang laut.
  7. Ala Harom. Gerakan mengikat antar penari ganjil dan genap kemudian berjalan jongkok membentuk lingkaran. Penari di ujung kiri naik ke atas ikatan penari yang membentuk bulatan, kemudian seluruh penari berdiri, dan yang berada di atas menari dengan gerakan-gerakan tangan. Selanjutnya para penari kembali duduk berbanjar dan membuat posisi ikatan dengan tangan, penari di ujung kiri naik ke atas ikatan lalu berjalan ke arah kanan, sebelum kembali ke posisinya ia berdiri di antara kedua bahu penari yang berada di tengah-tengah dan menari. Setelah beberapa saat ia kembali pada posisinya.  
  8. Salam Penutup. Gerakan menepuk tangan ke depan dan ke dada. Selanjutnya telapak tangan kanan memegang siku tangan kiri, dan tangan kiri diarahkan lurus ke depan dengan telapak tangan terbuka sebagai salam perpisahan.

Iringan musik tari Likok Pulo berupa 2 buah rapa’i yang dimainkan oleh dua orang, salah satu merangkap sebagai syeh yang akan membawakan syair sekaligus memimpin tarian. Posisinya berada di samping kanan atau kiri para penari. Syair atau nyanyian pada tarian ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian pembuka untuk memulai gerakan tari dibawakan oleh syeh, dan bagian lirik yang dinyanyikan secara serentak oleh penari bergantian dengan syeh dalam tempo yang dinamis. Para penari mengenakan busana berupa kemeja dan celana panjang dilengkapi songket Aceh yang menutupi bagian pinggang hingga lutut, serta ikat kepala. Pemain rapa’i sekaligus syeh mengenakan busana sejenis tetapi tidak sama sebagai pembeda di antara keduanya.