LIEM SOIE LIONG

Konglomerat terbesar di Indonesia di akhir abad ke-20, lahir di Cina Daratan, 16 Juli 1916. Imperium bisnisnya merambah ke berbagai sektor. Dan beragam gelar disandangnya: Raja Bank, Raja Semen, dan Raja Akuisisi Tahun 1938, saat berusia 22 tahun, ia meninggalkan tanah kelahirannya, desa Ngu Na, Fukien, Cina, menuju Kudus Jawa Tengah. Ia menyusul abangnya Liem Sioe Hie yang bekerja di toko Liem Kiem Tjay, milik pamannya. Pada tahun 1940 adiknya, Liem Sioe Kong, bergabung. Mereka merintis usaha di bidang perdagangan hasil bumi. Tetapi ketika memasuki zaman pendudukan Jepang, bisnisnya berantakan. Bahkan ketika Jepang hengkang pun, modal Liem ludes karena uang Jepang tidak laku.

Ketika pemerintah menerbitkan uang baru, setiap orang menerima satu rupiah uang baru itu. Karena keluarga Liem ada delapan orang, jadi mereka mendapat 8 rupiah. Itulah modal awal mereka. Liem Soie Liong alias Sudono Salim kemudian masuk menjadi anggota Cong Siang Hwee, perkumpulan pedagang Cina, yang membantu perjuangan Rl. Dari sini keadaan mulai membaik ketika ia dikenalkan dengan pemimpin tentara saat mendampingi Hasan Din, tokoh Muhammadiyah dari Jakarta yang merupakan ayah Fatmawati, dan juga mertua Bung Karno. Ia dipercaya memasok kebutuhan tentara dan memasuki era baru dalam perjalanan bisnisnya.

Ia mengenal Soeharto saat memasok kebutuhan logistik Divisi Diponegoro di Semarang 1950. Bisnisnya melejit setelah Soeharto menjadi Presiden, berbagai konsesi, fasilitas, dan kemudahan diperolehnya dengan alasan mengembangkan perekonomian domestik. Tahun 1970-an, PT Tarumatex, perusahaan textilnya menerima kredit murah dan mendapat kontrak US$ 1,7 juta tanpa tender memasok pakaian militer. Cy' Waringin mendapat lisensi ekspor (karet dan kopi) melebihi kuota. Menteri perdagangan kala itu, Sumitro Djojohadikusumo memberikan monopoli impor cengkeh dari Zanzibar dan Madagaskar kepada PT Mega, milik Liem. Ketika bermitra dengan Djuhar Sutanto alias Liem Wen Chiang, Ibrahim Risjad, dan Sudwikatmono (saudara sepupu Presiden Soeharto), berbagai bidang dikuasainya. Sebut saja PT Bogasari Flour Mils (1960), PT Indocement (1972), dan PT Indomobil (1971). Dengan menggandeng Mochtar Riady alias Lee Mo Sing - pemilik grup Lippo - ia membangun BCA. Meski Mochtar kemudian keluar, fondasi BCA cukup kukuh.

Pada kerusuhan yang terjadi pada 14 Mei 1998, massa menghancurkan kediamannya. Rumah tua bermodel sederhana dan berkaca antipeluru di Jl. Gunung Sahari VI No. 12, Jakarta Pusat dilalap kemarahan massa. Bahkan potret Liem Sioe Liong dan istrinya (Lie Las Nio) diarak ke jalanan dan dibakar massa. Kedekatan Liem dengan penguasa Orde Baru merupakan penyebabnya. Menurut kepercayaan masyarakat Cina, itu pertanda buruk. Hal ini terbukti, ketika BCA diserbu nasabah menarik simpanannya, bank terbesar di Indonesia itu pun kekeringan dana tunai, sehingga harus minta bantuan Bank Indonesia. Hanya dalam tempo seminggu, 28 Mei 1998, BCA jatuh ke tangan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Sekitar 70 perusahaannya beralih jadi milik pemerintah lantaran tidak mampu membayar kewajibannya kepada pemerintah, akibat melambungnya kurs dollar yang secara otomatis membengkakkan utangnya.