Ledakan Gudang Amunisi Marinir Cilandak (1984), Peristiwa

Ledakan gudang amunisi milik korps Marinir TNI Angkatan Laut terjadi pada hari Senin, 29 Oktober 1984 di markas Ksatrian Marinir Cilandak, Jakarta Selatan. Peristiwa tersebut diawali dengan munculnya asap pada salah satu gudang senjata yang menyimpan amunisi kemudian timbul kebakaran yang disusul dengan letupan-letupan kecil yang akhirnya memicu ledakan besar. Ledakan tersebut mengakibatkan amunisi dan peluru yang tersimpan terpental dan memencar tidak beraturan di udara sehingga menimbulkan situasi yang mencekam. Beberapa hari pasca ledakan, Presiden Soeharto didampingi Panglima ABRI, Letjen Benny Moerdani dan Pangdam Jaya, Mayjen Try Sutrisno meninjau lokasi ledakan serta kawasan di sekitarnya yang terkena dampak ledakan.

Akibat ledakan gudang amunisi tersebut tercatat sebanyak 4821 pengungsi, 3.714 rumah di sekitar Ksatrian Marinir Cilandak mengalami kerusakan, 224 orang terluka dan 17 orang meninggal dunia. Peristiwa tersebut juga mengakibatkan hancurnya 2.000 ton amunisi yang terdiri dari peluru roket BM-14 (Rusia), howitzer 122 mm, mortir, granat dan sejumlah persenjataan lainnya. Sumber penyebab ledakan diduga berasal dari  peluru mortir 80 mm buatan Yugoslavia yang menggunakan mesiu cair. Menurut Pangdam Jaya, Try Sutrisno kerugian akibat peristiwa tersebut diperkirakan mencapai  Rp 1,3 milyar.