Layangan Singgang

Permainan rakyat dari Jakarta yang berawal dari ide masyarakat untuk membuat sebuah benda yang mirip dengan pesawat. Pada waktu itu ada orang Belanda bernama Umar Babu yang datang ke Jakarta dengan naik pesawat terbang hingga membuat penonton yang berkumpul di Lapangan Gambir terpesona. Layangan yang besar dan bisa melenggak-lenggok di udara ini juga merupakan lambang penari Doger, salah satu tarian khas Betawi. Biasanya permainan ini dilakukan setelah memotong panenan padi. Alat yang dibutuhkan meliputi bambu, kertas minyak, minyak lilin, benang rami, dan kaleng. Bambu yang dinamakan arku oleh masyarakat ini bisa diperoleh di bulak (kebun). Setelah dibelah lalu dijemur supaya kering. Sedang kertas minyaknya bisa dipilih sesuai dengan warna kesukaannya. Kertas minyak harus dilapisi dengan minyak lilin agar kuat dan tidak mudah robek tertiup angin atau hujan. Panjang benang rami yang digunakan biasanya sampai 1 tikel (3000 m). Benang ini dianggap paling luat dan paling baik mutunya apalagi untuk pertandingan.Benang digulung di kaleng.

Permainan dilakukan oleh dua orang, satu orang memegang gulungan benang dan yang satu lagi memegang layangan siap untuk diterbangkan. Jarak diantara kedua orang ini harus cukup jauh supaya kalau layangan dilepas akan cepat naik terbawa angin. Jika layangan sudah mulai naik orang yang mengemudikan dari bawah akan menarik dan mengulur benangnya sehingga layangan akan cepat naik. Untuk menurunkan layangan tinggal ditarik perlahan-lahan supaya tidak menukik jatuh ke sembarang arah.