LASMIDJAH HARDI

Wanita pejuang tiga zaman. Istri politikus Bardi, lahir di Trenggalek (Jawa Timur) tahun 1916. Meninggal 10 Maret 1998 dalam usia 82 tahun dan dikebumikan di makam Perintis Kemerdekaan di Tanah Kusir, Jakarta. Putri dokter Jawa dr. Wardi, kendati masih berusia 15 tahun dan pendidikan formal MULO belum selesai, ia sudah aktif dalam pergerakan rakyat. Akibat aktivitasnya dalam pergerakan, terkena larangan tinggal di Trenggalek bersama orang tuanya. Ia pindah ke Betawi dan melanjutkan pekerjaan sebagai guru sekolah dasar milik organisasi Istri Sedar. Di Betawi, ia tinggal bersama kakaknya Lasmikin, istri pejuang nasionalis Yahya Nasution. Di lingkungan ini, ia justru mendapat pergaulan luas dengan tokoh·tokoh nasionalis.

Pada awal 1930-an menjadi anggota Partindo, partai yang didirikan Mr. Sartono setelah pemerintah kolonial melarang Partai Nasional Indonesia (PNI) dan menjebloskan Soekarno ke penjara Sukamiskin di Bandung. Setelah proklamasi kemerdekaan, ia terlibat berbagai aktivitas dan menyelenggarakan dapur umum. Rumahnya dijadikan posko pemuda yang aktif mengorganisasi rapat umum di Lapangan Ikada 19 September 1945. Menyelundupkan senjata kepedalaman dan sebaliknya membawa beras dari Cikampek ke Jakarta. Sekembali dari masa pengungsian ke Yogyakarta, bersama Ny. Maria Ulfah mendirikan Bank Koperasi Wanita.

Pada 1960 diangkat Soekamo sebagai Pembantu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan membantu Artadi Sudirjo dalam bidang kebudayaan. Bosan dengan politik praktis Lasmidjah mendirikan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi), dan turut serta dalam kepengurusan Yayasan Dana Bantuan, Yayasan Bunga Kamboja, Yayasan Wanita Pejuang, Yayasan Pecinta Sejarah, Yayasan 19 September 1945, dan Yayasan Obor Kebajikan.