Laksa, Kuliner

Laksa adalah mie dengan kuah gurih dan pedas, warisan budaya kuliner peranakan, yang merupakan campuran dari unsur Tionghoa serta Melayu. Banyak ditemui di Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Ada tiga teori tentang asal usul kata “laksa” yaitu: (1) lakhshah dari bahasa Hindi yang merujuk pada jenis sohun atau soun, (2) sha la (辣 沙 diucapkan latsa) dari bahasa Kanton, Tionghoa, yang artinya “pasir gurih” karena udang air tawar memberikan tekstur seperti berpasir dalam sausnya, dan (3) laksha dari bahasa Sansekerta yang artinya “banyak”. Pendapat lain mengatakan “laksa” berasal dari bahasa Hokkien, Tionghoa, yang artinya “kotor” karena penampilan kuah laksa memang tidak bening.

Kata laksha dari bahasa Sansekerta menjadi menarik karena ditemukan dalam sebuah prasasti abad ke-14 yang ditemukan di Bluluk (Biluluk), daerah sekitar Lamongan sekarang. Pigeaud membahasnya dalam Java in the Fourteenth Century dan menyebutkan bahwa lakşa merupakan makanan olahan semacam sup yang dihidangkan bersama nasi.  Artinya makanan berbahan dasar bihun memang sudah lama dikenal di Jawa. Kata laksa sendiri mengandung arti “sepuluh ribu” atau “seratus ribu”, dan penyebutan laksa kemungkinan karena banyaknya jumlah bihun dalam satu porsi.

Ada dua tipe laksa yaitu laksa asam dan laksa kari. Laksa asam adalah laksa dengan kuah ikan yang asam dicampur dengan mie. Laksa kari adalah sup berkuah santan yang dicampur dengan mie atau bihun. Berbagai varian laksa kari menggunakan bahan utama tahu, potongan daging, ikan, udang, kerang, dan ayam. Istilah laksa kari banyak digunakan di Kualalumpur dan Singapura. Di Indonesia laksa kari sangat populer tetapi orang menyebutnya dengan “laksa” saja. Variasi laksa kari juga cukup banyak misalnya laksa Betawi, laksa Bogor, dan laksa Palembang. Semuanya menggunakan kuah santan, hanya saja ada perbedaan dalam penggunaan beberapa bumbu dan isi.

Laksa Betawi konon berasal dari daerah Cibinong, tempat dimana bermukim warga keturunan Tionghoa Betawi, yang kemudian menjadi populer dengan nama laksa Betawi. Kuah laksa Betawi berwarna kekuningan karena kunyit. Pekatnya rasa dan aroma ebi dalam kuah menjadi ciri khas tersendiri. Laksa Betawi menggunakan bihun dan tauge yang mempertegas adanya pengaruh Tionghoa dalam masakan ini. Isian lainnya adalah perkedel, daun kemangi, dan kucai. Biasanya laksa disantap dengan ketupat, dan semur daging atau semur telur berkuah kental (nyemek). Laksa hingga kini selalu hadir dalam acara pernikahan (sajian gubug kekinian), khitanan, syukuran, nujuh bulanan, ulang tahun, selamatan berangkat haji, pengajian, arisan, dan berbagai keriaan lainnya.

Bagi masyarakat Betawi sebenarnya  laksa bukan hanya sekedar makanan, tetapi juga memiliki  filosofi tersendiri dalam tradisi mereka. Ada varian khusus laksa untuk disajikan saat hajatan pernikahan yang disebut laksa penganten. Juga pada  bagian akhir dari rangkaian prosesi pernikahan keluarga Betawi, setelah acara “pulang tiga hari”, biasanya keluarga laki-laki akan mengirim hantaran berupa bahan dan bumbu untuk membuat laksa ke rumah orangtua perempuan (besan). Kedatangan mereka sebagai tanda ucapan terima kasih kepada pihak besan yang telah menjaga kesucian anak perempuannya dengan baik. Nantinya setelah dimasak, pihak orangtua lelaki akan diundang untuk makan bersama atau hidangan laksa diantar ke rumah besan.

Bahan:

  1. 3 sdm minyak untuk menumis
  2. 5 butir bawang merah, iris tipis
  3. 5 batang serai, ambil bagian putihnya, memarkan
  4. 5 lembar daun salam
  5. 50 gram ebi (udang kering), rendam air panas, haluskan (bisa diganti udang kupas tumbuk)
  6. 1½ butir kelapa, buat menjadi santan sebanyak ±1200 ml (santan kental & santan encer)

 Bumbu yang dihaluskan:

  1. ½ sendok teh jintan, sangrai
  2. 1 sendok teh ketumbar, sangrai
  3. 1 sendok teh merica butiran
  4. 3 cm temu mangga atau garda mangga (bumbu rimpang yang bentuknya mirip kunyit, berwarna kuning muda, memiliki aroma, dan rasa sedikit kecut seperti mangga)
  5. 2 cm kunyit, bakar
  6. 3 cm jahe
  7. 5 butir kemiri
  8. 4 siung bawang putih
  9. Garam secukupnya
  10. Gula secukupnya

Bahan isian:

  1. 250 gram dada ayam, dicuci dengan jeruk, rebus, suwir-suwir halus
  2. 1 buah tahu putih, potong dadu 1½ cm, goreng sebentar (tidak sampai kering)
  3. 4 butir telur ayam, rebus, iris tipis
  4. Tauge pendek
  5. Bihun, seduh dengan air panas

Bahan pelengkap:

  1. Daun kemangi
  2. Bawang goreng
  3. Emping goreng

Cara membuat:

  1. Panaskan minyak, masukkan bawang merah iris, terasi, serai, dan ebi. Tumis hingga harum.
  2. Masukkan bumbu halus, tumis lagi hingga bumbu matang dan harum.
  3. Kecilkan api, tuang santan encer, masak hingga mendidih, tuang santan kental. Jaga jangan sampai santan pecah. Didihkan, angkat.
  4. Atur bahan isi dalam mangkuk saji, tuangi kuah santan.
  5. Taburkan bawang goreng, beri daun kemangi dan emping.
  6. Sajikan saat panas/hangat dengan ketupat.