KWITANG

Di Jakarta merniliki dua konotasi, pertama nama kampung sekaligus nama kelurahan yang ada di Jakarta Pusat. Nama ini berasal dari nama orang Cina yang kaya raya bernama Kwik Tang Kiam. Kwik Tang seorang tuan tanah yang kaya dan hampir semua tanah yang terdapat di daerah tersebut adalah miliknya. Kwik Tang merniliki seorang anak tunggal yang mempunyai sifat yang tidak baik, dia suka berjudi dan mabok. Setelah Kwik Tang meninggal semua tanah milik bapaknya ini habis terjual dan banyak yang dibeli oleh saudagar keturunan Arab. Sehingga sampai sekarang daerah ini disebut Kwitang dan banyak keturunan Arab yang tinggal di kampung Kwitang.

Dan kedua, aliran baru dalam silat perpaduan antara silat Betawi dan Silat Cina (kuntao). Hal ini merupakan hasil proses akulturasi antara silat Betawi dengan Kuntao Cina. Di Kampung Kwitang, Jakarta Pusat, setidaknya sampai tahun 1960-an dikenal sebagai salah satu gudang jago pencak silat di Ibukota. Di antara belasanjagoan terdapat H Muhammad Djaelani, yang lebili dikenal dengan sebutan Mad Djaelani. Ilmu silatnya, Mustika Kwitang, kini diwariskan pada cucunya, sekaligus muridnya, H Zakaria. Ialah yang mengembangkan warisan budaya, hingga jumkah muridnya mencapai puluhan ribu, dan tersebar bukan hanya di seluruh Indonesia, tapi juga di manca negara.

Tidak jauh dan kali Ciliwung terdapat Masjid Al-Riyadh, tapi lebih dikenal sebagai masjid Kwitang. Masjid ini dibangun awal tahun 1900-an oleh Habib Ali Alhabsji, tokoh ulama Betawi. Awalnya masih berbentuk mushola. Sampai tahun 1960-an, Habib Ali selalu mengajar di masjid ini. Ia kemudian membangun Islamic Centre Indonesia di kediamannya, kira-kira 300 meter dari masjid. Masjid ini pada tahun 1963 pernah diresmikan Bung Karno. Oleh proklamator kemerdekaan Indonesia ini, masjid itu diberi nama Baitul Ummah atau kekuatan umat. Tapi kemudian diganti lagi dengan nama semula.

Kala itu, hubungan Kwitang dan Kalipasir melalui eretan dengan bayaran sekelip atawa lima sen. Lebar Ciliwung mungkin dua kali sekarang. Sekitar 50 meter dari eretan terdapat sebuah jembatan trem. Saat mandi di Ciliwung, para bocah sering naik ke atas jembatan. Bila trem listrik yang menghubungkan Menteng dan Kramat lewat, mereka melompat ke sungai sambil tertawa-tawa. Kedalaman Ciliwung kala itu masih tinggi hingga bila kita meloncat dari ketinggian lima meter belum akan menyentuh dasamya. Di tepi sungai dekat jembatan trem terdapat pangkalan bahan-bahan bangunan milik Baba Hidup. Nama sebenarnya Phang Tjeng Yam. Perusahaan bangunan Babah Hidup inilah yang menyuplai bangunan pintu gerbang untuk Pasar Gambir. Tiap tahun ia membikin gerbang dari berbagai bentuk khas daerah Nusantara.