KUE ABUG/ABUK, KULINER

Kue abug atau kue abuk adalah makanan tradisional yang populer di kalangan masyarakat Betawi Pinggir atau Betawi Ora. Ada dua variasi kue abug/abuk, yaitu yang dibungkus dengan daun pisang dan tanpa bungkus daun pisang. Bahan dasarnya sama, hanya saja yang tanpa bungkus dituang dalam loyang kemudian dikukus, sedangkan yang dibungkus dibuat satu persatu menggunakan daun pisang batu dengan bentuk limas atau tum baru  dikukus.

Kue ini menjadi sajian istimewa di sepertiga bulan Ramadhan, yang dalam masyarakat Betawi dikenal sebagai tradisi malam ketupat. Tradisi ini berlangsung pada malam-malam ganjil setelah 17 Ramadhan, dan dilakukan secara bergilir di setiap mushola pada tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29 Ramadhan. Malam-malam ganjil tersebut dikenal sebagai malam likuran. Masyarakat Betawi yang lekat dengan ajaran Islam meyakini bahwa pada malam-malam itulah saat turunnya lailatul qodar. Pada tradisi malam ketupat ini warga menyiapkan kue abug untuk dibawa ke masjid atau mushola. Itu sebabnya tradisi malam ketupat disebut juga sedekah abug, karena dahulu penganan yang tersedia dan populer adalah kue abug. Kue dibuat sendiri oleh warga dan dihidangkan saat masyarakat berkumpul di mushola.

Pada era 1970-an hampir semua warga membuat kue abug, namun kini hanya beberapa warga saja yang membuatnya. Pada malam abug atau tradisi malam ketupat itu setiap rumah memiliki tugas masing-masing untuk membuat jenis penganan tertentu. Setelah melaksanakan sholat tarawih, jamaah berkumpul dan menyantap aneka hidangan yang tersedia sambil berbincang-bincang hingga pertengahan malam. Ketupat yang juga menjadi sajian malam abug merupakan  makanan dengan filosofi dan simbol sebagai pemersatu nilai silaturahim bagi masyarakat Betawi. Itulah sebabnya mengapa malam likuran menyambut lailatul qodar disebut malam ketupat, dan sedekah abug atau malam abug karena banyaknya kue abug yang disajikan. Meski saat ini tidak semua musholla atau masjid menggelar tradisi malam ketupat, tetapi sebagian masyarakat Betawi masih menjalankan tradisi ini. Kue abug juga sering disajikan pada saat perayaan masyarakat Betawi seperti khitanan, perkawinan, atau acara adat orang Betawi Pinggir lainnya.

Bahan:

  1. 200 gram tepung beras
  2. 1 sendok makan tepung sagu
  3. 100 gram gula merah, sisir halus
  4. Kelapa parut dari ½ butir kelapa
  5. Garam secukupnya
  6. Daun pisang batu untuk membungkus

Cara membuat:

  1. Campur tepung beras, tepung sagu, dan garam.
  2. Seduh dengan air hangat dan aduk perlahan agar tepung larut. Masukkan parutan kelapa dan aduk kembali agar benar-benar campur.
  3. Bentuk daun pisang seperti limas. Masukkan 2 sendok adonan, disusul gula merah iris, lalu tutup kembali dengan adonan. Lipat dan tutup daun pisang. Ulangi hingga sisa adonan habis.
  4. Kukus hingga matang. Sajikan selagi hangat.