KUDA WANGI

Kuda wangi merupakan cerita Pantun. Prabu Munding Liman, anak raja Pajajaran, yang memerintah di negara Pasir batang, berpermaisuri Lenggang Kancana. Sang raja diam-diam pergi ke Gunung Wangi hendak memperisteri Nyi Lenggang Wangi, adik Prabu Kuda Wangi. Permaisuri Lenggang Kancana menyusul dan bertanya apakah baginda akan pulang ke Pasir batang ataukah akan menetap di Gunung Wangi. Baginda kembali ke Pasir batang dengan membawa serta Nyi Lenggang Wangi, sedangkan Kuda Wangi tetap di Gunung Wangi. Selanjutnya Kuda Wangi mengalahkan raja berbagai negara seperti raja Nusa Bini, raja Pulo Kancana, raja Gunung Malela, raja Pasirbatang Lembur Girang, raja Pasirbatang Karang Tengah, Patih Gakah Hamman dari Pasir batang Lembur Hilir dan Wira Panggung dari Kuta Gangsa. Semuanya takluk dan mengabdi kepada Raja Pasir batang, Prabu Munding Liman.

Cerita ini bersama dengan sembilan cerita pantun lain dari Baduy, Banten Selatan, dipublikasikan oleh II Meijer yang ketika menjadi kontrolir di perkebunan Gunung Kancana menyuruh juru tulisnya bernama Agus Raksa Atmaja mencatat lakon-lakon pantun yang terdapat di daerah itu. Naskah huruf Latin bersama tiga cerita pantun lain terdapat di Museum Pusat (Perpustakaan Nasional), berjudul Opat Carita Pantun Sunda.