Kuambil Lagi Hatiku (borobudur Love Story), Perfilman

Merupakan Film Drama Romantis yang di Produksi oleh BUMN yang bergerak di bidang Perfilman (Produksi Film Negara PFN) yang bekerjasama dengan BUMN yang bergerak di bidang Pariwisata (Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan) serta bekerjasama dengan Wahana Kreator Nusantara.

Film ini juga merupakan film produksi terbaru PFN, setelah vakum selama 26 tahun. Di sutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis dengan Salman Aristo bertindak sebagai Produser sekaligus sebagai Penulis Skenario. Di bintangi oleh Lala Karmela, Cut Mini, Dimas Aditya, Ria Irawan, Sahil Shah, Dian Sidik dan Ence Bagus. Film ini sudah mulai diproduksi pada September 2018 dan rilis pada 21 Maret 2019.

Bercerita tentang Sinta (Lala Karmela), seorang India keturunan yang tengah merencanakan pernikahan dengan Vikas (Sahil Shah). Namun menjelang pernikahannya , Widi (Cut Mini) sang ibu mendadak kabur ke Indonesia. Sinta yang di desak untuk mempercepat pernikahan oleh calon mertuanya, terpaksa mencari tahu ibunya pergi kemana. Sinta memutar otak mengira-ngira kemana tujuan sang ibu, diapun teringat dengan kotak tua kenangan ibunya dan mendiang sang ayah. Di kotak itu Sinta menemukan foto-foto lama orang tuanya di Borobudur. Tanpa pikir panjang, Sinta nekat pergi menyusul Widi untuk membawanya pulang.  Vikas awalnya bersikeras untuk menemani, namun Sinta butuh Vikas untuk mengalihkan perhatian keluarganya, semua demi rentetan upacara pernikahan mereka. Vikas akhirnya menyetujui dengan syarat harus selalu mengabari Vikas setiap waktu. Bermodalkan beberapa foto lama orang tuanya, Sinta pergi ke kampung sang ibu, yang tidak pernah di ceritakan sebelumnya.

Di desa  tak jauh dari Candi Brobudur  yang letaknya ribuan kilometer dari tempat kelahirannya  dan tempat  tinggalnya di  Agra, India  Sinta menemukan pesona lain dari negeri  yang tadinya hanya dikenalnya melalui foto,  Sinta lebih mengenal Taj Mahal.

Berbagai peristiwa termasuk berurusan  dengan sindikat pencurian candi,  pertemuan dengan Panji, seorang arkeolog  muda (Dimas Aditya),  membuat Sinta gamang akan jati dirinya.  Kegamangan  yang tidak saja membuatnya  harus  memilih  jalan hidupnya, tetapi juga mengancam pernikahannya.

Mengambil latar keindahan Borobudur, film ini hendak memperlihatkan tentang kekayaan budaya dan keberagaman Indonesia. Pemilihan Borobudur bukan hanya sekedar setting film, namun juga merupakan aspek penting dari film, dimana bahwa candi Borobudur adalah bangunan yang termasuk dalam Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

Sementara, pemilihan India  sebagai  lokasi syuting  memang berbeda dengan sejumlah film Indonesia, ketika memilih lokasi syuting kebanyakan memilih negara-negara Eropa atau Amerika Serikat. Menurut Abduh  secara budaya Indonesia  dan India relatif dekat. Kemudian, penggunaan empat bahasa  dalam dialog  film  ini seperti Bahasa India, Bahasa Inggris,Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa  membuka kemungkinan  film ini bisa dipasarkan  di negera-negara Asia,” pungkas Abduh.