Kotebang, Seni Tari

Kotebang adalah tari kontemporer Betawi yang terinspirasi dari tradisi kesenian Blenggo Rebana Biang. Tarian ini merupakan pengembangan gerak dasar Tari Blenggo yang dipadukan dengan gerakan-gerakan Pencak Silat aliran Beksi dan aliran Sabeni Tanahabang. Nama Kotebang sendiri merupakan penggabungan atau akronim antara unsur musik dan gerak seperangkat Rebana Biang, yang terdiri dari Rebana Kendung, Rebana Kotek, dan Rebana Biang. Di antara ketiganya, Rebana Kotek yang paling menentukan dinamisasi harmoni dalam tetabuhan lagu maupun musik pengiring tari. Harmoni selalu dikaitkan dengan keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara unsur yang satu dengan lainnya. Perubahan keras dan lembutnya (dinamika) lagu atau musik akan menciptakan sebuah harmonisasi dengan nuansa serta penjiwaan (ekspresi) yang berbeda dalam setiap penyajian. Istilah “kotebang” dapat diartikan sebagai “kote”kan-kotekan alat musik rebana “b(i)ang”. Jika ditilik dari unsur gerak, Tari Kotebang banyak dipengaruhi jurus “kotek”, yaitu gerak tangan yang menyerupai gerak “kuntou” dalam silat China. Gerak kotek banyak ditemukan dalam jurus-jurus “kelabang” pada aliran silat Sabeni Tanahabang, sehingga ada yang berpendapat nama kotebang bermakna “kote”kan kela”bang” nyebrang. Jurus “kelabang nyebrang” adalah salah satu jurus  penyerangan yang terkenal dari Silat Sabeni.

Tari Kotebang diciptakan tahun 1992 oleh Abdurrachem dengan melibatkan Sujana sebagai penata musik. Tarian ini merepresentasikan keluhuran budi, sikap dan tata krama masyarakat Betawi yang sesungguhnya. Orang Betawi dikenal bersikap  terbuka, rendah hati, dan saling tolong dalam persaudaraan sebagai sesama manusia. Saat berpapasan orang Betawi selalu bertegur sapa dengan ucapan salam khusus sebagaimana yang dianjurkan dalam Islam. Kehidupan etnis Betawi memang lekat dengan agama Islam yang disimbolkan oleh sarung dan peci sebagai perlengkapan sholat serta silat.

Gerakan awal saat para penari masuk adalah “engklek”, gerakan berjalan dengan kaki ditekuk ke belakang, badan membungkuk, tangan kiri diletakan di belakang dengan telapak tangan mengarah ke luar sedangkan tangan kanan lurus ke bawah (sikap seperti orang meminta jalan atau “numpang lewat”). Seiring gerakan tersebut para pemusik melantunkan lagu Assalamu’alaikum, ucapan salam secara Islam yang intinya berisi do’a. Gerakan kedua adalah para penari dalam posisi duduk jongkok dengan menekuk lutut kanan dan melipat kaki kiri hingga sejajar lantai, kemudian berdiri perlahan sambil mengangkat kedua tangan ke atas, posisi kaki kiri agak ke belakang. Setelah berdiri, tangan yang terbuka diturunkan lalu  ditangkupkan, secara perlahan kembali pada posisi jongkok, sehingga posisi akhir seperti sikap menyembah atau memberi hormat. Gerakan mirip “taben” dalam Tari Blenggo ini merepresentasikan ketaatan orang Betawi dalam hal agama, yang mengawali segala sesuatunya dengan berdo’a kepada Allah. Para penyanyi melantunkan syair yang menyebut asma Allah saat penari melakukan gerakan ini. Gerakan selanjutnya langsung beralih pada gerakan-gerakan silat. Suara hentakan kaki pada lantai, dan punggung tangan atau telapak tangan yang beradu dengan kepalan tangan memberikan irama tersendiri. Perpindahan gerak tangan yang sangat cepat mencirikan pengaruh silat aliran Sabeni dalam tarian ini. Ada beberapa gerakan yang mirip dengan Tari Blenggo Rebana, seperti gerakan kaki pada “mincik selancar” yaitu gerakan dengan posisi kaki bergantian ke arah depan dengan lutut sebagai tumpuan. Gerakan lainnya adalah “jalan pengkor”, yaitu berputar perlahan ke arah kiri dan kanan secara bergantian dengan salah satu kaki sebagai poros dan kaki lain di belakangnya dengan posisi punggung kaki berada di bawah. Salah satu tangan berada di depan dada dengan telapak tangan terbuka, dan tangan lainnya di samping dengan posisi telapak tangan mengepal. Gerakan penutup Tari Kotebang sama dengan gerak awal (engklek), hanya saja cara berjalannya tidak selambat di awal dan di bagian akhir para penari melangkah mundur untuk keluar dari area.

Tari Kotebang dibawakan secara berkelompok oleh penari laki-laki baik penari, pemain musik, maupun penyanyinya. Kultur budaya yang lekat dengan agama tidak mengijinkan perempuan berlenggak-lenggok di depan khalayak ramai. Busana yang dikenakan adalah kemeja dilapis jas Betawi, celana pantalon, sarung di bagian pinggang yang diperkuat dengan ikat pinggang atau “gesper haji”, dan ikat kepala. Pemain musik mengenakan baju taqwa atau koko putih dengan bawahan sarung serta peci atau kopiah hitam di kepala. Penyanyi mengenakan pakaian yang sama dengan penari. Musik pengiring Tari Kotebang adalah seperangkat Rebana Biang yang terdiri dari (1) Rebana Gendung. Berukuran diameter 21 cm (bawah) dan 32 cm (atas), tinggi 10 cm, tebal 2 cm, serta berat 1 kg. Pemain dalam posisi duduk, kaki ditekuk dengan lutut di atas, kemudian rebana disandarkan di kaki, ditahan oleh jari-jari kaki supaya tidak goyah saat dipukul; (2) Rebana Kotek. Berukuran diameter 22 cm (bawah) dan 42 cm (atas), tinggi 10 cm, tebal 2,5 cm, serta berat 1,5 kg. Cara memainkannya sama dengan Rebana Gendung; (3) Rebana Biang. Diameter 27 cm (bawah) dan 80 cm (atas), tinggi 16 cm, tebal 3 cm, serta berat 2,5 kg. Pemain duduk dengan posisi kaki ditekuk mempertemukan kedua telapak kaki, lalu Rebana Biang dijepit dengan telapak kaki supaya suara yang keluar bagus. Ada juga cara duduknya dengan menekuk kaki dan Rebana Biang disanggahkan di kaki kiri. Setiap jenis rebana biang setidaknya ada tiga buah. Alat musik lainnya adalah rebab dan kecrek tamborin. Lagu yang dibawakan berupa “lagu rebana” yaitu lagi dzikir berbahasa Arab dengan irama lambat, di antaranya sholawat Nabi.