Kongkow-kongkow, Nilai Budaya

Kata ngerumpi juga tidak beda dengan kata lama yang dikenal masyarakat Betawi, yaitu kongkow-kongkow. Kata tersebut berasal dari bahasa Cina-Betawi. Kongkow-kongkow identik dengan para Babeh atau Encim yang ngobrol membicarakan sesuatu untuk topik resmi ataupun santai. Orang Cina Betawi jaman dahulu memiliki kebiasaan dari sore hingga menjelang malam, mereka duduk di pelataran atau di serambi rumah sambil mengipasi badannya menunggu adem. Kongkow-kongkow terkadang dilakukan di tempat tertutup, biasanya membicarakan masalah bisnis atau masalah kekerabatan yang penting. Kongkow-kongkow seringkali diselingi dengan permainan judi gaple atau lainnya.

Dahulu di daerah Pecinaan Pasar Baru, Belakang Glodok, Taman Sari, Gunung Sahari, dan beberapa tempat lainnya sering ada orang Cina ngeloneng sambil kongkowan malam hati untuk cari angin di selasar atau depan rumahnya atau di depan jalan masuk perumahan mereka. Biasanya mereka menggunakan setelan baju tidur (bagi encek-encek menggunakan piyama dan kaos singlet, sedangkan bagi encim-encim menggenakan stelan piyama dengan celana pangsi). Mereka kongkowan, leha-leha uncang-uncang kaki, sambil berkipas dengan kipas bambu dan makan panganan kecil, seperti kacang atau kuaci, yang diselingi minum teh atau es sirop. Saat ini kebiasaan tersebut saat ini sudah jarang ditemui di Jakarta, karena banyaknya penduduk pendatang dari luar Jakarta yang bekerja dari pagi hingga malam. Selain itu, kongkow-kongkow juga sudah tergantikan dengan hiburan lain yang tidak interaktif dan komunikatif.