Klarinet, Seni Musik

Klarinet adalah alat musik tiup yang bentuknya memanjang seperti terompet dengan tubuh yang jauh lebih ramping. Penamaan klarinet memang mengacu pada bentuk alat musiknya, diambil dari bahasa Italia “clarino” yang artinya “terompet” dan “et” yang bermakna kecil. Ada juga yang mengatakan bahwa nama klarinet diberikan karena dari kejauhan suaranya terdengar mirip terompet, namun dengan nada yang  lebih tinggi. Itulah sebabnya disebut "clarinetto" yang artinya terompet kecil. Alat musik ini sumber bunyinya berasal dari udara yang ditiupkan (aerophone) melalui celah sempit di bagian atasnya (mouthpiece) hingga bergetar dan menghasilkan nada. Tubuh klarinet memiliki banyak lubang dan tombol untuk menghasilkan serta mengatur nada. Klarinet memiliki banyak varian sesuai dengan nada yang ingin dimainkan, di antaranya piccolo clarinet, soprano clarinet, basset clarinet, basset horn, alto clarinet, bass clarinet, contra-alto clarinet, dan contrabass clarinet. Jenis basset clarinet dan bass clarinet paling sering digunakan karena keduanya selalu hadir dalam sebuah orkestra, yang biasanya memang memiliki dua klarinetis (pemain klarinet).

Cikal bakal klarinet diduga sudah ada di Mesir sejak 3000 SM, berupa alat berbentuk tabung yang terbuat dari kayu dan dimainkan dengan cara ditiup. Alat musik serupa juga ditemukan di Spanyol dan Sardinia. Berbagai pengembangan alat musik tiup pun dilakukan guna memenuhi kebutuhan manusia dalam mengekspresikan dirinya. 14 Januari 1692, di kota Nuremberg, Jerman, seorang produsen rekaman yang berpengalaman di bidang alat musik tiup, Johan Christoph Denner, mengembangkan alat musik asal Perancis chalumeau. Ia dibantu puteranya, Yakub, mencoba membuat alat musik tiup baru dengan mengadospi chalumeau, menggunakan aneka bahan kayu dengan menambahkan alat yang mampu memperbanyak nada. Corong (mouthpiece) sebagai alat meniupkan udara juga diperbaiki, agar pemain bisa lebih nyaman untuk menghasilkan suara yang beragam dengan tingkatan nada yang lebih tinggi. Tahun 1812, Iwan Muller kemudian membuat klarinet yang dilapisi kulit. Hal ini memungkinkan adanya penambahan jumlah lubang dan kunci pada instrumen. Tahun 1843, klarinet kembali dikembangkan dengan menambahkan serangkaian cincin dan gandar, agar pemain lebih mudah memegangnya.

Tampilan klarinet saat ini didominasi oleh bahan kayu hitam Afrika dalbergia melanoxylon. Beberapa varian genus kayu hitam (black wood) Afrika adalah black cocus, mozambique ebony, grenadilla, dan ebony Afrika Timur. Kayu tebal serta berwana gelap inilah yang menjadi ciri khas klarinet.  Jarang ada klarinet yang dibuat dari perak atau kuningan. Corong klarinet dibuat dari sejenis karet keras yang disebut ebonite. Kunci atau tempat mengatur nada dibuat dari perak Jerman, yang merupakan campuran tembaga, seng, dan nikel. Tahun 1910-an klarinet mulai sering digunakan dalam berbagai pagelaran musik jazz di New Orleans, Amerika Serikat. Larry Shields, Ted Lewis, Jimmie Noone, dan Sidney Bechet adalah beberapa pelopor pengguna klarinet dalam musik jazz.

Klarinet dalam kesenian Betawi menjadi salah satu intrumen Tanjidor. Alat musik ini dibawa oleh orang-orang Belanda yang memiliki orkes musik beranggotakan para budak belian dan serdadu. Pengadaan orkes musik di kediaman para bangsawan Belanda masa itu tidak lepas dari perkembangan musik kamar selepas runtuhnya dominasi kerajaan-kerajaan di Eropa, yang digantikan oleh sistem demokrasi. Kalangan borjuis baru yang lahir dari kalangan pengusaha dan pedagang kemudian ikut meramaikan kegiatan mereka masing-masing dengan pertunjukan musik sebagai salah satu simbol prestise. Ernst Heinz, seorang musikolog Belanda menjelaskan bahwa alat musik yang dipakai kebanyakan alat musik tiup, seperti klarinet, terompet Perancis, komet, dan tambur Turki.