Kinang Kilaras, Seni Tari

Tari Kinang Kilaras adalah tari kreasi tradisional Betawi yang didedikasikan untuk Mak Kinang, seniman legendaris Betawi. Kata “kinang” diambil dari nama Mak Kinang, sebagai penghargaan atas kecintaan dan pengabdian isteri dari Kong Djiun, yang juga seorang seniman, terhadap seni budaya Betawi. Kedua seniman ini adalah legenda tari Topeng Betawi, Kong Djiun yang menciptakannya, lalu Mak Kinang menarikannya dengan iringan gendang Kong Djiun. Adapun kata “kilaras” pada nama tarian ini  bermakna selaras.

Tari Kinang Kilaras diciptakan oleh Syarifudin atau yang lebih populer dengan panggilan Kang Udin. Tarian ini menggambarkan kegembiraan dan semangat sekelompok perempuan Betawi, dengan derap langkah yang selaras berusaha mencapai keberhasilan. Mereka pun kemudian mengembangkan keberhasilan yang diperolehnya, sesuai dengan karakter masyarakat Betawi yang dinamis dan harmonis, sebagaimana jejak rasa cinta terhadap seni Betawi yang diwariskan oleh Mak Kinang. Tahun 2002 tarian ini diperkenalkan untuk pertama kalinya dan mendapat apresiasi dari masyarakat, khususnya para penggiat tari. Tari Kinang Kilaras kemudian menjadi materi pelatihan di beberapa sanggar dan Balai Latihan Kesenian.

Gerakan tari Kinang Kilaras merupakan pengembangan gerak campuran tari Topeng dan tari Cokek. Ragam gerak yang dikembangkan antara lain gerak kewer, selancar, pablang, blontur, silat, serta goyang pinggul (goyang cendol dan goyang plastik). Gambang kromong menjadi musik pengiring dengan lagu “petik kelapa” yang diaransemen oleh Sudaryana, seorang sarjana karawitan, dengan komposisi musik kromong yang kuat. Tari Kinang Kilaras bersifat profan yang ditampilkan sebagai pertunjukan dan hiburan. Tarian ini sering dipentaskan sebagai persembahan pengantin Betawi.

Busana yang dikenakan terdiri dari kebaya pola lengan tiga warna, kain batik Betawi, toka-toka modifikasi teratai, ampreng sebatas lutut  untuk menutupi bagian perut ke bawah, ikat pinggang (sabuk), selendang yang dikaitkan pada sabuk dan berfungsi sebagai aksesoris busana sekaligus properti tari, dan penutup tubuh bagian belakang (amprog/andong). Rambut disanggul model cepol yang dihias dengan deretan bunga dan tusuk konde (sumpit cina). Hiasan kepala berupa modifikasi kembang topeng sejenis sigar, dan kalung yang dijadikan hiasan pada dahi. Telinga mengenakan anting.