Ketan Urap, Kuliner

Ketan urap adalah salah satu camilan tradisional Betawi yang masih terjaga hingga kini. Dahulu ketan urap menjadi teman minum teh atau kopi dalam tradisi minum teh di kalangan masyarakat Betawi yang disebut nyahi, yaitu meminum teh rasa pahit jambu sambil menghabiskan waktu dengan ngobrol bersama teman-teman di sore hari. Konon istilah nyahi berasal dari bahasa Arab syahi yang artinya ngeteh, namun ada yang berpendapat bahwa tradisi nyahi dipengaruhi oleh budaya minum teh orang Tionghoa.

Berbeda dengan lazimnya tradisi minum teh di Tionghoa atau Eropa, teh yang disajikan adalah jenis teh tubruk, minuman dari daun teh kering yang langsung diseduh tanpa disaring. Teh tubruk dibuat dalam teko kaleng blirik atau teko berbahan kuningan. Seduhan teh tubruk hangat dituang ke dalam gelas-gelas kaleng motif bunga atau gelas belimbing beralas piring kecil, dan dinikmati bersama camilan kue-kue khas Betawi termasuk ketan urap. Penganan dari beras ketan ini saat penyajiannya diberi taburan kelapa parut hingga terasa gurih di lidah, dan bisa diberi sambal kacang jika suka.

Ketan urap tidak hanya ada di warung-warung jajanan Betawi biasa tetapi juga toko kue, dijual pada pagi hari bersama gorengan pisang, tahu isi, bakwan sayur, dan lainnya. Kudapan dari beras ketan ini seringkali menjadi pilihan menu sarapan pengganti nasi dan lauk pauk komplit yang dianggap terlalu berat. Ketan urap tidak terlalu berat tapi cukup mengenyangkan sebagai pengganjal perut, dan akan lebih terasa kelezatannya jika ditemani secangkir teh manis panas atau kopi. Kudapan tradisional Betawi ini juga kerap disajikan dalam acara arisan, rapat kantor, pengajian, dan acara lainnya. Sedangkan dalam tradisi masyarakat Betawi, ketan urap biasanya menjadi sajian acara akad nikah bersama dengan ketan serundeng. Ketan urap pernah diangkat dan dipopulerkan dalam sebuah lagu oleh seniman Betawi Benyamin Sueb, yang potongan liriknya berbunyi “Nasi uduk ketan urap, sambil duduk makan nyarap”. Tak heran jika nama penganan ini begitu lekat dalam ingatan masyarakat Jakarta hingga kini. 

Bahan:

  1. 200 gram beras ketan putih
  2. ½ sendok teh garam
  3. 50 gram kelapa muda, kupas kulit arinya, parut memanjang, kukus
  4. Air

Cara membuat:

  1. Rendam beras dalam air selama 1 jam. Tiriskan.
  2. Beras ketan dicampur dengan air dan garam kemudian dimasak hingga setengah matang dan air terserap habis.
  3. Aronan dipindahkan ke dalam dandang lalu dikukus hingga matang.
  4. Kelapa parut dicampur dengan garam, ditempatkan dalam wadah tahan panas lalu kukus hingga matang.
  5. Ambil 2 sendok makan ketan, bentuk menjadi bulat dengan diamater sekitar 5-6 cm dan tebal 2 cm. Lakukan hingga sisa ketan habis.
  6. Bulatan ketan kemudian digulingkan di atas kelapa parut.
  7. Sajikan di atas piring. Hidangkan dengan sambal kacang jika suka.