KEPULAUAN SERIBU, KABUPATEN

Pemerintah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu merupakan wilayah administrasi yang berada di bawah Pemprov DKI Jakarta. Secara geografis letak Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu pada posisi antara 106º19'30" - 106º44'50" Bujur Timur dan 5º10'00" - 5º57'00" Lintang Selatan.

 

Kepulauan Seribu yang terletak di Laut Jawa dan Teluk Jakarta merupakan suatu wilayah dengan karakteristik dan potensi alam yang berbeda dengan wilayah DKI Jakarta lainnya, sebab wilayah ini pada dasarnya merupakan gugusan pulau-pulau terumbu karang yang terbentuk dan dibentuk oleh biota koral dan biota asosiasinya (algae, malusho, foraminifera dll) dengan bantuan proses dinamika alam.

 

Sesuai dengan karakteristik tersebut dan kebijaksanaan pembangunan DKI Jakarta, pengembangan wilayah Kepulauan Seribu diarahkan terutama untuk: (a) meningkatkan kegiatan pariwisata; (b) Meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat nelayan melalui peningkatan budidaya laut; dan (c) Pemanfaatan sumber daya perikanan dengan konservasi ekosistem terumbu karang dan mangrove.

 

Berdasarkan data sensus dari BPS Kepulauan Seribu tahun 2016, jumlah penduduk di wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu adalah 23.639 jiwa yang terdiri dari 11.816 laki-laki dan 11.823 perempuan. Pertumbuhan penduduk Kepulauan Seribu juga mengalami peningkatan dari 1,34% pada tahun 2014-2015 menjadi 1,36% pada periode tahun 2015-2016. Sementara untuk rata-rata tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, yaitu sekitar 2.717 jiwa/km2 dengan komposisi kepadatan penduduk di Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan mencapai 3.196 jiwa/km2 dan kepadatan penduduk di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara sebesar 2.458 jiwa/km2.

 

Pembagian Wilayah Pengembangan (WP) dimana Kepulauan Seribu termasuk salah satu WP, diatur dalam Perda No.6 tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RT/RW) DKl Jakarta. Pembagian WP didasarkan pada karakteristik fisik dan perkembangan masing-masing wilayah dengan rincian sebagai berikut:

 

1. Wilayah Pengembangan Utara, yang terdiri dari WP Kepulauan Seribu (WP-KS) dan WP Pantai Utara.

2. Wilayah Pengembangan Tengah, terdiri dari WPTengah PUSat, WP Tengah Barat dan WP Tengah Timur.

3. Wilayah Pengembangan Selatan, terdiri dari WP Selatan Utara dan WP Selatan Selatan.

 

Seperti telah disebutkan, salah satu arahan pengembangan wilayah Kepulauan Seribu adalah peningkatan kegiatan pariwisata. Namun bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat kegiatan pariwisata belum memberi kontribusi perairan laut seperti perikanan, pertambangan dan transportasi laut bahkan menimbulkan dampak lingkungan yang merusak. Misalnya penangkapan ikan menggunakan bahan beracun atau bahan peledak merusak lingkungan perairan dan terumbu karang.

 

Minimnya sarana transportasi dan telekomunikasi membuat Kepulauan Seribu 'terisolir' dari kawasan lainnya di DKI Jakarta. Selain itu rendahnya tingkat pendidikan dan ekonomi, minimnya sarana dan prasarana serta persebaran penduduk yang tidak merata menjadi kendala dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Akibatnya semua kelurahan di Kepulauan Seribu termasuk dalam kategori desa tertinggal.

 

Untuk mendongkrak perkembangan Kepulauan Seribu dalam segala aspek antara lain kelestarian lingkungan, konservasi sumber daya alam, ekonomi, sosial budaya dan kesejahteraan rakyat, maka kecamatan Kepulauan Seribu yang merupakan bagian dari wilayah Kotamadya Jakarta Utara ditingkatkan statusnya menjadi Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Ketentuan ini diatur dalam Undang-undang No. 34 Tahun 1999 tanggal 31 Agustus 1999 tentang Pemerintahan Propinsi Daerah Khusus Ibukota Negara RI Jakarta.

 

Peningkatan status menjadi Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu diikuti dengan pemekaran kecamatan dari satu menjadi dua kecamatan dan empat kelurahan menjadi enam kelurahan, serta sebagai ibukota kabupaten diputuskan P. Pramuka. Sedangkan mengenai Penataan Ruang, telah dibuat Rencana Tata Ruang Wilayah (RT/RW) Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu yang mengacu pada RT/RW Propinsi DKI Jakarta.

 

Secara administrasi Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu memiliki luas wilayah 869,61 Ha, yang terbagi menjadi dua kecamatan dan 110 pulau. Rincian kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu adalah sebagai berikut:

 

1. Kecamatan Kepulauan Seribu Utara (terdiri dari 79 pulau) seluas 565,29 ha. Kelurahan Pulau Kelapa, seluas 258, 41 ha.

- Kelurahan Pulau Harapan, seluas 244,72 ha.

- Kelurahan Pulau Panggang, seluas 62,10 ha.

 

2. Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan (terdiri dari 31 pulau) seluas 304,32 ha. Kelurahan Pulau Tidung, seluas 106,90 ha.

Kelurahan Pulau Pari, seluas 94,57 ha.

- Kelurahan Pulau Untung Jawa, seluas 102,85 ha.

 

Kilometer Kepulauan Seribu merupakan wilayah kepulauan berupa gugusan pulau-pulau karang yang terdapat disebelah utara atau di Teluk Jakarta. Diantara gugusan Kepulauan Seribu, adalah P. Kahyangan, P. Bidadari, P. Onrust, P. Edam, P. Kelor, P. Rambut, P. Pantara Timur, P. Pantara Barat, P. Subaru, P. Untung Jawa, Gugusan P. Kelapa, P. Ubi Kecil, P. Parung Indah, Kelurahan P. Panggang, P. Pari, P. Saktu, P. Penike, P. Pelangi, P. Puteri, P. Pabelokan, P. Laki, P. Pamagaran, P. Melinjo, P. Sabira, P. Matahari, P. Papa Theo, dan P. Ayer.Tidak semua pulau yang termasuk di dalam gugusan Kepulauan Seribu didiami manusia. Sebagian besar merupakan pulau yang tak berpenghuni.

 

Namanya Kepulauan Seribu, tapi bukan berarti pulau-pulau di dalam gugusan kepulauan itu berjumlah seribu. Jumlah pulaunya sekitar 342 buah, termasuk pulau-pulau pasir dan terumbu karang yang bervegetasi maupun yang tidak. Pulau pasir dan terumbu karang itu sendiri berjurnlah sekitar 158. Daratan pulau-pulau di wilayah Kepulauan Seribu terdiri dari tanah alluvial, yang keadaannya tidak berbeda dengan keadaan tanah di pantai utara Teluk Jakarta. Hal ini adalah akibat adanya sedimentasi, yang berupa Mudflows (endapan lumpur) yang dibawa oleh sungai-sungai yang bermuara ke laut ini. Umumnya pulau-pulau di Kepulauan Seribu terjadi karena pertumbuhan kehidupan binatang karang (corallinacene) sehingga seluruh pantai dari pulau-pulau tersebut adalah pulau karang.

 

Keadaan fauna Kepulauan Seribu dapat dijelaskan dalam 2 bagian yaitu fauna yang hidup di daratan pulau-pulau maupun yang hidup di dalam lautannya. Flora yang dominan terdapat di pulau-pulau Kepulauan Seribu adalah Pohon Kelapa, Nyamplung (Kayu Naga dan Kayu Bakau). Disamping itu ada pula tanam-tanaman palawija dan buah-buahan berupa semak-semak. Pulau yang rapat pohonnya dan mempunyai varitas yang banyak yakni P. Bokor dan P. Rambut.

 

Pada umumnya air tawar di pulau-pulau Kepulauan Seribu mempunyai kadar garam (NaCl) yang tinggi (airnya asin) sehingga airnya tidak dapat diminum. Tetapi ada beberapa pulau yang mempunyai sumber air tawar diantaranya ialah P. Tidung, P. Elang, P. Kelapa, P. Putri, P. Air Besar, dan P. Karya yang airnya dapat dikatakan cukup baik, akan tetapi rasanya masih terasa kepahit-pahitan. Kegiatan ekonomi penduduk Kepulauan Seribu dapat terbagi dalam tiga kategori, yakni: di Nelayan, pertanian dan perkebunan, dan perdagangan-industri.

 

Gugusan Kepulauan Seribu memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan berbagai macam industri, antara lain, pertambangan, perikanan, serta yang paling menonjol industri pariwisata. Namun, untuk menjaga kelestarian lingkungan serta keseimbangan ekologi, pemerintah membagi gugusan kepulauan ini menjadi tiga zona. Zona pertama diperuntukkan bagi eksploitasi sumber daya alam. Kekayaan alam yang terkandung di dalamnya bisa diambil dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk kepentingan industri. Misalnya saja terumbu karang mati yang dieksploitasi untuk kepentingan industri ubin teraso atau lainnya. Zona kedua adalah pulau-pulau yang khusus disediakan untuk taman nasional atau tujuan wisata alam. Zona ketiga ditentukan sebagai kawasan cagar alam yang dilindungi. Satu hal yang paling menonjol saat ini adalah pemanfaatannya untuk tujuan wisata.