Kembang Lambang Sari, Seni Tari

Kembang Lambang Sari adalah tarian Betawi kreasi baru yang diciptakan oleh Wiwiek Widiyastuti pada tahun 2000. Tari ini terinspirasi dari salah satu Lakon Bapak Jantuk dalam pentas teater rakyat Topeng Betawi, yang merupakan perpaduan dari tari, musik, bebodoran (lawak), dan lakon (drama). Topeng Betawi dimainkan dalam tiga segmen, yaitu segmen tari dan lawak, segmen lakon (drama), dan segmen Lakon Bapak Jantuk (LBJ). Cerita yang ditampilkan dalam LBJ adalah tentang keluarga batih (inti) Bapak Jantuk yang terdiri dari Bapak Jantuk sebagai tokoh utama, Ibu Jantuk, Jantuk, Teman Jantuk, dan Mertua Jantuk.  Tokoh Bapak Jantuk sendiri ditampilkan dengan sosok seorang laki-laki yang memakai topeng bermata sipit, kening menonjol ke depan dan pipinya tembem. Jalannya agak membungkuk dan memakai tongkat. Biasanya menggunakan kain ikat kepala, jas, celana pangsi, sarung, kedok dan tongkat. Pakem LBJ ini selalu sama dan dipentaskan berulang-ulang, yaitu kerukunan dalam keluarga. Bapak dan Ibu Jantuk kerap bertengkar karena hal yang sepele. Adegan cekcok di antara keduanya disampaikan dalam bentuk berbalas pantun, dan dialog inilah yang kemudian menginspirasi karya cipta tari Betawi kreasi baru Kembang Lambang Sari. Nama kembang sari sendiri diambil dari pengiring kesenian Topeng Betawi.

Lakon Bapak Jantuk yang kemudian diangkat dalam tari Kembang Lambang Sari adalah ekspresi kebahagiaan Bapak Jantuk dalam mengasuh anak meski kerepotan saat anaknya menghilang ketika bermain dengan teman-temannya. Kegembiraan Bapak Jantuk diungkapkan dengan bernyanyi, berbalas pantun dan juga menari. Rangkaian ekspresi inilah yang ditransformasikan ke dalam tatanan gerak tari Kembang Lambang Sari. Tari Kembang Lambang Sari dibawakan oleh para penari perempuan berusia muda hingga dewasa, biasanya berjumlah ganjil (1-3-5-7-9 orang). Gerakannya bervariasi, lemah gemulai kemudian sedikit lincah dengan iringan musik bertempo sedang hingga agak cepat. Busana yang dikenakan para penari terdiri dari kebaya ropen dengan variasi pola tiga warna di ujung lengan, bawahnya memakai kain batik khas Betawi. Bagian dada ditutup dengan toka-toka silang atau toka-toka variasi bulat yang dikalungkan di leher. Amprang, kain panjang dikenakan untuk menutupi bagian perut hingga bawah lutut. Tubuh bagian belakang ditutup dengan “andong” mulai pinggang hingga bawah lutut. Penari juga mengenakan ikat pinggang berbahan logam (pending) yang dimanfaatkan untuk mengaitkan selendang sebagai perlengkapan menari. Rambut dikonde cepol, mengenakan hiasan kepala, yang masing-masing ujungnya juga diberi hiasan gantung sehingga saat menari ikut bergoyang kesana-kemari sesuai gerakan kepala, sedangkan untuk menutupi wajah bagian depannya diberi rumbai. Musik pengiringnya adalah gamelan topeng yang terdiri dari sebuah rebab, sepasang gendang (gendang besar dan kulanter), satu ancak kenong berpencon tiga, sebuah kecrek, sebuah kempul yang digantungkan pada gantungan, dan sebuah gong tahang atau disebut juga “gong angkong”.