Kartini Kisam, Tokoh

Jika Kartini asal Jawa berjuang dalam emansipasi wanita, maka Kartini Kisam adalah pejuang budaya.  Kartini adalah anak H. Kisam Djiun-Nasah dan cucu dari Jiun-Kinang yang merupakan seniman tari topeng Betawi. Kakek dan neneknya merupakan generasi petama Topeng Cisalak. Bisa dikatakan darah seni mengalir deras pada Kartini. Wanita kelahiran Lahir di kampung Asem, Cijantung, Jakarta Timur, 5 Maret 1960 ini,  berkiprah dalam dunia tari baik tingkat nasional maupun internasional. Di Indonesia ia pernah tampil membawakan tari Topeng di Jawa, Bali, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan lainnya. Sedangkan di luar negeri pada 1981, Kartini tampil di Festival tari Hongkong membawakan tari Topeng Tunggal dan tari Gegot.

Kartini mengenal tari topeng betawi ketika berusia 10 tahun. Saat itu, ia kerap mengikuti kakek-neneknya, pasangan Jiun-Kinang, yang aktif mempertunjukkan tari tersebut di Jakarta dan Jawa Barat. Mak Kinang menjadi penari, sedangkan Jiun mengiringinya sebagai pemukul gendang. Mak Kinang dikenal sebagai maestro tari topeng betawi pada masa itu. Lakon hidup yang sama dijalani ayah dan ibunya, Kisam dan Nasah, sebagai generasi kedua pegiat seni tradisional Betawi itu. Sang ibu menari, sedangkan ayahnya memukul gendang. Namun, ibunya tak lama memainkannya karena sering sakit, hingga meninggal ketika Kartini  masih berusia 7 tahun.

Tidak memilih cara lain, Kartini kecil mulai melanjutkan warisan budaya itu. Pergelaran kesenian di Bandung, Jawa Barat, yang berlangsung tahun 1973, merupakan awal perjalanan panjang pilihan yang ia tekuni hingga kini. Saat itu, neneknyalah yang sedianya tampil menari. Namun, neneknya sakit sehingga batal hadir. Bermodal kepercayaan diri dan meyakini dirinya sebagai pewaris, Kartini tampil menggantikan Mak Kinang. Itulah penampilan pertamanya dalam sebuah pergelaran.

Jiwanya kian menyatu hingga menggeluti tari topeng dan terus menyebarluaskannya. Kesibukannya itu ia bayar: Kartini tak lagi mengikuti pendidikan di sekolah. Ia mengundurkan diri dan menekuni tarian topeng betawi, hingga akhirnya menjadi pengajar tari. Dalam perjalanan hidupnya, Kartini tak hanya menghibur masyarakat di Jakarta dan Jawa Barat, tetapi juga di sejumlah wilayah lain di Indonesia dan dunia.

Tahun 1981, ia pentas di Hongkong, kemudian Singapura (1985) serta Nigeria dan Mesir (1997). Saat ini, Kartini aktif mengajar seni tari di sejumlah sekolah. Meskipun tak tamat SD, ia mengajar mulai dari jenjang SD hingga perguruan tinggi. Ia juga menjadi dosen tamu di Universitas Negeri Jakarta dan Institut Kesenian Jakarta. Selain itu, ia juga mengajar di sejumlah sanggar seni dan Balai Kesenian Jakarta. Dalam seminggu, 4-5 hari ia mengisi hari dengan mengajar.

Pada tahun 2005, Kartini meraih Anugerah budaya dari Gubernur DKI Jakarta. Sedangkan pada 2008 Kartini mendapat gelar sebagai Maestro Topeng Betawi dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementrian dan Pariwisata Republik Indonesia.

Generasi penerus

Pada usianya kini, Kartini mulai menyiapkan generasi penerus. Ia tak menargetkan waktu kapan berhenti menari. Jika melihat pola pewarisan dua generasi sebelumnya, wajar apabila ada yang menebak anaknya yang akan menggantikan. Namun, ternyata hal itu tidak terjadi. Kartini menikah dengan Rachmat Ructhiyat tahun 1977 dan dikaruniai seorang putra, Iim Muharam. Iim tak bisa mewarisi tradisi tari keluarga yang mulai dimainkan Mak Kinang tahun 1920-an itu. Kartini pun fokus melatih di sanggar milik keluarga: Sanggar Seni Ratna Sari. Dia berharap, dari sanggar itu lahir generasi keempat. Dalam setahun, lebih dari seratus orang dilatihnya. Sanggar dikelola Sukirman, saudara kandungnya. Kini, ia membidik tiga keponakannya. Sesuai pesan Mak Kinang, Kartini harus mempertahankan dan menyebarluaskan seni itu sesuai pesan neneknya.  

Memainkan tari topeng butuh penghayatan tinggi. Dan, itu ia tekankan kepada anak didiknya. Penjiwaan adalah kunci. Tari topeng menggambarkan perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari melalui tiga motif topeng.

Pertama, topeng putih bernama panji. Panji adalah simbol kelembutan perempuan. Gerakan penarinya lemah lembut.

Kedua, topeng merah muda bernama sangga. Gerakan tangannya agak atraktif dan agresif dibandingkan panji. Gerakan itu melambangkan sikap wanita yang centil, genit, dan ingin selalu diperhatikan.

Motif topeng terakhir adalah raksasa merah tua bernama jingga.

Beberapa gerakan pada jenis ketiga ini antara lain mengepalkan tangan dan membuka kaki memasang kuda-kuda, yang menjadi simbol orang kuat dan angkuh. Tarian itu diiringi beberapa jenis alat musik, antara lain rebab, kenceng, kenong, kecrek, gong, dan gendang. Para pemainnya dinamakan panjak. Ritme musik sesuai motif topeng yang dipakai. Tari topeng biasa dimainkan pada beberapa acara orang Betawi, seperti khitanan, pernikahan, dan sedekah bumi. Kartini berharap, pengetahuan tentang tari topeng dibukukan agar bisa dipelajari generasi mendatang. Selain itu, tari tersebut juga bisa masuk kurikulum SD di Jakarta. ”Saya ingin semuanya bisa ditulis, tetapi saya tidak bisa menulisnya,” katanya. Kartini pun optimistis, warisan neneknya itu tidak akan hilang ditelan zaman. Meskipun untuk itu dia harus berjibaku menghadapi gempuran zaman yang serba digital dan modern.  

 

Nama : Kartini Kisam

Lahir : Kampung Asem, Cijantung, Jakarta Timur, 5 Maret 1960

Pendidikan : SD (tidak selesai)

 

Aktifitas Lain :

Pengajar dan Pemilik Sanggar Tari Sanggar Seni Ratna Sari,

Pengajar tamu Universitas Negeri Jakarta,

Pengajar tamu Institut Kesenian Jakarta,

Pangajar tari disejumlah sanggar seni,

Pengajar tari di Balai Kesenian Jakarta

                                           

Pencapaian :

Anugerah Budaya dari Dinas Kebudayaan, Gubernur DKI Jakarta (2005),

Anugerah Maestro Seniman Topeng Betawi dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan RI (2008)