Kartini, Perfilman

Film KARTINI adalah kisah nyata perjuangan Kartini, pahlawan wanita yang paling populer di Indonesia. Di Indonesia awal tahun 1900 Masehi, Wanita tidak diperbolehkan memperoleh pendidikan yang tinggi, bahkan untuk para Ningrat sekalipun. Wanita Ningrat Jawa saat itu hanya diharapkan menjadi Raden Ayu dan menikah dengan seorang pria Ningrat.  

Film yang rilis pada 19 April 2017, berdurasi 1 jam 59 menit ini, di Produseri Robert Ronny, di produksi Legacy Pictures Screenplay, di sutradarai oleh Hanung Bramantyo, dengan pemain pendukung: Dian Sastrowardoyo (R.A. Kartini), Acha Septriasa (Adik kandung Kartini, Roekmini), Adinisa Wirasti (Soelastri), Ayushita Nugraha (Adik kandung kartini, Kardinah), Deddt Sutomo (RM. Adipati Ario Sosroningrat, ayah Kartini), Djenar Maesa Ayu (Moeryam, ibu kartini), Rudy Wowor, Rebecca Soejati Reijman.

Kartini tumbuh dengan melihat langsung bagaimana Ibu Kandungnya, Ngasirah menjadi orang terbuang di rumahnya sendiri, diangggap pembantu hanya karena tidak mempunyai darah ningrat. Ayahnya, Raden Sosroningrat, yang mencintai Kartini dan keluarganya juga tidak berdaya melawan tradisi saat itu. Kartini berjuang sepanjang hidupnya untuk memperjuangkan kesetaraan hak bagi semua orang, dan hak pendidikan bagi semua orang, terutama untuk perempuan.

Bersama kedua saudarinya, Roekmini dan Kardinah, Kartini membuat sekolah untuk kaum miskin dan menciptakan lapangan kerja untuk rakyat di Jepara dan sekitarnya. Film Kartini ini adalah perjalanan penuh emosional dari sosok Kartini yang harus melawan tradisi yang dianggap sakral bahkan menentang keluarganya sendiri untuk memperjuangkan kesetaraan hak untuk semua orang di Indonesia.

Film Kartini ini, berfokus pada kisah dari pahlawan Nasional, Raden Ajeng Kartini. Usianya masih 10 tahun saat itu. Tapi keinginannya untuk sekolah tinggi, pintar, fasih berbahasa Belanda. Buku-buku dia lahap bahkan selalu dicatat dan didiskusikan jika menggelisahkan. Gurunya menyukai dia begitupun teman-temannya. Namun sayang, dia harus masuk pingitan di usia 12 tahun. Masuk pingitan berarti disiapkan untuk menjadi Raden Ajeng. Menjadi isteri seorang Bupati agar mewarisi keturunan ningrat. Sebagai anak keturunan Bupati ningrat dia harus mewarisi dan mewariskan darah ningratnya. Harus! Tapi dia berontak melawan. Akibatnya, dia dibenci oleh keluarganya meski ayahnya sangat mendukung, tapi adat telah menggariskan. Ayahnya tak berdaya.

Panggil aku Kartini saja, tanpa Raden Ajeng. Begitulah yang selalu dia katakan dihadapan adik-adiknya sebagai wujud pemberontakannya. Suatu ketika, seorang pejabat pedidikan dan kebudayaan Belanda tuan Ovink-Soer meminta RM Sosroningrat ( ayah Kartini ) untuk melonggarkan pingitannya. Maka dibukalah pintu Kadipaten lebar-lebar untuk Kartini. Diajaknya dia melawati ke daerah- daerah, bertemu dengan rakyat, pembesar dan pejabat. Kartini bahagia dan dia mendapatkan kebebasannya, meski masih dalam pantauan ayahnya. Rupanya kecakapan Kartini membuat jatuh hati Abendanon, pejabat pendidikan dan kebudayaan Batavia. Dari Abendanon, Kartini memperoleh tawaran bea siswa ke Belanda. Kartini sangat senang tapi, lagi-lagi ayahnya melarang.

Sebetulnya sang ayah sangat memahami keinginan Kartini. Apalagi RM. Sosroningrat dikenal sebagai seorang keturunan intelektual. Kakek Kartini dikenal sebagai Bupati yang memperjuangkan pendidikan untuk pribumi. Karenanya, melarang Kartini sekolah adalah hal yang bertentangan dari Sosroningrat. Tapi, Sosroningrat tak berdaya, Iia mendapat tekanan dari keluarga. Kakaknya, RM. Hadiningrat, Bupati Kudus, menganggap perlakuan Sosroningrat yang memberikan kelonggaran terhadap Kartini sudah melampaui batas. Karena itu, meski berat hati, Sosrokartono melarang Kartini mengambil beasiswa ke Belanda. Kartini lagi-lagi terluka, sebagai obatnya, Ia minta ijin ayahnya mendirikan sekolah buat perempuan. Ayahnya mengijinkan.  Kemudian bersama adiknya, Roekmini dan Kardinah, Kartini mendirikan sekolah.

Bersamaan dengan itu, pemerintah Belanda sedang ditekan oleh negara-negara Koloni Internasional untuk membuktikan manfaat kolonialisasinya bagi penduduk pribumi jajahan. Medadak Kartini menjadi salah satu sosok yang menjadi sorotan. Utusan dari Gubernur Jenderal Batavia datang ke Jepara mencari Kartini. Tujuannya adalah membawa Kartini ke Batavia, memfasilitasi keinginan Kartini termasuk bea siswa ke Batavia. Pintu kembali terbuka untuk Kartini. Namun keadaan sudah berubah, ayah Kartini sudah sakit-sakitan. Kartini enggan menambah pikiran ayahnya dengan keinginan-keinginannya.

Dilain pihak, kehadiran utusan Gubernur Jenderal ke Jepara membuat rasa cemburu banyak pihak. Khususnya RM. Hadiningrat, dengan berbagai macam cara, Hadiningrat mencoba menghalangi Kartini memperoleh kesempatannya. Dari menekan Sosroningrat (adiknya) secara politis, hingga mengirimkan surat lamaran menikah disertai ancaman untuk diguna-guna. Sosroningrat semakin tertekan yang mengakibatkan sakitnya makin parah. Kartini pun jadi bimbang. Jika dia memenuhi beasiswa ke Batavia maka dia akan meninggalkan ayahnya dalam keadaan tertekan oleh adat dan keluarga. Tapi jika dia menerima lamaran dari Hadiningrat, masa depannya dan sekolah perempuan yang dia dirikan bersama adik- adiknya akan karam.

Film ini menunjukkan ada dimensi perjuangan Kartini yg berbeda yaitu memilih pilihan yang sulit antara beasiswa atau menikah. Pada akhirnya karena wejangan Ibu Ngasirah, Kartini memilih untuk tetap tinggal di Indonesia tapi tidak melupakan cita-citanya

Beberapa penghargaan yang di raih Film ini antara lain:  penghargaan FFI 2017 untuk Pemeran Pendukung Wanita Terbaik (Christine Hakim), penghargaan Festival Film Bandung (FFB) untuk Pemeran Pembantu Wanita Terpuji Film Bioskop 2017 (Djenar Maesa Ayu), penghargaan Indonesian Movie Actors Award untuk Pemeran Pria Pendukung Terbaik  2018 (Deddy Sutomo), penghargaan Piala Maya untuk Aktris Pendukung Terpilih 2017 (Christine Hakim), penghargaan Indonesian Movie Actors Award untuk Pemeran Wanita Pendukung Terbaik 2017 (Christine Hakim)

Selain itu, Film Kartini pernah diputar di PBB untuk menunjukkan kepada berbagai negara di dunia mengenai perjuangan dan kemajuan perempuan Indonesia untuk mendorong emansipasi dan pemberdayaan perempuan, hal ini di sampaikan oleh Wakil Tetap RI untuk PBB, Dubes Triansyah Djani melalui keterangan pers nya, Selasa, 20 Maret 2018. Pemutaran film ini, bersamaan dengan pertemuan Commission on the Status of Women (CSW) ke-62 yang berlangsung selama dua minggu di Markas Besar PBB New York sejak 12 Maret 2018. Pemutaran film ini merupakan salah satu inisiatif PTRI New York di sela CSW62 untuk menyampaikan berbagai capaian nasional dalam mengatasi tantangan yang dihadapi perempuan melalui penguatan kerangka hukum, akses ekonomi, pendidikan dan kesehatan serta pemanfaatan IT.