Kali Mookervart, Kali Besar

Kali Mookervart (juga ditulis Mokervart) adalah sebuah saluran air di provinsi Jakarta yang menghubungkan Kali Angke dengan Ci Sadane di Kota Tangerang.[1][2] Saluran dengan diameter sekitar 25-30 meter ini dirancang oleh ahli hidrologi pada tahun 1678-1689 dan merupakan salah satu saluran penting dalam sistem pengendalian banjir kota Jakarta.

Kali Mookervaart asalnya dibangun pada tahun 1678 sampai 1689 untuk mengalirkan sepertiga aliran sungai Cisadane dan menghubungkannya dengan kanal-kanal di kota Batavia untuk menambah suplai air serta mengendalikan banjir. Pada tahun 1732 Gubernur Jenderal Diederik Durven memerintahkan pengerukan kanal supaya mensuplai lebih banyak air ke kota, tetapi ini menyebabkan banyak genangan air diam yang membawa penyakit mematikan, seperti malaria, yang meningkatkan angka kematian.[4] Selain itu, kanal itu juga meluap tinggi pada musim hujan, sehingga pintu air dibangun di bagian ujung atas sungai pada tahun 1770. Meskipun demikian, kali Mookervaart tetap memberi suplai air terbanyak untuk kota Batavia pada abad ke-18.  Kali Mookervaart panjangnya 13 kilometer (8,1 mi), dengan Daerah Pengaliran Sungai (DPS) seluas 67 km². Curah hujan harian rata-rata sebesar 132 mm, dan debit puncak 125 m³.

Sungai ini mengalir di wilayah barat laut pulau Jawa yang beriklim hutan hujan tropis (kode: Af menurut klasifikasi iklim Köppen-Geiger). Suhu rata-rata setahun sekitar 27 °C. Bulan panas adalah Maret, dengan suhu rata-rata 30 °C, and terdingin Mei, sekitar 26 °C. Curah hujan rata-rata tahunan adalah 3674 mm. Bulan dengan curah hujan tertinggi adalah Desember, dengan rata-rata 456 mm, dan yang terendah September, rata-rata 87 mm.

Kali yang dibangun di era kolonial Belanda untuk mengendalikan banjir di Batavia itu kini berwarna hitam pekat dengan gumpalan lumut hijau yang mengambang. Bau busuk bercampur anyir menguar dari tepian kali yang bersisian dengan Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat, menuju Tangerang itu. Kondisi kali di Kecamatan Cengkareng pun pemandangannya tak jauh beda. Di tepian kali sudah terjadi sedimentasi. Sampah plastik bercampur lumpur makin memperburuk kondisi kali. Terjadi pendangkalan Kali  karena sudah setahun tidak dilakukan pengerukan.

Kali Mookervart sebenarnya sudah dinormalisasi di era Gubernur Joko Widodo pada 2013 silam. Dua sisi kali dibangun sheetpile dari beton guna menahan tanah agar tak longsor ke sungai. Pada 2015, kali ditata lagi dengan membangun jalan inspeksi di era Gubernur Basuki Tjahaja Purnama. Saat ini, karena kodisi sudah dangkal, air kali dikhawatirkan meluap saat musim hujan. Pada Februari 2017 lalu, air Kali Mookervart sempat meluap, menggenangi permukiman warga menimbulkan bau tak sedap walau banjir tidak terlalu tinggi.  Endapan lumpur yang kian tebal di dasar kali itu kini menyulitkan aparat untuk  membersihkan kali dari sampah. Limbah industri yang berdiri di sepanjang Jalan Daan Mogot ikut mencemari Kali Mookervart. Beberapa pabrik bahkan sudah dikenai sanksi administrasi lantaran melanggar pengelolaan limbah. Limbah pabrik  membuat air kali berubah warna dan kepekatan.

Digali pada tahun 1678 hingga 1689, Kali Mookervart sedianya dibuat untuk menyuplai air bersih dari Kali Cisadane melalui Kali Angke ke Batavia yang di masa itu kesulitan mendapatkan air bersih. Oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang ke-22, Diederik Durven (memerintah pada tahun 1729–1732), kanal sepanjang 13 kilometer itu diperdalam untuk jadi pengendali banjir Batavia. (A-3)