Kali Item, Kali Besar

Kali Item hanyalah sebutan dari masyarakat sekitar yang tinggal di kawasan Sunter dan Kemayoran, Jakarta. Awalnya, aliran air ini adalah bagian dari Kali Baru Timur yang menjadi program pengendalian banjir dan perbaikan sungai Ciliwung Cisadane. Kali Item awalnya merupakan saluran irigasi yang dibangun untuk mengalirkan air dari Bogor ke Jakarta. Program ini dibentuk sejak pemerintahan Belanda saat menjajah Indonesia.

Aliran sungai ini berada di sepanjang sisi Jalan Raya Bogor, melalui Cimanggis, Depok, Cilangkap, sampai bermuara di daerah Kali Besar, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Pembentukan, sungai ini dahulu juga dimanfaatkan oleh pemerintahan Belanda sebagai jalur perlintasan untuk mengantar hasil panen dari Bogor ke Batavia. Karena bisa dilewati oleh Kapal ukuran sedang dan kecil, warga Jakarta pun menyebutnya dengan Kali bukan selokan. Sebutannya pun berbeda-beda untuk setiap wilayah yang dilintasi oleh aliran sungai tersebut. Untuk warga Jakarta Depok, sampai daerah Cijantung, Cililitan, Cawang, bahkan Cipinang, umumnya mengenal dan menyebut saluran ini sebagai Kali Baru Timur. Tetapi, warga Jakarta Pusat kerap menyebutnya Kali Paseban, Kali Bluntas, Kali Sentiong, atau Kali Murtado. Nama-nama itu mengacu pada nama kampung atau jalan di sekitar saluran. Perubahan nama Kali Sentiong pun semakin melekat dengan sebutan Kali Item lantaran warna air yang mengalir di sekitar wilayah itu berwarna gelap dan menimbulkan aroma tak sedap.

Kondisi Kali Item semakin diperparah karena pembuangan limbah rumah tangga dan pabrik kedelai langsung mengarah ke kali yang memiliki lebar 20 meter itu. Kesadaran hidup bersih dan menjaga lingkungan masyarakat sekitar pun masih lemah. Pada tahun 1980-1990-an, Kali Item dahulu banyak berdiri toilet umum yang dibangun oleh warga sekitar. Jumlahnya pun cukup banyak, hampir sepanjang Kali Item. Toilet umum itu diperuntukkan kebutuhan masyarakat buang hajat atau buang air besar, karena warga masih belum banyak yang memiliki MCK sendiri. Tetapi, ketika Pemerintahan Orde Baru di bawah komando Presiden Soeharto mengeluarkan kebijakan Prokasih (Program Kali Bersih) pada tahun 1990-an, fenomena buang hajat langsung ke Kali Item pun langsung dilarang.

Problem Kali Item memang sudah menjadi permasalahan sejak lama. Mulai dari Gubernur Jakarta Fauzi Bowo, Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama, Djarot Syaiful Hidayat sampai saat ini Anies Rasyid Baswedan. Letaknya yang berdekatan dengan Wisma Atlet tempat menginap para kontingen dan delegasi peserta Asian Games 2018 di Indonesia, membuat Kali Sentiong atau Kali Item, Kemayoran, Jakarta, menjadi tersohor. Airnya yang hitam dan aroma busuknya menjadi permasalahan yang harus diselesaikan Ibu Kota Jakarta sebagai salah satu tuan rumah Asian Games ke-18.

Bau tak sedap yang dihasilkan dari limbah rumah tangga dan pabrik kedelai itu kerap tercium di penginapan para atlet dari 45 negara peserta Asian Games 2018. Guna menjaga harga diri bangsa di mata dunia, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta pun melakukan upaya untuk mengurangi bau itu. Pemasangan kain waring atau jaring hitam di atas Kali Item menjadi salah satu strategi untuk meminimalisir aroma anyir.

Setelah Asian Games kain waring pun dicopot karena sudah banyak yang rusak berlobang. Pemda DKI Jakarta kemudian membangun turap dipinggir Kali Item.  Kali item sempat tercemar busa tebal yang disebabkan  operasional pompa air di Danau Sunter Selatan. Operasional pompa itu mengalirkan air dari Danau Sunter Selatan ke Kali Item. Pemasangan turap juga akan dilakukan dari Kali Grogol, Kali Sekretaris, Kali Sentiong, dan lainnya. Pemprov DKI mengalokasikan anggaran sebesar Rp369 miliar. Setelah pembangunan turap baru akan dilakukan pengerukan terhadap Kali. Gubernur Provinsi DKI Jakarta,

Dalam menyambut datangnya puncak musim hujan yang diprediksi datang pada bulan Januari 2019 mendatang. Tidak terkecuali menuntaskan proyek pembangunan waduk di beberapa lokasi. Kegiatan ini dilakukan melalui pengerukan sungai dan waduk, situ, embung, lalu perbaikan turap sungai dan saluran air, pembangunan tanggul sungai dan saluran air serta optimalisasi pompa. Anies Baswedan mengatakan normalisasi sungai dilakukan dengan percepatan pembangunan waduk sebagai kolam menampung air hujan di sekitar hulu. Sehingga aliran air ke hilir, volumenya dapat terkendali.