Kali Buaran, Kali Besar

Kali Buaran adalah sungai yang mengalir di Kota Bekasi, Jawa Barat, dan bagian timur Daerah Khusus Ibukota Jakarta, Indonesia. Bagian hilir sungai ditampung di Banjir Kanal Timur yang meneruskan hingga bermuara di kawasan Marunda, Cilincing, Jakarta Utara. Sungai ini sering menyebabkan banjir di Kota Bekasi dan Jakarta.

Kali Buaran di Jakarta panjangnya 18,87 kilometer (11,73 mi), dengan Daerah Pengaliran Sungai (DPS) seluas 13 km². Curah hujan harian rata-rata sebesar 158 mm, dan debit puncak 50 m³.

Sungai ini mengalir di wilayah barat laut pulau Jawa yang beriklim hutan hujan tropis. Suhu rata-rata setahun sekitar 28 °C. Bulan terpanas adalah September, dengan suhu rata-rata 31 °C, and terdingin Mei, sekitar 26 °C.[10] Curah hujan rata-rata tahunan adalah 3674 mm. Bulan dengan curah hujan tertinggi adalah Desember, dengan rata-rata 456 mm, dan yang terendah September, rata-rata 87 mm.

Kali Buaran terkait erat dengan Kali Cakung dan Kali Jatikramat. Ketiganya berkelok-kelok datang dari Bekasi dan saling terhubung hingga muara di Teluk Jakarta di kawasan Marunda melalui Cakung Drain. Dulu, ketiga sungai itu sumber air untuk persawahan, bahkan bisa diminum.

Sejak tahun 1966, Kali Buaran termasuk empat sungai yang dilintasi alur Saluran Tarum Barat atau yang lebih dikenal dengan nama Kalimalang. Kali Buaran dan Jati Kramat berada sekitar 5 meter di bawah saluran Kalimalang. Kalimalang melintang timur-barat melalui saluran yang dibangun khusus di atas alur Kali Buaran dan Jati Kramat.

Hingga sebelum tahun 1990 warga dapat mandi dan berenang di Kali Buaran. Memasuki tahun 1993 areal persawahan di sekitar rumah penduduk mulai hilang, berganti dengan permukiman, terutama sejak dibangun jalan layang yang menghubungkan Jalan Radjiman dengan Jalan Radin Inten II. Pembangunan jalan itu menghubungkan area Duren Sawit dan Pulogadung. Karena dekat dengan area industri Pulogadung, hunian di Kampung Warudoyong kini makin padat. Rumah semipermanen pun tumbuh di bantaran Kali Buaran. Sejak itu pula, wajah sungai itu menjadi kotor dan berwarna gelap.

Kali Buaran dan Kali Jati Kramat sering meluap dan menyebabkan banjir. Pada tahun 2007 luapan Kali Buaran nyaris merendam rel kereta di Stasiun Buaran yang berada 5 meter di atas sungai. Penelitian evolusi lahan di DKI Jakarta oleh Pieter J Kunu dan H Lelolterry, dosen pertanian Universitas Pattimura, Ambon, menunjukkan bahwa hal ini disebabkan karena pembangunan kota yang membuat 85 persen lahan di Jakarta kedap air, sehingga air permukaan tak lagi dapat diserap tanah dan akibatnya terjadi banjir.

Jalan keluarnya ialah menambah badan air buatan untuk menampung air permukaan, yaitu Banjir Kanal Timur. Kanal ini memotong Kali Cakung, Buaran, Jati Kramat, Sunter, dan Cipinang, merupakan upaya teknologi mengatasi banjir, memberikan ruang bagi air di timur dan utara Jakarta. Sejak terpotong kanal, aliran air kelima sungai yang datang dari hulu kini bermuara di Kanal Timur. Sementara alur kelima sungai setelah terpotong kanal digunakan sebagai drainase pembuangan dari saluran-saluran permukiman dan industri. Dengan adanya Kanal Timur, ada banyak permukiman terselamatkan dari banjir.

Kanal Timur mengubah bentuk Kali Jati Kramat, karena alur sungai ini tidak tampak lagi setelah terpotong Kanal Timur, meskipun pada peta lama tampak tersambung ke Kali Buaran sepanjang hampir 50 meter. Hanya alur Kali Buaran yang tampak tak mengalami perubahan. Lebar alur sungai itu nyaris sama, sebelum ataupun sesudah terpotong Kanal Timur, hingga alur itu bermuara di Cakung Drain.

Pada tahun 2016 dilakukan normalisasi Kali Buaran yang dimulai dengan meratakan bangunan-bangunan liar di sepanjang bantaran sungai.