Kali Angke

Kali Angke memiliki panjang kurang lebih 40 kilometer melintasi empat wilayah administratif yaitu, Kabupaten Bogor, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan wilayah Jakarta Barat. Kali ini berhulu di Kabupaten Bogor tepatnya di wilayah Semplak dan bermuara di Laut Jawa. Nama Angke sendiri berasal dari nama Pangeran Jayakarta II yaitu Tubagus Angke. Nama tersebut diubah maknanya oleh orang Tionghoa dalam bahasa Hokkian sebagai kali merah atau sungai darah setelah kejadian pemberontakan Tionghoa oleh VOC pada tahun 1740. Pada saat pemberontakan tersebut, VOC membantai orang-orang Tionghoa dan membuang mayatnya ke Kali Angke.

Pada jaman dahulu, Kali Angke dimanfaatkan sebagai akses transportasi air untuk mengangkut berbagai macam bahan bangunan, kayu, dan hasil bumi lainnya seperti gula. Di pinggir kali, banyak terdapat pemukiman imigran Tionghoa. Mereka lebih memilih untuk tinggal di pinggir Kali Angke ketimbang Kali Ciliwung karena Kali Angke lebih kecil dan tidak ditumbuhi kegiatan ekonomi kota.

Saat ini kondisi Kali Angke tidak seperti dulu, beberapa wilayah yang dialiri oleh sungai ini terkadang terendam banjir. Upaya pemerintah untuk mengatasi hal ini akan melakukan normalisasi Kali Angke dengan cara pemasangan sheet pile di tepian kali sejauh 7 kilometer. Memanjang mulai dari pompa air Angke Hulu sampai ke Cengkareng Drain di Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat.