Jawara Syahbandar, Seni Tari

Tari Jawara Syahbandar adalah tarian Betawi kontemporer yang baru saja menyabet gelar  Juara Umum Parade Tari Nusantara ke-38, yang diselenggarakan pada tanggal 10 Agustus 2019, di Teater Garuda, Taman Mini Indonesia Indah. Tidak tanggung-tanggung, lima kategori berhasil direbut oleh perwakilan Provinsi DKI Jakarta ini, yaitu Penata Tari Terbaik, Penyaji Terbaik Antar Pulau, Penata Musik Terbaik, Penata Rias dan Busana Terbaik, dan Penyaji Terbaik. Festival ini merupakan ajang bergengsi tingkat nasional yang diadakan setiap tahun oleh manajemen Taman Mini Indonesia Indah (TMII), bekerja sama dengan Badan Pengelola dan Pengembangan TMII, Dinas terkait, dan Anjungan Daerah yang ada di TMII. Jawara Syahbandar merupakan kolaborasi dari Christina Ambarwati selaku Penata Tari sekaligus Penata Rias dan Busana, serta Dede Sunarya sebagai Penata Musik.

Jawara Syahbandar menggambarkan kesibukan dan kehidupan para jawara tanah Betawi di Labuhan Kalapa atau Pelabuhan Sunda Kelapa sekarang. Jabatan Syahbandar saat itu dipegang oleh Wak Item atau Aki Tirem, yang dikenal jago beladiri dan memiliki senjata golok terbuat dari emas. Jurus silat yang dikuasai Wak Item adalah aliran syahbandar. Tugas utama Syahbandar adalah mengurus pabayaan atau kepabeanan. Untuk melaksanakan tugas sehari-hari Wak Item dibantu oleh sekitar 20 orang pegawai. Para jawara Labuhan Kalapa bersumpah setia untuk mengabdi kepada Wak Item. Mereka bertugas mengawal dan mendampingi Syahbandar guna menjaga dan mencatat keluar masuknya kapal-kapal dagang termasuk kapal asing. Para pengawal Wak Item ini sangat mumpuni dan ditakuti, namun mereka tetap menjaga kesolehan dan hidup dalam kesederhanaan. Labuan Kalapa termasuk pelabuhan penting karena merupakan pintu gerbang masuk ke Batavia, hingga banyak pihak yang ingin menguasainya. Namun Syahbandar dan para jawara yang mendampinginya mampu mengalahkan musuh-musuh mereka dalam mempertahankan Labuan Kalapa.

Christina menyadari bahwa ia tak akan mampu berkisah panjang lebar tentang kesibukan dan kehidupan para jawara Labuan Kalapa melalui gerak tari yang berdurasi hanya 7 menit. Ia pun memanfaatkan kemampuan para penarinya yang setara, dalam gerakan yang sederhana tetapi pas dan tegas. Para penari mengenakan busana jawara berupa baju dan celana pangsi warna hitam, bagian pinggang hingga batas lutut dibalut kain batik, ikat pinggang besar, dan ikat kepala dari kain (destar). Sarung yang dikaitkan pada ikat pinggang dan golok di pinggang kiri sekaligus berfungsi sebagai perlengkapan yang digunakan saat menari. Baju pangsi putih yang dikenakan Syahbandar menunjukkan identitasnya sebagai jago beladiri. Kesibukan di pelabuhan diperlihatkan oleh adegan memegang jaring penangkap ikan oleh dua orang jawara, disusul pemantauan kapal dengan teropong yang dilakukan oleh Syahbandar, tumpukan krat kayu di bagian belakang penari, dan adegan mengoper palet kayu dari satu penari ke penari lain. Di bagian penutup para penari mengusung sebuah kain panjang yang dibentuk menyerupai perahu.