Janger, Seni Tari

Tari Janger adalah salah satu tarian tradisional yang terpilih untuk memeriahkan acara pembukaan pesta olah raga terbesar di Asia tahun 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Beberapa tarian terpilih berada dalam kondisi kurang baik, terabaikan karena perkembangan jaman, dan ide mengangkat tarian tradisional ke pentas dunia seperti perhelatan Asian Games memberikan harapan baru. Tari Janger pernah mengalami kejayaan di sekitar tahun 1960-an lalu meredup, dan baru sekitar tahun 1970-an popularitasnya mulai naik kembali.

Tari Janger merupakan tari kreasi yang terinspirasi dari aktivitas para petani yang menghibur diri saat sedang lelah dengan cara menyanyi bersahut-sahutan. Tarian ini diperkirakan muncul sebelum tahun 1933,  tetapi ada pendapat yang menyebut tahun 1920 di daerah Bali Utara, dan ada juga yang mengatakan tahun 1906 di Banjar Kedaton. Dalam sebuah film bisu “The Legong: Dance of the Virgins” yang dibuat tahun 1933 dan dirilis tahun 1935, terdapat sejumlah penari perempuan dan laki-laki yang duduk mengelompok secara terpisah dengan posisi melingkar, menari sambil menyanyi seperti adegan pada tari Janger. Tidak lama kemudian dua penari muncul secara terpisah masuk ke bagian tengah lingkaran dengan kostum yang sama sekali berbeda. Ternyata tari Janger dalam video itu menjadi latar sebuah pertunjukan drama. Janger dengan bentuk drama tari seperti itu disebut Janger Berkisah atau Janger Malampahan.

Tari Janger merupakan pengembangan dari tari Sanghyang yang bersifat sakral dan hanya ditampilkan pada saat-saat tertentu. Tari Janger dijumpai di daerah Tabanan, Bangli (desa Metra), Badung (desa Sibang), dan Buleleng (desa Bulian), masing-masing dengan variasi yang berbeda. Janger dari Tabanan memiliki tokoh “Dag” yang berpakaian ala tentara Belanda dan bertugas memberi aba-aba kepada para penari. Janger dari desa Metra dikenal dengan nama “Janger Maborbor” yang bersifat sakral, di akhir tariannya terdapat ritual kesurupan, dan para penari yang kesurupan menari di atas bara api. Janger dari desa Sibang diiringi dengan “gamelang gong kebyar” sehingga dikenal juga sebagai Janger Gong. Janger dari desa Bulian dikhususkan untuk warga desa yang tunawicara.

Tari Janger diduga berawal dari sebuah kesenian tembang yang dibawakan dengan cara bersahut-sahutan oleh sekelompok muda-mudi. Pada perkembangannya kemudian Janger menjadi tari pergaulan yang dibawakan secara berpasangan dan berkelompok baik oleh remaja maupun orang dewasa. Penari perempuan disebut “Janger” yang  merupakan perkembangan dari “koor” perempuan, sedangkan penari laki-laki disebut “Kecak” perkembangan dari koor laki-laki. Dalam bahasa Belanda koor artinya paduan suara, dan tarian ini kebetulan lahir pada jaman pendudukan Belanda di Bali. Kedua kelompok menari sambil menyanyi hingga tarian selesai. Tembang atau nyanyian dibawakan dalam bahasa Bali secara bersama-sama atau bersahutan, bertema gembira sesuai dengan kehidupan remaja yang ceria. Kata “Janger” sendiri dapat diterjemahkan sebagai “keranjingan”, yang mengacu pada keadaan gila cinta atau jatuh cinta.

Gerakan dalam tari Janger memadukan unsur vokal dengan gerak tari, vokal dengan iringan atau disebut “ngigelin gending” (gerak tarinya sejalan dengan vokal yang dilantunkan), serta menari mengikuti nafas dan jiwa gending-gending (vokal). Gerakan dan syair yang dibawakan harus dapat terjalin harmonis serta serasi, terutama pola-pola ritme gending yang dilakukan secara bersahut-sahutan (saling “sinawuran”) dengan syair berisi pantun yang menggambarkan suasana gembira. Tari Janger gerakannya sederhana tetapi terlihat bersemangat karena pengaruh tempo musik dan cara menyanyikan lagu. Gerakannya diambil dari gerakan tari klasik Bali antara lain nayog, ngagem kanan, ngagem kiri, ngeseh bawak, dan nyeloyog. Unsur pencak silat yang dibawakan oleh penari laki-laki dalam posisi duduk memberi kesan berbeda pada tarian ini.

Busana tari Janger adalah pakaian tradisional Bali. Penari Janger mengenakan angkeb (penutup) dada, bawahan kamen prada, sabuk atau pending prada (ikat pinggang), sepasang oncer atau sampur (selendang), ampok-ampok, gelang kana, subeng, gelungan Janger dan bunga grengseng satu. Properti tari yang digunakan adalah kipas prada. Busana penari dilengkapi dengan tata rias wajah “rias ayu” yang bertujuan agar wajah terlihat lebih cantik. Penari kecak mengenakan baju atasan putih, bawahan kamen kekancutan, sabuk pendek prada, badong, gelang kana, angkeb tangkah, bapangan, dan udeng (ikat kepala). Musik pengiring berupa gamelan “batel” atau “tetamburan” yang terdiri dari satu pasang kendang kekrumpungan (kecil), satu buah kajar, satu buah gong pulu, satu buah klenang, satu buah cengceng ricik, satu buah suling, serta dilengkapi dengan sepasang gender wayang berlaras slendro (lima nada).