Imam Syafi'ie Alias Bang Pi'ie, Tokoh

Banyak jawara asal Betawi yang berjuang melawan penjajah, seperti si Pitung dan Sabeni. Ternyata, di luar nama itu ada juga jawara asal Senen, Jakarta Pusat, yang mungkin kurang dikenal di kalangan umum, yakni Kapten Imam Syafi'ie atau Bang Pi'ie.

Imam Sjafei yang lahir27  Agustus 1923 di Kampung Bangka, Kebayoran Baru, terkenal karena memobilisasi para pedagang kecil, buruh, preman, gelandangan dan pencopet di Senen. Dia mendirikan organisasi yang dinamakan OPI (Oesaha Pemoeda Indonesia).  Bang Pi'ie mengumpulkan para jawara dari berbagai tempat di Jakarta, bukan saja yang berasal dari Betawi. Boleh dibilang di Pasar Senen semua jawara atau preman berada di bawah pengaruhnya. Mereka menganggap Bang Pi'ie pemimpinnya.

Pasar Snees atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Pasar Senen merupakan pasar tertua yang ada di Jakarta yang dibangun sejak tahu 1735.  Pada saat Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan, Bang Pi'ie mengumpulkan para jawara. Mereka diajak bergabung dalam Pasukan Istimewa (PI) yang langsung di bawah komandonya. Berbagai pertempuran dilakukan pasukan ini di berbagai tempat di Jakarta yang sedang bergolak melawan pasukan Belanda, NICA. Banyak serdadu Belanda dan kaki tangannya yang mati di tangan Bang Pi'ie dan pasukannya. Seperti dalam pertempuran di wilayah Jakarta Pusat antara lain belakang bioskop Rex, bioskop Rialto--yang kini bernama Gedung Wayang Orang Senen, Kwitang, dan Gang Sentiong.

Setelah penyerahan kedaulatan pada awal 1950 karena banyak anggotanya yang tidak mendapat tempat di TNI, Bang Pi'ie menghimpun para pejuang kemerdekaan itu dalam organisasi Cobra. Pada masa itu, pria bernama Imam Syafi'ie itu yang berpangkat kapten merupakan perwira yang diperbantukan di Komando Militer Kota Besar Djakarta Raya (KMKBDR). Di organisasi Cobra, Bang Pi'ie mendidik anggotanya dengan disiplin. Anggota yang melakukan kejahatan akan ditindak tegas, dengan terlebih dulu menanyakan alasan dia berbuat kejahatan.

Jika alasan anggotanya melakukan kejahatan karena tidak memiliki pekerjaan dan modal, maka Bang Pi'ie pun memberikan modal usaha. Untuk itu, Bang Pi'ie tak segan-segan meminta bantuan tauke Tiongkok. Namun, bila anggota tersebut sudah mendapat bantuan modal kembali melakukan kejahatan, Bang Pi'ie tak akan memberi ampun. Biasanya dengan memukul menggunakan  buntut ikan Pari yang berduri tajam dan bergerigi. Hukuman ini lebih baik bila dibandingkan dipukul dengan tangan, karena konon tangan kiri Bang Pi’ie merupakan pukulan maut.  Sekuat apa pun seseorang  tidak akan tahan menghadapi pukulan tangan kirinya.

Keberhasilan Cobra membantu aparat keamanan mengamankan Jakarta, tak lepas dari pendekatan Bang Pi'ie, terutama kedekatannya dengan ulama, yang pada kala itu tokoh yang disegani di Betawi. Adanya foto Bang Pi'ie biasanya merupakan jaminan toko tersebut tidak ada yang berani mengganggu. Tugas berat Bang Pi’iie adalah  menumpas kejahatan di Jakarta yang kala itu rawan,  negara dalam keadaan darurat perang (SOB). Para preman di Jakarta pada masa itu benar-benar tidak berkutik dengan keberadaan organisasi Cobra. Seperti seorang yang kehilangan atau kecopetan di suatu tempat, ia dapat mengadukan ke tokoh masyarakat setempat. Lebih-lebih terhadap para ulamanya.

Pada masa itu memang hubungan antara ulama dengan para jagoan tidak konfrontatif. Bahkan, banyak jawara Betawi yang mendapat ilmu kanuragan dari para ulama.
Kedekatan Bang Pi'ie dengan para ulama dapat dilihat dari hubungannya dengan Majelis Taklim Kwitang. Meskipun sampai akhir hayatnya belum sempat menjalankan rukun Islam kelima, Bang Pi'ie sudah memberangkatkan belasan temannya ke Tanah Suci.

Syafi'ie  merupakan anak Betawi kelahiran Pejaten, Jakarta Selatan, dan besar di Senen disebut-sebut juga pernah menikahi bintang film cantik era 1950-1960, Ellya Rosa. Lulus Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SSKAD) 1958 dengan pangkat Letkol, Syafi'ie yang memiliki 16 anak sering mengawal perjalanan Presiden Sukarno.

Oleh Bung Karno, Bang Pi'ie pernah ditawari jabatan Komandan Cakrabirawa, tapi ia menolak. Mungkin karena keberhasilannya mengamankan Kota Jakarta, pada 24 Februari 1966, Bang Pi'ie oleh Bung Karno dilantik sebagai Menteri Pertahanan Nasional dalam Kabinet Dwikora yang disempurnakan. Namun, setelah kabinet ini dibubarkan Soeharto melalui Supersemar pada 11 Maret 1966, Bang Pi'ie diburu. Semua tempat tinggalnya dan keluarganya selalu diperiksa. Bang Pi'ie kemudian ditahan tanpa pengadilan. Ketika dibebaskan dari tahanan militer, Bang Pi'ie sakit parah hingga mengembuskan napas terakhir pada 9 September 1982 pada usia 59 tahun.