Hikayat Asal Mulanya Wayang (1889-1890)

Menurut Katalogus van Ronkel (1909: 22), naskah ini berjudul “Wayang “Pandu””. Nomor naskah ML. 241, berukuran 33 x 21 cm, berjumlah 282 halaman, setiap halaman berisi 18 baris, ditulis dalam huruf Jawa dengan tinta hitam. Pada halaman 160, terdapat penanggalan yaitu tanggal 8 Juli 1889 atau 8 Zulkidah 1306 hari Sabtu. Dalam cerita, tanggal ini merupakan tanggal undangan penyelenggaraan sayembara yang diadakan oleh Raja Basmak untuk ketiga puterinya. Mengingat kebiasaan Muhammad Bakir mencantumkan tanggal pada berbagai naskah yang ditulisnya, maka penanggalan ini dapat dianggap sebagai permulaan atau pertengahan ia mengarang cerita Hikayat Asal Mulanya Wayang.

Pada halaman terkahir, terdapat kalimat yang berbunyi,

Maka Abiyasa pun berjalanlah dengan suka’ hatinya mendapat menantu tiga para puteri, demikian juga Lurah Semar dan Garubuk / (281) itu lalu menujulah ke dalam negeri Astina. Maka tiada berapa lamanya sampailah ia di dalam negeri Ngastina lalu disambutnya ole segala rakyat dan barisan itu. Maka ibu suri pun sangat suka’ hatinya tiada terkira-kira. Maka sampai di sinilah berhenti ceriteranya. Jika hendak mendengar yang lebi ada pada lain goresan, tetapi ini ceritera saya hendak panjangkan yang lebi panjang karena dipendekkan ceritanya sebab nukil hendak dicepatkannya supaya bole jadi lekas perkhabaran dan supaya jangan menjadi hilang, lebi-lebi banyak maklum di atas hamba yang mengarang Muhammad Bakir Sofian bin Usman al Fadli Kampung Pecenongan adanya.