Harmonium, Seni Musik

Harmonium adalah alat musik sejenis orgel asal Eropa yang masuk melalui India dan menyebar ke banyak negara. Bentuknya seperti balok kotak terbuat dari kayu dengan tuts yang nadanya menyerupai piano. Dalam sejarah perkembangan musik di Indonesia, harmonium pernah sangat berpengaruh khususnya di semanjung Melayu, di antaranya daerah pantai Sumatera dan pulau-pulau sekitarnya, semenanjung Malaysia, kepulauan Riau, pantai laut Kalimantan Barat, dan Jakarta (Betawi). Tari Ronggeng Melayu, musik dan tari Chalti yang diadaptasi oleh pekerja seni Kesultanan Serdang dan Deli dari seni Ronggeng Melayu, serta seni musik Melayu yang merupakan cikal bakal musik Dangdut adalah sebagian di antara jenis kesenian yang menggunakan harmonium sebagai salah satu instrumen musik pengiringnya. Etnis Melayu yang merantau ke Betawi kemudian memperkenalkan harmonium, dan dalam perkembangannya menjadi salah satu instrumen yang dimainkan pada pertunjukan musik Samrah. Termasuk pertunjukan Wayang Dermuluk yang diiringi Orkes Samrah atau Harmonium. Saat ini pemakaian harmonium sebagai instrumen musik sudah sangat jarang.  Kelompok musik yang masih menggunakan harmonium sebagai instrumen musik adalah  Katumbak dari daerah Pariaman (Sumatera Barat), dan musik Melayu Ghazal dari Kepulauan Riau.

Harmonium tergolong alat musik aerofon, yaitu alat musik yang sumber suaranya dari udara. Harmonium dibunyikan dengan menekan tombol pembuka lidah-lidah pada tuts keyboard melalui tangan kanan, menggunakan getaran angin yang dipompa melalui tangan  kiri. Alat musik ini dimainkan dengan cara duduk. Dalam perkembangannya, setelah kemunculan akordion yang lebih fleksibel karena bisa dimainkan sambil bergerak, berdiri maupun duduk, perlahan harmonium mulai ditinggalkan, termasuk pada musik Melayu pengiring tarian Melayu. Harmonium selain sebagai instrumen untuk berkesenian yang sifatnya menghibur, juga menjadi pengiring berbagai prosesi ritual dalam agama Hindu, seperti pada sekte Waisnawa Hare Krishna.