Greget Jawara, Seni Tari

Tari Greget Jawara adalah tari Betawi kreasi baru ciptaan Fitria Sawfini, alumni Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung.  Nama tarian ini diambil dari dua kata, yaitu “greget” dan “jawara”. Kata “greget” memiliki arti keinginan yang kuat dan mendalam, sedangkan kata “jawara” berarti pejuang atau pemenang. Tari Greget Jawara hanya dibawakan oleh penari perempuan secara berkelompok, yang terdiri dari lima sampai dengan delapan penari perempuan, tetapi bisa juga lebih karena tidak ada pembatasan jumlah. Gerakan tari Greget Jawara terinspirasi dari keanggunan dan kekuatan seorang perempuan Betawi. Tarian diawali dengan gerak lemah gemulai bertempo lambat merepresentasikan sifat perempuan yang penuh kelembutan, manja, dan lincah. Musik kemudian agak menghentak, mengiringi gerak tubuh penari yang mulai memperlihatkan ketegasan. Tarian ini mengambil unsur-unsur gerakan silat yang dimaksudkan untuk menyampaikan pesan bahwa perempuan juga bisa kuat dan perkasa. Gerakan di segmen ini bisa bervariasi, misal dua penari perempuan berhadapan beradu gerak lalu saling melempar kipas yang dapat ditangkap dengan sangat baik oleh masing-masing penari, atau adegan mengangkat salah satu penari yang mengembangkan kedua kipas di tangannya oleh dua orang penari lainnya. Tari kreasi pada dasarnya bisa disesuaikan dengan keinginan koreografer, tetapi tidak boleh meninggalkan esensi tarinya itu sendiri yang menjadi nafas dari keseluruhan gerak dan musik pengiringnya. Ada juga variasi gerakan silat yang dilakukan sambil duduk. Gerakan penutup pada tari Greget Jawara memperlihatkan gabungan unsur kekuatan dan kelembutan yang ada dalam diri seorang perempuan Betawi. Tari Greget Jawara secara keseluruhan mengkonsentrasikan gerakan di bagian kaki, tangan, dan pinggul yang dilakukan secara harmonis sesuai dengan iringan musiknya.

Busana penari Greget Jawara adalah kebaya kurung khas Betawi berwarna cerah dengan kombinasi pola tiga warna di bagian siku. Bawahan bisa menggunakan kain batik Betawi yang dibentuk menyerupai rok, atau celana panjang berbahan sama dengan kebayanya. Toka-toka berupa kain melintang di bagian dada, atau toka-toka model teratai dan variasi lainnya yang berfungsi untuk menutupi dada.  Ampreng yang dikenakan di perut untuk menutupi badan bagian bawah hingga lutut, serta andong untuk menutupi bagian panggul. Selendang sebagai perangkat menari  disangkutkan pada ikat pinggang (pending) yang biasanya terbuat dari logam. Rambut para penari dikonde cepol ke atas, dan memakai hiasan kepala berupa bunga yang dibentuk seperti mahkota serta terkadang diberi rumbai. Riasan wajah menggunakan warna cerah pada bagian kelopak mata, pipi, dan bibir. Setiap penari membawa kipas besar sebagai properti tari yang biasanya disangkutkan di pinggang jika tidak sedang digunakan.

Musik pengiring tari Greget Jawara adalah campuran alat musik tradisional Betawi, Jawa, dan modern. Terdiri dari rebana biang, rebana ketimpring, gendang, kenong, saron, dan cymbals (komponen drum). Uniknya rebana dan gendang tidak dipukul langsung dengan tangan tetapi menggunakan alat pemukul khusus (stick). Pemain musik bisa lelaki atau perempuan.