Greget Jantuk, Seni Pertunjukan

Greget Jantuk merupakan sebuah drama musikal dengan durasi singkat yang terinspirasi dari Topeng Betawi, khususnya segmen akhir yang menampilkan seorang tokoh bernama Bapak Jantuk. Serupa dengan teater rakyat Topeng Betawi, Greget Jantuk juga mengandung unsur tari, koreo, dialog, dan musik. Dalam sekali pementasan jumlah pendukungnya bisa mencapai hingga ± 20 orang. Teater kontemporer ini adalah karya Christiano Rae yang awalnya dibuat sebagai syarat kelulusan untuk meraih gelar sarjana di jurusan Seni Tari, Universitas Negeri Jakarta. Entong Kisam, keturunan Djiun dan Kinang seniman topeng legendaris Betawi, yang juga ayah dari Christiano Rae bertindak sebagai pengarah. Greget Jantuk dipentaskan untuk pertamakalinya pada tanggal 19 Mei 2015 di Teater Pewayangan Kautaman, TMII. Bulan berikutnya Greget Jantuk kembali digelar dalam uji coba Teater Terbuka Zona A di kawasan Pusat Perkampungan Budaya Betawi (PPBB) Setu Babakan. Sukses yang dituai kemudian membawa pertunjukan Greget Jantuk pada ajang Pertunjukan Rakyat Tingkat Nasional 2016 di Bandung, Jawa Barat, yang ditampilkan oleh Sanggar Cipta Budaya dari Jakarta Timur, dan mendapat pengakuan para juri dengan hasil sebagai Juara II.

Kerinduan sebagian masyarakat yang masih mencintai seni pertunjukan tradisional terobati dengan kehadiran teater rakyat kontemporer Greget Jantuk. Seni pertunjukan Topeng Betawi saat ini dianggap sudah mulai kehilangan nilai sakralnya dengan menghilangkan tokoh Bapak Jantuk, yang melalui penampilannya kerap memberi wejangan tentang nilai-nilai kehidupan. Lakon Bapak Jantuk adalah segmen akhir Topeng Betawi yang biasanya tampil sekitar pukul 02.00 – 03.00 setelah lakon utama selesai dipentaskan. Dini hari dianggap sebagai waktu yang tepat untuk memberikan pelajaran hidup dan perenungan melalui tokoh Bapak Jantuk dengan cara menari, menyanyi, berpantun, bermonolog, dan dialog. Pertunjukan wayang kulit juga kerap menempatkan bagian goro-goro disusul adegan para tokoh kebaikan mengalahkan para tokoh kejahatan saat menjelang pagi.

Lakon Bapak Jantuk bercerita tentang keluarga batih (inti) Bapak Jantuk yang terdiri dari Bapak Jantuk, Ibu Jantuk, Jantuk, Teman Jantuk, dan Mertua Jantuk.  Pakem lakon ini selalu sama dan dipentaskan berulang-ulang, yaitu kerukunan dalam keluarga. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari lakon ini, baik bagi mereka yang baru akan menikah, atau sudah berkeluarga. Dahulu calon pengantin di Betawi diharuskan menonton lakon Bapak Jantuk, yang membawa pesan agar dalam menjalani hidup berkeluarga jangan mudah marah hanya karena hal sepele demi kerukunan. Wajar selalu ada masalah dalam keluarga, tetapi harus diselesaikan dengan baik agar tidak berujung pada perceraian.

Greget Jantuk juga mengambil kisah Bapak Jantuk dengan problem keluarga yang sebenarnya sepele tetapi menyebabkan perceraian di antara mereka. Kisahnya antara lain tentang hilangnya kepala ikan peda kesukaan Bapak Jantuk karena dimakan kucing. Kekesalan dilampiaskan kepada sang isteri yang memicu pertengkaran dan berujung pada perceraian. Selama berpisah Bapak Jantuk merasa kesepian dan rindu pada anak serta istrinya. Di akhir cerita Bapak dan Ibu Jantuk kemudian rujuk kembali untuk membina keluarga.  Inti setiap cerita Jantuk adalah jangan sampai persoalan kecil dalam rumah tangga menyebabkan perpisahan. Pentas Greget Jantuk diawali oleh tarian kontemporer dengan unsur-unsur gerakan pencak silat dipadu tarian Betawi yang dibawakan oleh beberapa penari secara berpasangan. Ada kesan jenaka dalam gerak tariannya. Tokoh Jantuk tampil sesuai pakemnya, yaitu mengenakan topeng pada setengah bagian wajah yang diberi karet di tengahnya untuk dikenakan di kepala. Pakain yang dikenakan adalah pakaian sehari-hari dilengkapi dengan sarung dan ikat kepala khas Betawi. Tokoh Ibu Jantuk tampil dengan kebaya dipadu kain batik khas Betawi. Drama penuh canda dan tawa pun kemudian mengalir lancar. Musik pengiring Teater kontemporer Greget Jantuk adalah “gamelan topeng” yang terdiri dari sebuah rebab, sepasang gendang (gendang besar dan kulanter), satu ancak kenong berpecon tiga, sebuah kecrek, sebuah kempul yang digantungkan pada gantungan, dan sebuah gong tahang atau gong angkong.