Godeg Ayu, Seni Tari

Tari Godeg Ayu merupakan tari kreasi baru yang berpedoman pada kesenian Topeng asli Cisalak. Koreografernya adalah Wulandari S.Sn. dari Sanggar Tari Ayodya Pala. Tarian ini menggambarkan berbagai perubahan dalam kehidupan seorang gadis yang menginjak usia dewasa. Dalam upaya pencarian jati diri, mereka tak lepas dari kodratnya sebagai perempuan muda dengan segala problematikanya. Keceriaan masa muda, harapan membuncah, dan semangat untuk menggapai cita-cita yang seringkali diselingi masalah cinta. Konflik dan dilema yang menjadi tantangan dalam kehidupannya sebagai seorang perempuan muda, disikapi dengan semangat serta sikap optimis. Konsep ini kemudian direpresentasikan dalam rangkaian gerakan tari yang lincah dan penuh semangat dengan tempo cepat di beberapa bagian. Gerakannya memadukan gerak tari Betawi dan Sunda, begitu juga musik pengiringnya yang terdengar agak berbeda. Musik dalam tari Godek Ayu ditata oleh Imam Firmansyah, S.Sn., MSn., sedangkan aransemennya dibuat oleh Entong Sukirman, dan pemain musik dari Sanggar Ratna Sari.

Tarian ini dibawakan secara berkelompok dengan jumlah penari bervariasi. Saat memasuki panggung, para penari membawa topeng asli buatan Cisalak, yang kemudian dikenakan begitu tarian akan dimulai. Topengnya berwarna putih polos tanpa ada guratan selain mata yang dibuat dalam keadaan setengah terbuka, hidung, dan mulut. Tampilan topeng tanpa ada guratan atau polesan warna lain seolah mencerminkan usia muda yang energik. Setelah berlenggak-lenggok dengan tempo yang bervariatif, di sepertiga bagian terakhir tarian, para penari berjajar membelakangi penonton untuk melepas topeng dan menyiapkan kipas besar di kedua tangan. Busana yang dikenakan penari berupa kebaya dan celana panjang. Toka-toka yang diikatkan di leher berlapis dua, bagian bawah berbentuk lingkaran, sedangkan lapisan atasnya persis di bagian tengah berbentuk persegi yang memanjang hingga ke bagian perut. Ampreng tumpuk yang memanjang hingga di bawah lutut dikenakan di pinggang untuk menutup bagian perut. Andong untuk menutupi panggul dan tubuh bagian belakang juga memanjang hingga bawah lutut. Selendang disangkutkan di ikat pinggang sebagai aksesoris busana. Rambut dikonde cepol. Bagian kepala mengenakan hiasan semacam “kembang topeng” dengan bentuk yang memperlihatkan begitu kuatnya pengaruh budaya Tionghoa dalam tarian Topeng.