Gita Irawan Wirjawan, Tokoh

Gita Irawan Wirjawan lahir  di Jakarta,  21 September 1965  anak dari pasangan Wirjawan Djojosoegito dan Paula Warokka Wirjawan. Gita Wirjawan dikenal sebagai  pengusaha  sukses. Pada sekitar tahun 2008, Gita mendirikan sebuah perusahaan bernama Ancora Capital (tempo) yang merupakan perusahaan investasi pada bidang sumber daya dan juga pertambangan. Perusahaan tersebut didirikannya setelah Gita mundur dari jabatan sebagai Presdir (Presieden Direktur) JP Morgan Indonesia pada tahun 2006 hingga tahu 2008.

Gita Wirjawan menempuh pendidikan S1 di Texas, tepatnya di University of Texas yang terletak di Amerika Serikat, sewaktu kuliah tersebut ia berkerja paruh waktu di restoran cepat saji guna mengasah bakat wirausaha atau enterpreneurnya, setelah lulus dari sana kemudian ia menempuh kuliah S2 pada Baylor University di tahun 1989 dan mengambil fokus jurusan administrasi bisnis. Setelah Gita Wirjawan lulus dari pendidikannya tersebut, dia kemudian memulai karirnya  di Citibank. Di tahun 1999, Gita Wirjawan  melanjutkan kuliah lagi mengambil program S2 untuk kedua kalinya di Universitas yang berbeda yaitu di Harvard University dengan jurusan public administration dan lulus pada tahun 2000. Riwayat pekerjaan Gita Wirjawan bisa dibilang sukses karena setelah menggali pengalaman di Citibank, dia melanjutkan karirnya dengan bekerja di ST Telekomunikasi di Singapura hingga tahun 2006. Setelah itu, dia menjabat sebagai direktur utama sebuah perusahaan JP Morgan Indonesia.

Gita Wirjawan kemudian mundur dari perusahaan JP Morgan Indonesia dan mendirikan sebuah perusahaan yang dibesutnya sendiri yakni Ancora Capital. Di perusaahaannya ini, Gita Wirjawan membuktikan bahwa dia memang benar-benar cocok di bidang finansial. Hanya dalam jangka waktu beberapa bulan ssaja, Gita Wirjawan telah berhasil mengambil alih beberapa saham di perusahaan besar seperti PT Bumi Resources, Perusahaan Apexindo Pratama Duta, Perusahaan Multi Nitrat Kimia, Perusahaan property yang ada di Bali, dan juga beberapa perusahaan properti yang ada di Jakarta.

Gita Wirjawan juga merupakan seorang pecinta musik, terutama musik yang beraliran Jazz. Dia mendirikan sebuah rumah produksi musik yang diberi nama Omega Pacific Production. Rumah produksi musik ini pun  cukup sukses. Kesuksesan rumah produksi musiknya tersebut ditandai dengan produksi album jazz untuk seorang pianis Nial Djuliarso, Bali Loungue yang divokalisi oleh Tompi, dan Jazz Cherokee. Yang lebih hebat, ada beberapa lagu yang ditulis serta diaransemen dengan tangannya sendiri. Selain musik, Gita Wirjawann juga merupakan seorang pecinta olahraga golf. Rasa sukanya pada golf ditunjukkan dengan didirikannya sebuah sekolah golf yang diberi nama Ancora Golf.

Karir Gita Wirjawan sepertinya tak berhenti pada bidang usaha dan musik saja. Pada tanggal 11 November tahun 2009, dia secara resmi bergabung bersama Kabinet Indonesia Bersatu yang ditunjuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Gita Wirjawan mendapatkan jabatan sebagai BKPM atau Badan Koordiniasi Penanaman Modal sebagai ketuanya. Dengan jabatannya dia bertugas membenahi segala permasalahan yang berhubungan dengan investasi di Indonesia.

Pada tahun 2011 Gita Wirjawan diangkat sebagai Menteri Perdagangan di Kabinet Indonesia Bersatu II menggantikan menteri sebelumnya. Pada tanggal 31 januari 2014 Gita wirjawan memutuskan untuk mengundurkan diri sebagai menteri perdagangan karena akan berkonsentrasi pada pencalonannya sebagai calon presiden 2014 untuk Indonesia yang di usung oleh partai demokrat. Namun Gita Wirjawan batal maju menjadi Capres.

Pada tanggal 4 Desember 2012, Gita Wirjawan terpilih sebagai Ketua Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia, “PBSI”, untuk periode 2012-2016. Gita Wirjawan menetapkan tujuan untuk mengembalikan kejayaan Indonesia dalam kancah bulu tangkis dunia, sebagaimana pernah terjadi pada tahun 1970an and 1980an. Ia mengundang mantan pemain-pemain bulu tangkis legendaris seperti Susi Susanti, Rexy Mainaky, Rudy Hartono and Tan Yoe Hok untuk terlibat aktif di organisasi ini. Untuk memastikan bahwa atlet-atlet bulu tangkis ini tetap mendapatkan pendidikan formal selama berlatih, Gita Wirjawan menyediakan sarana belajar untuk atlet di pusat pelatihan.

Gita Wirjawan memulai perbaikan PBSI dari penyederhanaan struktur organisasi yang lebih fokus pada urusan pembinaan prestasi, kaderisasi daerah, dan pengurusan dana. Gita sadar betul urusan prestasi dan dana pun berkolerasi erat. Dalam kepengurusan sebelumnya PB PBSI hanya menganggarkan dana sekitar Rp40 miliar pertahun. Kini, di era kepemimpinan Gita dianggarkan dana pembinaan dua kali lipat, sekitar Rp90 milar per tahun.

Terkait kesejahteraan atlet, PBSI di tangan Gita Wirjawan menampilkan langkah positif. Jika dulunya pembagian sponsorship adalah 50:50 antara PBSI dan atlet, sekarang sistem ini diubah. Hampir tiap tahun puluhan atlet Pelatnas mengikuti bidding sponsorship yang disesuaikan oleh prestasi atlet itu sendiri. 

Duet semifinalis Olimpiade London, Tontowi Ahmad - Liliyana Natsir masih dipertahankan. Mereka memiliki kelebihan dengan usia dan pengalaman yang semakin matang. M. Ahsan yang gagal bersaing di Olimpiade 2012, 'diceraikan' dari pasangannya Bona Septano. Ia bertandem dengan Hendra Setiawan, peraih medali emas Olimpiade Beijing 2008 silam di nomor ganda putra.

Kombinasi kedua pasangan tersebut melahirkan sederet prestasi gemilang bagi bulu tangkis nasional. Pasangan M. Ahsan - Hendra Setiawan menjadi juara dunia 2013 dan 2015, serta meraih medali emas Asian Games 2014 dan All England di tahun yang sama.

Demikian pula dengan Liliyana Natsir - Tontowi Ahmad. Gagal di Olimpiade 2012, mereka segera menjawabnya dengan meraih juara dunia 2013 serta medali perunggu 2015 silam. Selain itu mereka berhasil mempertahankan gelar All England 2012 silam dengan mencetak hat trick pada tahun 2013 dan 2014. Di ajang multi event, Butet (sapaat Liliyana) dan Tontowi meraih medali perak Asian Games 2014, serta puncaknya medali emas Olimpiade 2016 lalu.

Selain kedua ganda diatas, periode kepemimpinan Gita diwarnai kebangkitan wakil dari ganda putri (Greysia Polii - Nitya Krishinda Maheswari) . Pasangan ini dalam dua tahun terakhir langgeng di posisi lima besar dunia. Sejak tahun 2013 prestasi mereka menanjak dengan menjadi peraih medali emas Asian Games 2014, Medali Perunggu Kejuaraan Dunia 2015, serta dua kejuaraan Super Series (Korea Open 2015 dan Singapore Open 2016).

Hanya di nomor tunggal putri menjadi ganjalan  kepemimpinan Gita. Tak ada satupun medali yang dikoleksi di ajang Asian Games dan Olimpiade. Demikian halnya gelar di level individu bertajuk Super Series dan Grand Prix. Prestasi terbaik di raih Lindaweni Fanetri yang mendapatkan medali perunggu pada Kejuaraan Dunia 2015 di Jakarta lalu. Bahkan Firdasari Adrianti yang menjadi juara Indonesia Open Grand Prix Gold 2014 justru mendapatkannya ketika sudah 'ditendang' dari Pelatnas PBSI.

Selama kepemimpinannya, Indonesia sudah memenangkan dua medali emas di Kejuaraan Dunia di Guangzhou, Cina tahun 2013, 2 gelar All England di setiap tahun 2013 dan 2014, juara umum di Southeast Asian Games 2013, 2015, 2 gelar juara pada 2014 Asian Games di Incheon, Korea Selatan dan 1 gelar juara pada Olimpiade Musim Panas 2016 di Rio de Janeiro, Brasil.

Pada bulan Juli 2013, Gita Wirjawan dianugerahkan gelar kehormatan 'Sangaji Gam Ma Lamo' dari Sultan Ternate Maluku Utara, untuk jasanya melestarikan budaya dan warisan lokal.  Di bulan Desember 2013, ia menerima gelar doktor honoris causa dalam bidang administrasi niaga dari Naresuan University di Phitsanulok, Thailand sebagai pengakuan atas jasanya dalam membangun ekonomi dan mendukung masa depan pemuda di Indonesia.  Ia dianugerahkan gelar kebangsawanan ‘KRT Djojonegoro’ dari Keraton Pakualaman, Surakarta, pada bulan January tahun 2014 untuk sumbangan aktifnya dalam melestarikan warisan budaya dalam lingkungan Pakualaman. Pada bulan Oktober tahun 2014, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono menganugerahkan Bintang Mahaputra Adipradana sebagai penghargaan atas sumbangan dalam bidangnya, sebagai anggota kabinet, kepada bangsa dan negara.

salah satu aktivitas yang kini digeluti oleh Gita Wirjawan adalah gerakan sosial. Bersama Ancora Foundation yang ia bidani kelahirannya, Gita aktif menyalurkan bantuan sosial. Ancora Foundation mendapatkan donasi dari perusahaan milik Gita di bawah bendera Ancora Group maupun donasi dari perusahaan lain. Bila dilihat di situs Ancora Foundation, yayasan ini konsen di dunia pendidikan.

Siam Cement Group (SCG) merupakan salah satu donatur Ancora Foundation. Program-program CSR perusahaan semen yang berbasis di Thailand itu, disalurkan melalui Ancora Foundation yang dipimpin langsung oleh Gita Wirjawan.

Belum lama ini, SCG dan Ancora Foundation menggelar event SCG Sharing The Dream di Balai Kartini, Jakarta. Pada kegiatan itulah Gita kembali muncul ke depan publik. Gita didaulat memberikan sambutan bersama Nantapong Chantrakul, Country Director SCG Indonesia dan Presiden Direktur PT SCG Readymix Indonesia.

SCG Sharing The Dream sendiri merupakan ajang tahunan SCG bekerjasama dengan Ancora Foundation. Dalam kegiatan tersebut SCG menyalurkan 400 beasiswa yang diberikan kepada pelajar SMA dari Jakarta, Bogor, Cileungsi, Sukabumi, Karawang, Tangerang Selatan dan Bayah (Lebak) selama tahun ajaran 2017-2018. Paket beasiswa meliputi sertifikat, tunjangan uang pangkal atau uang sekolah dan paket alat-alat belajar.

Beasiswa dari SCG itulah yang salah satunya dikelolah oleh Ancora Foundation selama lima tahun terakhir dan menjadi bagian dari aktivitas Gita Wirjawan. Ancora Faoundation sendiri memang fokus pada pengembangan SDM. Mungkin karena alasan kesamaan visi membangun manusia Indonesia itu sehingga konglomerasi bisnis asal Thailand, SCG memilih Ancora Foundation.