Geyol Mones, Seni Tari

Tari Geyol Mones adalah tari kreasi Betawi ciptaan Nur Wijayanto S.Pd. dari Sanggar Tari Sri Budaya, Jakarta Utara. Tarian ini dibawakan secara berkelompok oleh penari perempuan. Konsep yang diangkat dalam tarian ini adalah tentang kecintaan sekumpulan remaja puteri terhadap tradisi budaya negerinya. Mereka tinggal di sebuah kota besar yang modern dengan segala tantangannya, termasuk gempuran budaya luar yang mempengaruhi gaya hidup. Dalam tarian ini digambarkan bahwa mereka mampu mengatasi tantangan dan tahu bagaimana cara menempatkan diri, dengan melebur sebagai generasi muda yang tidak ketinggalan jaman tetapi tetap “eksis” mempertahankan seni tradisi leluhur.

Penggambaran seni leluhur ditampilkan melalui dua orang penari yang muncul di awal. Keduanya menari dengan mengenakan topeng yang merupakan bagian dari tradisi tari Topeng, dan gerakannya juga baku sebagaimana tarian Betawi pada umumnya. Tidak lama setelahnya muncul penari-penari lain tanpa mengenakan topeng, dan kedua penari tadi ikut bergabung setelah melepas topeng yang dikenakannya. Gerakan yang ditampilkan memadukan gerak tari Betawi, Sunda, dan modern. Begitu juga dengan musiknya, ada sedikit unsur irama Sunda, dan musik modern melalui bunyi terompet yang identik dengan alat musik Barat. Perangkat gamelan yang sering digunakan sebagai pengiring tari tidak menggunakan terompet sebagai salah satu instrumennya. Di tengah-tengah tarian, para penari membalikkan badan memunggungi penonton untuk mengenakan kaca mata hitam dan mengambil kipas besar. Kaca mata hitam mencerminkan gaya hidup modern dari segi fashion. Mereka pun melanjutkan tarian dengan mengenakan kaca mata hitam dan memainkan kipas. Menjelang akhir tarian, salah satu penari memisahkan diri dan memunggungi penonton untuk kembali mengenakan topeng sebagai simbol seni tradisi. Tarian ditutup dengan adegan para penari duduk bersimpuh sambil memainkan selendang dengan cara memutar-mutarkannya seperti memainkan tali laso.

Busana yang dikenakan para penari terdiri dari kebaya pola lengan tiga warna dan kain yang dibuat seperti rok lebar. Toka-toka lebar diikatkan di leher untuk menutupi bagian dada. Ampreng yang panjangnya mendekati lutut dikenakan di pinggang untuk menutup bagian perut. Andong untuk menutupi panggul dan tubuh bagian belakang panjangnya juga mendekati lutut. Selendang disangkutkan di ikat pinggang sebagai aksesoris busana sekaligus properti tari. Rambut dikonde cepol dan kepala mengenakan hiasan kepala.