Gereja Tugu, Wisata Sejarah

Gereja di kawasan Tugu pertama kali dibangun oleh Melchior Leijdekker, seorang pendeta terpelajar yang menetap di Tugu sejak tahun 1678, dan langsung membangun sebuah gereja. Pendeta Melchior Leijdekker adalah orang yang  pertama kali menterjemahkan Alkitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Melayu dengan menggunakan Dordtse Statenbijbel sebagai dasar. Hasil terjemahan Leijdekker tidak diterbitkan hingga tahun 1733, karena F. Valentijn berusaha menjegal supaya terjemahan yang dibuatnya dalam bahasa Melayu Ambon atau laag Maleis lebih dahulu diterbitkan. Namun usahanya sia-sia.

Bangunan Gereja Tugu digunakan untuk kegiatan ibadat dan sekolah. Gereja ini sempat direnovasi tahun 1737 oleh Pendeta Van De Tydt, dibantu pendeta kelahiran Lisabon bernama Ferreira d’Almeida, dan orang-orang Mardijkers (budak yang dibebaskan dengan syarat tertentu, di antaranya berpindah dari Gereja Katolik ke umat Reformasi). Tahun 1738 dibangun gereja kedua menggantikan gedung lama yang sudah rusak. Saat terjadi pembantaian etnis Tionghoa di Batavia, di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier tahun 1740, bangunan gereja ini tidak luput dari pengrusakan.

Gereja Tugu yang sekarang dibangun tahun 1744 dengan dukungan dana dari Justinus Vinck. Ia adalah seorang tuan tanah Belanda yang bermukim di Cilincing,  memiliki tanah luas di Weltevreden, serta membuka dua pasar besar (hingga sekarang) yaitu Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang. Gereja yang dibangun ini adalah untuk menggantikan bangunan gereja ke-2 yang dihancurkan oleh sekelompok etnis Tionghoa. Tahun 1748 pembangunan gereja baru selesai, dan diresmikan dengan sebuah pemberkatan yang dilakukan oleh Pendeta J.M. Mohr pada tanggal 27 Juli. Menurut penduduk, kedua gereja terdahulu berdiri di atas “Tanah Serani” yang sejak tahun 1986 digunakan oleh Gereja Katholik Salib Suci, tidak jauh dari Gereja Tugu Protestan.

Gereja Tugu merupakan gereja bangsal (hall church) dengan bentuk atap pelana (gable roof), yang dibuat meruncing ke atas sebagai simbol surga di atas langit. Bangunan gereja tidak menghadap ke jalan raya melainkan ke Sungai Cakung yang dahulu menjadi transportasi utama warga lokal, sekaligus menghubungkannya dengan gereja-gereja di sekitar kampung Tugu. Di bagian depan terdapat serambi atau teras dengan empat tiang penyangga yang dikelilingi pagar kayu berwarna coklat. Teras ini dahulu sering digunakan Justinus Vinck untuk duduk-duduk saat bertandang ke Tugu. Bangunan Gereja Tugu tampak sederhana tanpa hiasan raya seperti umumnya gereja yang dibangun oleh orang-orang Belanda di Batavia. Bisa jadi karena kawasan Tugu masa itu memang hanya diperuntukkan bagi kaum Mardijkers, yaitu orang-orang Portugis bekas tawanan perang Belanda yang dibawa dari Bengala serta Pantai Koromandel, atau budak yang dibebaskan. Di samping bangunan gereja terdapat menara pendek untuk menggantungkan lonceng (slavenbel). Di masa perbudakan, slavenbel digunakan untuk memberi tanda kepada para pekerja Portugis kapan harus berkumpul untuk makan, berdoa, dan lainnya. Lonceng lama yang sudah ada sejak tahun 1747 dan dalam kondisi rusak tersimpan dengan baik di rumah pendeta, sedangkan lonceng yang digunakan sekarang berasal dari tahun 1880.

Ruang dalam berdenah empat persegi panjang dengan jendela-jendela besar khas Eropa. Di kanan dan kiri mimbar terdapat kursi kayu berwarna coklat untuk tempat duduk anggota majelis gereja serta kelompok paduan suara. Salib dan mimbar gereja yang terbuat dari kayu adalah peninggalan gereja lama. Piring-piring perlengkapan ibadat terbuat dari logam masih tersimpan dengan baik. Gereja ini menyelenggarakan ibadat dalam bahasa Portugis dan Melayu sejak tahun 1747. Seiring waktu, tidak ada lagi masyarakat keturunan Portugis di kampung Tugu yang menggunakan bahasa asli mereka. Namun demikian ketertutupan mereka justru berdampak positif terhadap tradisi yang tetap terpelihara hingga kini. Salah satunya adalah tradisi malam Natal, dimana anak-anak kampung Tugu membawa obor ke rumah-rumah keluarga mardijkers sambil berdoa dalam bahasa Portugis: Bintisinkoe dja di December nos Sior dja bi mundu. Libra nos pekador. Unga noti di kinta fera assi klar koma di dia andju di nos Sior dialegria (Pada tanggal 25 Desember Tuhan kita telah datang ke dunia. Selamatkanlah kami orang berdosa. Pada Kamis malam yang terang bagaikan siang, Tuhan menganugerahkan Tuhan menganugerahi kita kebahagiaan besar). Selain itu setelah ibadah malam Natal, biasanya diadakan ziarah kubur ke makam-makam keluarga Portugis yang berada di samping gereja. Ziarah kubur di kampung ini agak berbeda karena dilakukan malam hari dan bukan siang hari sebagaiman lazimnya orang berziarah.