Gereja Kristen Indonesia Kwitang, Wisata Sejarah

Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kwitang atau lebih populer dengan nama Gereja Kwitang, berawal tahun 1870-an dari sebuah gereja kecil, yang dindingnya ditutup anyaman bambu dengan alas kain hijau serta podium setinggi setengah meter. Tahun 1886 gereja dibangun permanen di bawah tanggung jawab Ds. Huysing, seorang pendeta yang diutus oleh gereja-gereja Belanda ke Batavia. Pada bulan November 1930, pertama kalinya gereja ini mempunyai pendeta sendiri yang khusus melayani jemaat berbahasa Melayu, setelah sebelumnya beberapa pendeta diperbantukan ke gereja ini untuk melayani jemaat yang berbahasa Melayu. Sejak saat itu muncul julukan Gereja Melayu Kwitang, dan kebetulan ibadatnya juga dilakukan dalam dua bahasa, yaitu Belanda di pagi hari, dan bahasa Melayu di sore hari. Tahun 1921 bangunan gereja direnovasi menggunakan jasa arsitek F.L. Wiemans. Renovasi diselesaikan tahun 1924 dengan tetap mempertahankan keberadaan bangunan utama. Sayangnya renovasi bukan hanya sekedar menambah ruang di sisi selatan dan sayap kanan mimbar untuk keleluasaan kegiatan gereja, tetapi juga mengubah fasad (tampak depan) dan hiasan puncak atap bangunan lama.

Bangunan gereja berdenah huruf L, menghadap ke arah utara (Jalan Raya Kwitang), dengan pintu masuk utama menghadap ke arah utara. Bangunan utama GKI Kwitang terdiri dari koridor di sisi timur dan barat, ruang ibadat, ruang altar, ruang paduan suara, balkon, dan gudang. Bangunan tambahan terdiri dari kediaman pendeta gereja di bagian selatan sisi barat, gedung pertemuan di bagian selatan sisi timur yang memiliki ruang perpustakaan dan kantor majelis jemaat di dalamnya, serta ruang konsistori di sebelah selatan bangunan yang tersambung dengan rumah pendeta dan ruang utama gereja.

Atap gereja berbentuk limasan dengan jendela atap (dormer) di sisi timur 7 dan sisi barat 4. Atap ditutup dengan genteng tanah liat berwarna merah, sedangkan jendela atap menggunakan seng dengan warna senada. Pada puncak atap terdapat ornamen seperti menara kecil beratap limas segi empat dengan salib di atasnya. Langit-langit berbentuk setengah lingkaran atau seperti perahu terbalik (barrel vault) yang dilapisi kayu dan digunakan untuk menggantungkan lampu serta kipas angin.

Dinding bagian depan bangunan utama  bawahnya berupa random rubble stone, yaitu susunan batuan berpola acak yang proses pemotongannya juga dilakukan secara acak, dengan ukuran yang berbeda-beda. Semua batu di cat warna hitam. Bagian atasnya berupa tembok warna putih. Pada bagian tengah dinding muka bangunan utama terdapat ornamen tiga kaca patri persegi panjang dengan arah vertikal yang atasnya melancip. Di bagian atas masing-masing jendela terdapat hiasan tiga daun semanggi sebagai perlambang trinitas, dan lingkaran dengan ornamen flora di dalamnya pada bidang segi tiga atap yang merupakan representasi  kesempurnaan. Lantai bagian luar berupa keramik warna kemerahan berukuran 30x30 cm, sedangkan bagian dalamnya berukuran lebih besar 40x40 cm dengan warna berbeda.

Pintu masuk utama ditonjolkan dengan portico, yaitu pemasangan tiang-tiang atau pilaster di sisi kiri dan kanan untuk menopang atap, yang secara keseluruhan untuk menyembunyikan pintu dari pandangan luar secara langsung. Pintu terbuat dari kayu dengan dua daun pintu, berbentuk persegi panjang dengan ukuran 3,1x2,1 m. Ornamen pada pintu berupa bidang-bidang segi empat berukuran 30x30 cm dengan deretan menyerupai ujung daun disekelilingnya dan semacam knob segi empat di tengahnya. Engsel pintu terbuat dari besi. Bagian atas pintu berbentuk bidang lengkung dengan ornamen geometris dalam lima susunan mengikuti denah bidangnya, diantaranya ada yang berfungsi juga sebagai lubang angin. Pintu masuk yang ada di sisi barat dan timur bangunan masing-masing berjumlah 5 dengan bentuk yang sama, persegi panjang berkisi-kisi horisontal mirip pintu rumah orang Betawi, dan ornamen melengkung yang puncaknya melancip berhias sulur-suluran di dalamnya.

Jendela pada bangunan utama memiliki bentuk yang berbeda. Pertama, berbentuk lengkung dengan hiasan sulur-suluran yang berfungsi sebagai tempat masuknya cahaya. Ada 2 di bagian selatan dinding timur, dan 2 di ruang paduan suara. Kedua, berbentuk empat persegi panjang dengan hiasan kaca patri. Terdapat di dinding selatan sisi barat dan timur, masing-masing 3 deret jendela yang bisa dibuka untuk sirkulasi udara. Di balkon terdapat 3 jendela kaca patri yang tidak bisa dibuka. Ketiga, jendela panjang yang bagian bawahnya tidak rata atau horisontal tetapi mengikuti bentuk ornamen lengkung yang ada di bagian bawah jendela. Bagian atas jendela ini juga melengkung dan melancip di tengahnya. Jendela ini juga dipadu dengan kaca patri. Jendela ventilasi ada yang bisa dibuka-tutup ke arah atas, terdapat pada dinding sisi utara, barat, dan timur. Koridor atau selasar ada di sisi barat dan timur bangunan, berfungsi sebagai penghubung dan menahan panas sinar matahari agar tidak langsung masuk ke dalam ruangan.