GEREJA INGGRIS “ALL SAINT CHURCH”, WISATA SEJARAH

Gereja Inggris yang berada di dekat Tugu Tani bermula dari sebuah gereja yang dibangun oleh Pendeta Baptis J. Slater. Ia membeli sebuah tanah pekarangan dengan harga delapan ratus dollar Spanyol. Tanah partikulir Pengarangan (nama sebuah tanah milik partikulir) itu berlokasi di tengah-tengah kampung Tionghoa dan Melayu. Entah sengketa apa yang terjadi hingga rumah pendeta dibakar bersama banyak Kitab Injil. Barang milik sang pendeta pun dirampok sampai dua kali. Kejadian ini menyebabkan Pendeta Slater memutuskan untuk meninggalkan kota Batavia. Akhirnya gereja kayu yang tersisa pun habis dimakan rayap.

Tahun 1822 seorang misionaris Inggris diutus oleh London Missionary Society ke Batavia. Pendeta yang kemudian justru terkenal di Tiongkok itu bernama Walter Henry Medhurst (1776-1857). Setibanya di Batavia, ia mulai mengadakan ibadat dalam bahasa Inggris, mendirikan sekolah, dan asrama pertama untuk anak-anak cacat di Batavia. Tahun 1829 Pendeta Medhurst mendirikan gereja baru berikut kediaman pendeta menggunakan bahan batu.

Gaya bangunan Gereja Inggris atau All Saint Church adalah Tropical Georgian, yang awalnya bercorak kapel gaya non-conformist (umat yang tidak sepaham dengan ajaran dan kebiasaan Gereja Anglikan). Arsitektur bergaya tropical georgian menekankan bentuk simetris empat persegi panjang, dan pintu utama ditonjolkan dengan portiko (portico) yang berpilar. Portico adalah elemen dekoratif yang biasanya dihadirkan di depan pintu masuk, berupa tiang-tiang serta atap yang memuncak. Fungsi portico adalah untuk menghalangi tampilan pintu masuk secara langsung sehingga tidak tampak jelas dari arah luar. Portico juga bisa berfungsi sebagai tempat berlindung ketika ada orang datang dan harus menunggu pemilik rumah keluar untuk membukakan pintu. Awalnya gereja ini tidak memiliki tembok luar, hanya tiang yang tersusun dari bata dengan gaya Toskan yang diplester. Namun sekarang sudah tertutup tembok, sehingga bangunan ini hanya terlihat seperti rumah persegi empat yang berwarna putih saja. Atap gereja berbentuk pelana (gable roof) yang dipanjangkan pada kedua sisinya, dan ditutup menggunakan genteng merah bata khas Batavia. Di bagian puncak terdapat hiasan salib yang menjadi ciri pada masa Ratu Victoria dari Inggris (1819-1901). Tiang-tiang berderet di sisi timur dan barat yang berfungsi sebagai penunjang atap, masing-masing sisi berjumlah enam. Ada dua buah tiang elemen dekoratif yang disebut sebagai portico di bagian depan bangunan gereja. Kedua tiang mengapit sebuah profil lengkung di bagian atas pintu, dan menopang sebuah pediment berhias bunga. Kebaktian di gereja ini jemaatnya mayoritas orang-orang Inggris yang tinggal di Jakarta.

Kekhususan Gereja Anglikan Inggris ini terdapat pada batu-batu nisan yang menjadi bagian penting dari bangunan gereja dan sejarah Batavia. Nisan-nisan tersebut dipindahkan dari tanah di belakang kantor pos besar pada bulan November 1913. Beberapa batu nisan dimasukkan ke dalam tembok gereja, sedangkan lainnya diletakkan di kebun. Ada dua yang cukup menarik dengan keterangan asli tertulis di batu nisannya. Pertama adalah nisan Kapten James Bowen, yang bertuliskan // Di bawah nisan // ini // disemayamkan // jenazah // JAMES BOWEN ESQ // Kapten kapal milik Sri Baginda // ‘Phoenix’ // lahir 29 November 1782 // wafat 26 Desember 1812 // akibat suatu penyakit yang disebabkan oleh pemerasan tenaga waktu menyerang perompak yang kuat di Sambas //.

Kapten James Bowen diutus oleh Letnan Gubernur St. Raffles dan gugur saat menyerang kubu kepala perampok ‘Pangeran’ Anom di Sambas sebelah utara Pontianak. Anom pernah menyerang sebuah kapal Inggris (1812) dan membajak sebuah kapal Portugis dengan muatan yang sangat berharga. Untuk membalas gugurnya Bowen, Letnan Kolonel J. Watson menyerang Sambas dengan satu resimen pada tanggal 3 Juni 1813, dan merusak seluruh sarang perompak itu setelah terjadi pertempuran hebat. Seratus lima puluh perompak gugur dan Anom sendiri melarikan diri ke hutan.

Satu nisan lainnya berkaitan dengan penaklukan tentara Belanda-Perancis oleh pasukan British-India pada tahun 1811. Letnan Kolonel W. Campbell terluka berat waktu kubu Belanda-Perancis di Meester diserang pada tahun 1811. Keterangan pada nisan berbunyi // Di sini terbaring jenazah // Letnan-Kolonel // WILLIAM CAMPBELL // dari Resimen ke-78 Sri Baginda Britania // yang meninggal pada tanggal 28 Agustus 1811 // akibat terluka pada tanggal 26 bulan itu juga // sewaktu dengan gagah berani memimpin // resimennya menyerang Benteng Cornelis, yang kokoh // yang dipertahankan oleh musuh gagah perkasa // karena kesopanannya // dan banyak kebajikannya // yang waktu meninggal mendapat penghormatan dari negaranya // kepadanya kawan setia bertahun-tahun lamanya // serta kepada bapak anak-anaknya // tugu sederhana untuk penghargaan abadi ini // didirikan oleh jandanya yang dirundung duka //.

Satu nisan lain mengenang Patrick Still, Fourth Officer of the Ship Lowjee Family. Perwira ini baru berumur enam belas tahun saat gugur (1812). Masih ada beberapa nisan lain di dalam dan di luar gereja. Semuanya berkebangsaan Inggris.