GEREJA IMMANUEL, WISATA SEJARAH

Gereja Immanuel yang terletak di Jalan Medan Merdeka Timur dahulu bernama Willemskerk atau Gereja Willem. Penamaan ini adalah bentuk penghormatan terhadap Raja Willem I yang memprakarsai berdirinya sebuah gereja untuk mempersatukan dua kelompok jemaat Protestan yang ada di Batavia, yaitu Lutheran dan Hervormd. Usaha serupa pernah dilakukannya di Belanda tetapi gagal. Setelah mengeluarkan empat Koninklijk Besluit (Keputusan Raja) akhirnya tahun 1854 kedua kelompok Protestan itu bersedia bersatu, dan sepakat untuk mendirikan sebuah gereja besar yang modern di Weltevreden. Gereja Willem didirikan tahun 1835 dengan upacara peletakan batu pertama dilakukan bertepatan pada hari ulang tahun Raja Willem I tanggal 24 Agustus. Empat tahun kemudian (1839) di tanggal yang sama gereja ini diresmikan dengan nama Willemskerk. Bangunan gereja ini dirancang oleh Johan Hendrik Horst.

Bangunan gereja berdiri di atas pondasi batu setinggi ± 3 m dari permukaan tanah, yang bisa jadi melambangkan pemisahan bagian profan dan sakral. Denah bangunan jika ditarik garis lurus membentuk empat persegi yang simetris, menghadap ke empat arah mata angin, dengan sisi muka bangunan menghadap ke timur. Pada bagian muka Gereja Willems terdapat tympanum dengan hiasan salib di bagian tengahnya, yang ditopang oleh pilar bergaya dorik. Tympanum adalah elemen arsitektur klasik berbentuk segi tiga sama kaki di bagian muka atap. Pilar penopang berbentuk bulat, polos tanpa hiasan, hanya lekukan di bagian puncak. Jumlahnya enam, sama seperti jumlah pilar penopang di bagian serambi sebelah utara dan selatan yang mengikuti bentuk bundar gereja. Jumlah anak tangga untuk mencapai bagian muka dan serambi adalah 18. Bagian belakang gereja juga ditopang enam buah pilar tetapi dengan bentuk yang lebih ramping dari ketiga bagian lainnya. Serambi belakang bentuknya juga berbeda dan memiliki ruang yang berfungsi sebagai konsistori (kamar persiapan pendeta dan majelis jemaat sebelum ibadat dimulai). Tangga menuju serambi belakang berbentuk melingkar di sisi kiri dan kanan.

Atap bangunan Willemskerk berbentuk kubah dengan lengkungan yang agak landai, mirip bangunan Pantheon di Roma. Seluruh permukaannya ditutup oleh sirap dari bahan jati. Atap kubah sebelumnya pernah ditutup oleh 1126 lempengan tembaga yang kemudian dijual kepada masyarakat karena dianggap membahayakan bangunan gerejanya itu sendiri. Tembaga adalah konduktor listrik, dan bangunan gereja yang berada di tanah lapang (waktu itu)  belum tentu aman dari sambaran petir, hingga diputuskan menggantinya dengan sirap sekaligus menyesuaikan dengan gaya dan bahan bangunan lokal. Di bagian puncak kubah terdapat lantern atau louver, menara kecil dengan jendela kaca, yang lazim digunakan pada bangunan bergaya neo-klasik. Di bagian dalam lantern atau lover terdapat hiasan teratai dengan enam helai daun atau sesen dalam bahasa Mesir yang melambangkan matahari dan juga persatuan dua kerajaan Mesir. Hal serupa yang coba dilakukan oleh Raja Willem I, yaitu mempersatukan jemaat Lutheran dan Hervormd. Louver dengan jendela kaca juga dimaksudkan sebagai sumber cahaya, jadi akan tetap ada sinar di dalam bangunan gereja meski seluruh pintu dan jendela ditutup.

Ruang utama Willemskerk berdenah lingkaran dengan diameter ± 9,5 m. Lantainya berupa marmer berwarna hitam. Ruang ini digunakan untuk beribadah, bangku  ditata melingkar seperti bangunan teater dengan pusat pandangan ke arah mimbar. Tidak banyak ornamen di ruangan ini. Kusen, daun pintu dan jendela krepyak, serta langit-langit menggunakan kayu jati. Tangga menuju lantai atas berbentuk melingkar dengan balustrade (pagar) berbahan metal berhiaskan lambang salib Yunani. Lantainya sendiri berbahan kayu. Di lantai atas terdapat pilaster (tiang semu) bergaya korin dengan hiasan di bagian atas, serta penyangga balkon (console) berbahan metal berbentuk sulur tanaman, yang keduanya dicat dengan warna emas. Orgel buatan pabrik Jonathan Batz di Utrech yang ada di lantai atas Gereja Willems memiliki kembaran di Venezuela dan Belanda. Orgel ini pernah dikonservasi tahun 1985 yang biaya restorasinya ditanggung oleh Pangeran Bernhard sebagai hadiah. Orgel ini bergaya barok dengan hiasan bunga teratai, mesin pemompa udara harus dihidupkan terlebih dahulu agar orgel bisa berfungsi dengan baik. Orgel adalah instrumen utama yang digunakan oleh gereja pada masa kolonial dalam peribadatan.

Gereja Willems atau yang sekarang dikenal dengan nama Gereja Immanuel masih menyimpan dengan baik beberapa barang-barang kuno. Alkitab tahun 1748 buatan percetakan N. Goetze di Gorichem, Belanda, yang hingga akhir tahun 1980-an masih diletakkan di atas mimbar. Piring perak yang disepuh emas dengan pegangan tutup berhiaskan domba, sumbangan dari keluarga Laurenz Coortzen kepada Gereja Portugis di tahun 1749. Tempat anggur terbuat dari perak yang pernah digunakan untuk pembaptisan di Gereja Portugis. Dua kotak dana terbuat dari perak yang sampai sekarang masih digunakan. Banyak barang yang pernah disimpan di gereja ini hilang pada masa pendudukan Jepang. Saat itu gereja difungsikan sebagai rumah abu tentara Jepang dan namanya diganti menjadi Churei-do. Setelah kemerdekaan baru difungsikan kembali sebagai gereja. Nama baru Gereja Immanuel ditetapkan pada tahun 1948 bersamaan dengan pendirian Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB). Gereja Immanuel menyelenggarakan ibadah dengan pengantar bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Belanda.