Genjring Party, Seni Tari

Genjring Party adalah tari kreasi tradisional dari tanah Sunda yang tidak hanya populer di Jawa Barat saja, tetapi juga Jakarta dan daerah lain, bahkan sering ditampilkan di luar negeri. Tari Genjring Party berfungsi sebagai tari penyambutan yang dibawakan oleh beberapa penari perempuan dengan gerakan energik, lincah dan atraktif. Seluruh gerakan menggambarkan antusiasme atas kedatangan tamu-tamu agung. Meski berakar dari kesenian genjring khas Sunda tetapi ada pengaruh gerak tarian Betawi dan Bali dalam tari Genjring Party. Gerakan khas Bali antara lain berupa goyangan kepala, sledet (lirikan mata ke kanan dan kiri), serta gerak tangan membuka seperti tari Pendet.  Gaya Betawi tampak dari gerakan yang mirip tari Topeng dan Ondel-ondel. Tari Genjring Party tidak memiliki pakem sehingga gerak tariannya bervariatif, hanya menyesuaikan dengan irama lagu iringan namun selalu ada tiga unsur gaya tari daerah di dalamnya (Sunda, Betawi, Bali). Gerakan dalam tari Genjring Party menonjolkan gerakan tangan dan badan penari, terutama pada gerakan bahu yang merupakan ciri khas tarian Sunda. Aroma Jaipong sangat kuat dalam tarian ini, dan ada sedikit kesan erotis saat penari melakukan gerakan geyol.

Tari Genjring Party merupakan pengembangan dari tari Genjring tradisional Sunda yang dikenal juga dengan nama Genjring Bonyok. Nama “bonyok” diambil dari tempat berkembangnya tarian ini yaitu Kampung Bonyok, Desa Pangsor, Kecamatan Pageden, Kabupaten Subang. Tari Genjring sendiri terinspirasi dari kelompok kesenian Genjring Sholawat Sinar Harapan yang dipimpin oleh Sajem (1960-1968) di Dusun Bunut, Desa Pangsor, Kecamatan Pagaden. Ketika kepemimpinan berada ditangan Talam (1968-1975), minat masyarakat terhadap kesenian genjring sholawat mulai menurun. Permintaan untuk mengisi acara dalam hajatan warga juga berkurang, hingga akhirnya kelompok kesenian ini tidak pernah lagi mengadakan pertunjukan.

Salah seorang anggota kelompok Sinar Harapan bernama Sutarja kemudian menciptakan bentuk kesenian baru menggunakan genjring dan bedug. Idenya mendapat dukungan dari Sajem dan Talam. Tahun 1973 kepemimpinan kelompok ini diserahkan kepada Sutarja yang kemudian pindah ke Desa Dadap. Namanya pun berubah menjadi kelompok kesenian Genjring Ronyok Sinar Pusaka, genjring adalah alat musik yang digunakan untuk iringan, dan dironyok atau ronyok adalah cara penggunaan genjring yang dilakukan secara bersamaan dan berkumpul. Instrumen terompet khas tradisi Sunda, gong dan kecrek, yang dimasukan sebagai musik pengiring tambahan membuat irama terdengar lebih enak, variatif, dan meriah. Sutarja kemudian melatih seniman dari berbagai dusun dan desa di kabupaten Subang, salah satunya adalah Rasita dari dusun Bonyok. Rasita kemudian membentuk kelompok kesenian genjring ronyok sendiri dan mengadakan pertunjukan hingga ke luar dusun. Warga menyukainya dan kelompok kesenian genjring ronyok pimpinan Rasita kerap ditanggap hingga keluar desa bahkan kecamatan tempatnya tinggal. Genjring ronyok kerap dipentaskan dalam acara syukuran seperti khitanan, perkawinan, dan syukuran atas hasil panen. Nama genjring ronyok kemudian berubah menjadi genjring bonyok sebagai identitas yang disematkan masyarakat kepada kelompok seni genjring pimpinan Rasita. Sayangnya lagi-lagi kesenian tradisional harus tergerus jaman, kesenian genjring bonyok sejak sekitar tahun 1997 sudah jarang dilirik masyarakat.

Tahun 2000 Krakatau Band menciptakan lagu Genjring Party dalam album Magical Match yang banyak mengeksplore musik-musik etnik Indonesia. Mereka menggabungkan tangga nada laras, pelog, madenda, dan mataraman sekaligus dalam satu oktaf. Krakatau Band berupaya mengangkat musik tradisional Indonesia agar dikenal oleh banyak orang, termasuk bangsa asing, dan dipertontonkan dimana-mana. Lagu Genjring Party yang disempurnakan dalam album The Rhytm Of Reformation (2006) diambil dari pola-pola ritme kesenian genjring ronyok. Lagu ini kemudian digunakan oleh sejumlah seniman untuk mengangkat kembali performa kesenian Genjring yang nyaris punah.

Busana yang dikenakan penari Genjring Party adalah kebaya modern berwarna cerah, dengan bawahan berupa rok lebar agar tidak mengganggu gerakan kaki. Aksesoris berupa ikat pinggang modifikasi, penutup tubuh bagian depan dan belakang, serta bros yang disematkan di bagian tengah atas dada. Kepala dikonde cepol dengan mengenakan hiasan kepala berupa bulu-bulu yang berwarna-warni, dipadukan dengan hiasan semacam mahkota. Aksesoris lainnya adalah gelang tangan dan giwang, sedangkan properti berupa kipas besar yang disematkan di pinggang saat tidak digunakan. Riasan wajah menggunakan rias cantik yang membuat penari semakin tampak cantik dan lebih menonjol karakternya.

Musik iringan yang asli terdiri dari beberapa instrumen yaitu terompet khas Sunda, bedug, genjring, gendang (kendang), kulanter, gong, kenong, dan kecrek. Terompet adalah untuk membuat melodi, bedug sebagai pengatur irama, tiga buah genjring untuk menghadirkan irama yang bersahutan, sebuah gendang untuk memberi tekanan dan irama, sebuah kulanter yang berfungsi mengikuti irama, gong besar untuk menutup akhir irama, gong kecil sebagai pengisi irama, kenong sebagai pengimbang irama, serta kecrek untuk mempertegas dan mengatur irama. Tarian Genjring Party saat ini lebih banyak menggunakan musik hasil eksplorasi Krakatau Band sebagai pengiringnya.