Gending Sriwijaya, Seni Tari

Tari Gending Sriwijaya adalah salah satu dari beberapa tarian tradisional yang ditampilkan dalam pembukaan pesta olahraga akbar Asian Games 2018. Tarian ini di daerah asalnya, Sumatera Selatan, memang merupakan tari penyambutan tamu agung, meski sekarang juga banyak ditampilkan dalam berbagai acara seperti pernikahan, pertemuan-pertemuan instansi pemerintah, serta perhelatan budaya. Tarian ini diciptakan pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Saat itu pemerintah Jepang yang ada di Karesidenan Palembang meminta Hodohan (Jawatan Penerangan Jepang) menciptakan lagu dan tari untuk menyambut tamu yang akan datang ke Sumatera Selatan dalam sebuah acara resmi. Prosesnya memakan waktu sekitar setahun, sejak akhir 1942 sampai 1943 karena terkendala berbagai persoalan politik di Jepang dan di Indonesia sendiri. Sastrawan dan seniman Sumatera Selatan pun berkolaborasi untuk menciptakan lagu Gending Sriwijaya (Achmad Dahlan Mahibat & Nungtjik A.R.) berikut tariannya (Sukainah A. Rozak & Tina Haji Gong). Tari Gending Sriwijaya pertama kali ditampilkan pada tanggal 2 Agustus 1945 di halaman Masjid Agung Palembang, untuk menyambut pejabat Jepang dari Bukittinggi, Moh. Syafei dan Djamaludin Adi Negoro.

Tari Gending Sriwijaya dibawakan oleh sembilan penari perempuan. Jumlah sembilan merupakan simbol Batanghari Sembilan atau sembilan sungai yang ada di Sumatera Selatan. Penari yang berjumlah ganjil melambangkan keutuhan, kesatuan namun tetap terpimpin, pencerminan keadaan lahir dan bathin bahwa kehidupan ini ada yang mengendalikan yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Salah satu penari yang posisinya berada di tengah dan paling depan membawa “tepak”, yaitu wadah kayu berukir corak Palembang berbentuk persegi empat dengan tutup di bagian atasnya. Bagian dalam tepak berisi “cupu” wadah-wadah kecil terbuat dari kuningan untuk meletakkan sirih, gambir, pinang, kapur, dan beberapa lembar daun sirih untuk bersirih atau menginang. Tamu akan dipersilakan mengambil “sekapur sirih” sebagai bentuk penghormatan dan ucapan selamat datang. Dua penari lain membawa peridon atau pridon (perlengkapan tepak) yang terbuat dari kuningan. Persembahan sekapur sirih ini aslinya hanya dilakukan oleh putri raja, sultan, atau bangsawan, dan pembawa pridon biasanya sahabat akrab atau pengasuh sang puteri. Enam penari lainnya menjadi pendamping dengan posisi masing-masing tiga orang di sisi kanan dan kiri.  Para penari perempuan dikawal oleh seorang lelaki pembawa payung kebesaran, dan dua lelaki pembawa tombak yang posisinya di bagian kanan dan kiri belakang. Payung merupakan tanda kebesaran, simbol perlindungan kepada orang yang dihormati. Tombak melambangkan keperwiraan bangsa dan keamanan. Dalam Tari Gending Sriwijaya menjadi simbol perlindungan kepada orang yang dihormati. Peran pengawal terkadang ditiadakan terutama jika ditampilkan secara tertutup. Di belakang rombongan penari adalah seorang penyanyi yang melantunkan lagu Gending Sriwijaya.

Busana yang dikenakan penari adalah pakaian adat “Aesan Gede”, berupa kemben dari kain songket Palembang berwarna merah, bagian dadanya ditutup dengan “teratai” dan sepasang selempang yang menguatkan penutup dada, serta kalung ringgit. Bagian bawah menggunakan songket yang biasanya bermotif lepus. Kedua lengan diberi hiasan kelat bahu yang dipasang di pangkal lengan.  Pinggang mengenakan “pending”, ikat pinggang yang terbuat dari kuningan, serta “selendang mantri” yang dikaitkan pada pending. Pergelangan tangan memakai tiga macam gelang yaitu gelang kano, gelang gepeng, dan gelang sempuru. Ujung jari mengenakan “tanggai” yaitu alat yang terbuat dari perak, kuningan, atau bahan logam lainnya, untuk membuat tangan penari kelihatan lebih manis dan lentik. Tanggai dipasang dikedua tangan tetapi hanya pada jari-jari telunjuk, jari tengah, jari manis, dan kelingking. Hiasan kepala berupa “Kasuhun”, sejenis mahkota terbuat dari perak, kuningan, dan bahan logam berwarna emas, yang di bagian tengahnya diberi ornamen burung garuda. Rambut di “sanggul malang” lengkap dengan bunga urai, cempako, dan beringin, yang semuanya terbuat dari lempengan tembaga berwarna emas. Kedua telinga memakai anting-anting susun tiga dengan bulan bintang.

Penari lelaki mengenakan baju teluk belango, celana panjang, rumpak, dan tanjak. “Rumpak” atau “bumpak” adalah kain songket khusus untuk pria yang motifnya tidak penuh seperti songket perempuan. Kepala kain atau tumpal pada rumpak saat dikenakan posisinya berada di badan bagian belakang. Ada perbedaan pemakaian songket antara lelaki lajang dengan yang sudah menikah, Jika sudah menikah, songket dikenakan sepanjang pinggul ke bawah sampai di bawah dengkul. Jika masih lajang songket dikenakan menggantung sampai di atas lututnya. “Tanjak” adalah penutup kepala berbentuk empat persegi panjang yang dibuat dari songket yang sama dengan rumpak.

Gerak Tari Gending Sriwijaya didominasi oleh gerakan membungkuk dan berlutut, sambil sesekali melempar senyum sambil melentikan jari-jari kuku, yang merupakan bentuk penghormatan kepada para tamu yang datang. Rangkaian gerak Tari Gending Sriwijaya terdiri dari: (1) Gerakan Tari Awal: gerak masuk posisi sembah, Borobudur hormat, sembah berdiri, jalan keset, kecubung berdiri bawah kanan, kecubung berdiri bawah kiri, kecubung berdiri atas kanan, kecubung berdiri atas kiri, elang terbang berdiri; (2) Gerakan Tari Pokok: elang terbang duduk, tutur sabda, sembah duduk, berkumandang, tabur bunga duduk kanan, tabur bunga duduk kiri, Borobudur, tafakur kanan, tafakur kiri, siguntang mahameru, ulur benang berdiri, elang terbang berdiri; (3) Gerakan Tari Akhir: tolak bala berdiri kanan, tolak bala berdiri kiri, mendengar. Musik yang mengiringi tari Gending Sriwijaya adalah perpaduan alat musik gamelan, dilengkapi dengan vokal yang menggambarkan kegembiraan dan ucapan syukur atas kesejahteraan. Meski demikian, belakangan tari Gending Sriwijaya tidak diiringi oleh musik gending secara langsung, melainkan hanya menggunakan rekaman dari musik yang sudah ada. Sekitar tahun 2017 muncul kontroversi tentang Tari Gending Sriwijaya karena syair yang dibawakan dianggap sudah tidak lagi mencerminkan kondisi Sumatera Selatan saat ini. Muncul wacana untuk menggantinya dengan Tari Sriwijaya Darussalam sebagai cerminan Sumatera Selatan yang Islami.