Gedung Kesenian Jakarta, Benda Cagar Budaya

 

Gedung Kesenian Jakarta terletak di Jalan Gedung Kesenian Nomor 1, Jakarta Pusat. Ide munculnya gedung ini berasal dari Gubernur Jenderal Belanda, Daendels. Kemudian direalisasikan oleh Gubernur Jenderal Inggris, Thomas Stamford Raffles pada 1814. Pada masa pendudukan tentara Dai Nippon, gedung ini dijadikan sebagai markas tentara. Sedangkan pada masa kemerdekaan, gedung ini difungsikan sebagai ruang kuliah untuk mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Hukum Universitas Indonesia. Gedung ini juga sempat digunakan sebagai bioskop.

Awalnya gedung ini bernama Municipal Theatre, Schouwburg, atau lebih populeh disebut "Gedung Komidi". Di zaman Jepang gedung ini disebut Kiritsu Gekitzyoo, lalu berubah menjadi bioskop Dana dan City Theatre. Pada 1984, bangunan ini dipugar dan dikembalikan fungsi semula sebagai pentas kesenian dan ditetapkan namanya menjadi "Gedung Kesenian Jakarta". Gedung Kesenian Jakarta merupakan bangunan tua peninggalan bersejarah pemerintah Hindia-Belanda yang hingga kini masih berdiri kokoh di Jakarta Pusat. Gedung ini adalah tempat para seniman dari seluruh Nusantara mempertunjukkan hasil kreasi seninya, seperti drama, teater, film, dan sastra. Bangunan besar berwarna putih ini dibangun pada 1802.

Periode Pendudukan tentara Inggris, penggagas pertama dari gedung ini adalah penguasa kolonial Inggris di Batavia yang dipimpin Jenderal Sir Thomas Stamford Raffless, ketika pasukan Raffles menduduki Batavia pada tahun 1811, mereka merasa heran karena kota ini tidak memiliki gedung pertunjukan, padahal kesenian khususnya teater adalah hiburan kesukaan mereka. Dunia mereka yang keras dimasa perang memang membutuhkan penyeimbang. Maka pada tahun 1812 para serdadu Inggris itu membentuk perkumpulan Sandiwara. Lalu pada tanggal 27 oktober 1814 kelompok ini berhasil resmi mempunyai gedung pertunjukan yang mereka dirikan di atas tahan kosong dekat daerah Pasar Baru, lokasi asal Gedung Kesenian Jakarta berada di Weltevreden (dalam bahasa Belanda, yang berarti dalam suasana tenang dan puas).

Gedung ini di masa awal disebut sebagai Gedung Teater Militer di Weltevreden, namun orang Belanda secara sinis menyebutnya Bamboe Theater, karena bangunan teater dibuat dengan material dinding dari gedeg dan memakai atap alang-alang.  Gedung sederhana digunakan sebagai gedung teater militer yang dimainkan oleh para pemain teater amatir, dari tentara Inggris yang bertugas di Batavia. Jenis pertunjukan yang pernah dimainkan di gedung Bambu Teater adalah pertunjukan opera Othello karya W. Shakespeare. Tentara Inggris tidak terlalu lama dapat menikmati kesenian teater Militer mereka, karena pada tahun 1816 mereka dikalahkan oleh Belanda dalam peperangan.

Selanjutnya pada periode masa pemerintahan Belanda Gedung Kesenian Jakarta dimasa pemerintahan Belanda, dikenal dengan sebutan Theater Schouwburg Weltevreden. Gedung ini berfungsi sebagai teater kota (stadtsschouwburg) dan dikenal dengan sebutan Gedung Komedi. Gedung yang awalnya dibangun dengan sangat sederhana pada masa pemerintahan Inggris, dipugar dan dibangun kembali di lokasi yang sama dengan bangunan baru yang megah  bergaya Empire. Arsitek dari gedung ini adalah para perwira Jeni VOC, Mayor Schultze. Firma atau kontraktor yang melakukuan pembangunan Gedung Schouwburg Weltevreden adalah Firma Lie Atje.

Pembangunan gedung tersebut menghabiskan waktu selama 14 bulan setelah dikeluarkannya Surat Keputusan Pemerintah. Pembangunan sempat tertunda karena waktu itu berjangkit wabah kolera yang merengut ratusan jiwa manusia, termasuk Residen Batavia, Jacobus de Bruin. Dengan dukungan Pemerintah Kolonial Belanda, bangunan ini pada akhirnya selesai dan diresmikan pada tanggal 7 Desember 1821 dan melanjutkan perannya sebagai gedung pertunjukan bergengsi di kota Batavia.

Pada akhir tahun 1822, gedung ini berhasil menampilkan penari kondang Rusia, Anna Pavlova, tetapi walaupun sosok gedung itu megah, sesuai dengan teknologi yang ada saat itu, untuk penerangan gedung ini masih menggunakan lampu minyak atau lilin. Baru kemudian pada tahun 1864, menggunakan lampu gas. Selanjutnya sejak tahun 1882 cahaya lampu listrik mulai menerangi gedung ini. Namun itu pun baru di bagian dalam, sedangkan bagian luar hingga tahun 1910 tetap menggunakan lampu gas.

Pada waktu itu disamping Schouwburg, di Batavia terdapat dua gedung lain yang dipakai sebagai tempat pertemuan dan pertunjukan kalangan atas, yakni gedung Pertemuan Umum Sositet de Harmonie dan Sositet Concordia yang diresmikan pada tanggal 21 September 1833, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van den Bosch. Schouwburg saat itu benar-benar menjadi pusat perhatian dan pusat seni. Bila Pangeran Hendrik dari Belanda datang berkunjung ke Batavia, dia sering mendapat suguhan sandiwara di Schowburg. Saat itu 13 Febuari 1837, dipentaskanlah sebuah sandiwara yang dimainkan rombongan setempat. Selain sandiwara, kesenian yang biasa ditampilan di Schowburg antara lain musik, tari dan opera. Pada tahun awal berdirinya Schowburg hanya menggelar kesenian dari rombongan amatir setempat. Berawal pada tahun 1833, didatangkan rombongan sandiwara dari Prancis, setelah itu secara bergiliran ditampilkan kesenian yang bergantian dari Prancis dan Belanda.

Dalam perkembangannya, sejak 1929, empat kali setahun digelar wayang orang dengan diberi subsidi 125 gulden setiap kali main, serta dibebaskan dari biaya tempat dan penerangan (listrik). Rombongan wayang orang yang biasa pentas di Schouwburg adalah Krido Jatmoko dan Marsoedi Bekso. Menjelang runtuhnya pemerintahan Hindia Belanda, Schouwburg juga mencatat adanya grup sandiwara peribumi yang mendapat kesempatan untuk tampil. mereka antara lain Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) yang mementaskan lakon Setahun di Badahulu (tahun 1941), dan grup lainnya adalah perkumpulan Dewi Mada yang dibintangi oleh pasangan Dewi Mada-Ferry Kok. Pada tahun yang sama, Dewi Mada mengangkat lakon Manusia Baru karya Sanusi Pane. Periode masa pendudukan Jepang di Indonesia. Dalam perjalanan sejarah dari Gedung Kesenian Jakarta, periode ini merupakan yang paling suram. Tidak saja karena tempat itu dipaksa harus menyesuaikan diri dengan kepentingan mereka sebagai penguasa Asia, namun gedung ini untuk beberapa waktu juga ditempati tentara, sebagai markas tentara Jepang. Pemerintah Jepang mengambil alih pengelolaan gedung kesenian ini pada masa Perang Dunia II (1939–1945).

Pada masa itu, gedung ini dikenal dengan nama Siritsu Gekitzyoo (Gambar 3). Gedung ini dialihkan fungsinya sebagai markas tentara oleh Jepang. Yang menyedihkan pada masa inilah banyak hiasan dan perlengkapan gedung yang rusak atau hilang. Bersamaan dengan dibentuknya Badan Urusan Kebudayaan (Keimin Bunka Schidosho) oleh pemerintah Pendudukan Jepang pada bulan April 1943, bangunan tersebut digunakan lagi sebagai tempat pertunjukan dengan nama Siritsu Gekizyoo.

Untuk mengambil hati bangsa Indonesia, Jepang justru memberi kesempatan kepada beberapa grup tonil pribumi yang sempat dilecehkan pada masa penjajahan Belanda. Saat itu secara bergiliran grupgrup sandiwara pribumi diberi kesempatan untuk tampil.

Periode menjelang kemerdekaan dan setelah kemerdekaan Indonesia. Gedung kesenian ini juga dijadikan ajang persiapan para pemain muda progresif untuk menghadapi tugas-tugas untuk menyiapkan kemerdekaan. Ketika bala tentara sekutu mendarat di Jakarta setelah perang Dunia Kedua usai, mereka membentuk perkumpulan yang mereka namai “Seniman Merdeka”. Kelompok ini beranggotakan Usmar Ismail, Cornel Simanjuntak, Soerjo Soemanto, D. Djajakusuma, Soedjojono S, Basuki Resobowo, Rosihan Anwar, Sarifin, Suhaimi, dan satu-satunya wanita yakni Malidar Malik. Mereka berkeliling menggunakan sebuah truk yang berhasil mereka bawa dari Pusat Kebudayaan Jepang (Keimin Bunka Shidosho). Di masa Pendudukan Jepang, truk tersebut digunakan untuk mengadakan pertunjukan sandiwara keliling. Dengan truk itu pula, “Seniman Merdeka” berkeliling memberikan dorongan dan membakar semangat rakyat agar serempak menentang penjajah. Sedangkan Gedung Kesenian, mereka gunakan sebagai pangkalan tetap.

Menurut catatan sejarah, gedung ini juga pernah digunakan untuk sidang pertama Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), yakni tanggal 29 Agustus 1945 atau 12 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Peristiwa ini penting dicatat karena merupakan peristiwa politik pertama yang menggunakan gedung kesenian itu. KNIP sendiri waktu itu bisa disetarakan dengan parlemen atau Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Peristiwa ini makin penting karena dihadiri oleh

Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Tahun 1950-an, setelah grup-grup kesenian yang dibidani Jepang berguguran, lahirlah beberapa grup yang dibentuk seniman-seniman muda. Kemudian gedung ini juga sempat digunakan sebagai ruang perkuliahan malam mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Hukum, Universitas Indonesia di tahun 1951. Selanjutnya, sekitar tahun 1957-1961 dipakai sebagai Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI).

Periode jaman Orde Lama – Orde Baru, antara tahun 1968–1984, gedung tua ini sempat beralih fungsi menjadi bioskop. Ditahun 1968 dengan nama ‘Bioskop Diana’ yang mempertunjukan film-film India. Pada tahun 1969 dibentuk Yayasan Gedung Kesenian dibawah almarhum Brigjen Pringadi yang bertujuan menjaga agar gedung tetap terawat. Setahun kemudian, yayasan tersebut berubah menjadi Bioskop City Theatre yang mempertunjukan film-film Mandarin. Perubahan itu tidak hanya menyangkut fungsi gedung bioskop, langit-langit gedung yang tadinya berukir indah, kemudian ditutup dengan plafon bergaya modern. Tembok-tembok batupun tak lepas dari perubahan karena ditutupi dengan kayu. Selain itu pintu-pintu yang kokok diganti dengan kaca. Karena bioskop mementingkan layar, maka panggung pun menjadi tak terawatt dan kehilangan fungsinya. Sementara bangunan lainnya yang berlokasi di bagian belakang gedung GKJ, ada yang dimanfaatkan sebagai tempat billiard dan kantor pajak. Pada awal tahun 1970, GKJ mulai kehilangan pamornya. Disamping karena kondisinya yang makin tak terawatt karena untuk bioskop, billiard dan macam-macam juga karena lahirnya Pusat Kesenian Jakarta atau Taman Ismail Marzuki di wilayah Cikini. TIM yang memang lebih luas, saat itu menjadi markas sekaligus kiblat bagi para seniman.

Pada masa Gubernur Ali Sadikin, GKJ pernah dipugar oleh Dinas Pemugaran Gedung, yang dipimpin oleh Ir. Ars. Tjong Pragantha, Adji Damais dan tim Seni Rupa ITB yang diwakili oleh Bapak Surya Pernawa dan Bapak Yusuf Affendi. Struktur asal muasal GKJ diteliti dengan menggali data asli bangunan hingga mengirimkan tim survey sejarah GKJ ke negeri Belanda. Baru setelah dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) Gubernur DKI Jakarta No. 24/1984, gedung tua ini kemudian dipugar dan dikembalikan kepada fungsinya semula menjadi gedung kesenian yang bernama resmi Gedung Kesenian Jakarta. Periode masa Kini (1984 – 2009), periode ini berlangsung antara tahun 1984 sampai dengan tahun 2009. Di tahun 1984, setelah dikeluarkannya SK Gubernur DKI Jakarta, no 24/1984. Gedung Kesenian Jakarta yang berlokasi di Jl. Gedung Kesenian No. 1 Pasar Baru – Jakarta Pusat dipugar. Gedung ini diresmikan penggunaannya kembali pada tanggal 5 September 1987, dengan menampilkan orkes simfoni pimpinan Idris Sardi dan pementasan Teater Sumur Tanpa Dasar karya Arifin C. Noer. Managemen GKJ secara bertahap berupaya menerapkan disiplin bagi para penonton, seperti peraturan harus memakai sepatu, dan tidak boleh terlambat.

Sejak mengalami pemugaran di tahun 1984, GKJ telah makin meningkatkan fasilitas disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan tuntutan dari dunia pertunjukan yang menampilkan kesenian tradisional, modern, maupun kontemporer. Gedung ini mempunyai kapasitas kursi sebanyak 475 tempat duduk. Pengunjung umumnya dari gedung kesenian ini adalah dari kalangan menengah ke atas, eksekutif, mahasiswa, dan komunitas pecinta seni lainnya. Fasilitas yang tersedia dalam gedung kesenian ini adalah: hall pertunjukan berukuran 24 x 17.5 meter, panggung pertunjukan berukuran 10.75 x 14 x 17 meter, lobby depan, foyer samping kanan dan kiri berukuran 5.5 x 24 meter. Gedung ini sudah dilengkapi dengan peralatan berteknologi modern seperti: lampu sorot, Air Condition, Sound system, CCTV camera di setiap ruangan, TV monitor.

Jenis pertunjukkan yang sering ditampilkan dalam Gedung Kesenian Jakarta adalah: pertunjukkan konser musik, teater, film, wayang orang, drama, tari tradisional, puisi, pertunjukkan dari negara lain seperti Jepang, China, Spanyol dan sebagainya. Jika dirata-rata, prosentasi kesenian  yang tampil di GKJ, baik perorangan maupun grup, adalah: musik 40,04%, tari 29,05% dan teater (termasuk teater tradisi) 29, 05%, sastra 1,86 %. Prestasi bergengsi dalam seni pertunjukan, di GKJ pernah diselenggarakan pertunjukan yang cukup besar yaitu Jakarta Internasional Festival di tahun 2004, berupa pagelaran musik jazz bertaraf internasional.

Program ruang dari GKJ terdiri dari: pendopo, ruang auditorium, stage foyer kanan dan kiri, lobby, serta loge (tempat kosong di bagian depan, letaknya di kiri-kanan penonton, bila diperlukan bisa dipasang 5 kursi). Bagian belakang panggung terdiri dari: ruang tunggu pemain, ruang rias, ruang dekorasi. Sedangkan di lantai atas, selain balkon, ada ruang control sound system, lighting, dan ruang proyektor/dokumentasi. Dibagian luar gedung, disayap kanan gedung ada lorong kecil untuk akses penyandang cacat yang menggunakan kursi roda. Di sebelah kanan agak ke belakang gedung utama ada bangunan kecil untuk kantor badan pengelola, sementara di bagian depan tenggara sebelah pintu masuk ada bangunan tempat pos penjagaan. Secara Struktural GKJ berada dibawah koordinasi langsung Kepala Dinas Budaya DKI Jakarta. Adapun pengelolaannya diserahkan kepada Kepala

Badan Pengelola. Anggaran untuk kegiatan-kegiatan yang berlangsung di GKJ, Badan Pengelola mendapat subsidi dari Pemda DKI Jakarta. Selain dari pihak pemerintah, pemasukan sumber lain dari penjualan tiket, kerjasama dengan grup kesenian yang pentas, biaya sewa gedung dan sponsor. Selain itu diharapkan pihak swasta mau peduli terutama pada para pengusaha besar menjadi sponsor tetap, seperti yang sudah dan sering dilakukan di luar negeri.

 

NO. Urut SK 475/1993      : 57

Nama Bangunan             : Gedung Kesenian Jakarta

Nama Lama                    : Stadschouwburg

Lokasi                            : Jalan Gedung Kesenian No.1, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar Jakarta 10710

Pemilik                           : Pemda DKI Jakarta

Tahun dibangun              : 1811

Arsitek                           :  Para Perwira Zeni VOC

Gaya Arsitektur               :  Empire

 

Keterangan   :

Berasal dari bangunan sederhana, bangunan yang terlihat sekarang mulai dibangun tanggal 6 Juli 1820 dan selesai pada 7 Desember 1821. Pada masa pendudukan Jepang sempat menjadi markas tentara dan tahun 1943 menjadi gedung pertunjukan. Pada awal kemerdekaan tempat ini digunakan oleh KNIP. Setelah itu dipakai Universitas Indonesia Fakultas Ekonomi dan Hukum. Sekitar tahun 1957-1961 dipakai sebagai Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI). Tahun 1968 dipakai menjadi Bioskop “Diana” dan tahun 1969 Bioskop “City Theater”. Akhirnya pada tahun 1984 dikembalikan fungsinya sebagai Gedung Kesenian.