Gebby Conita Pareira, Tokoh

Gebby Conita Pareira lahir di Jakarta pada tanggal 16 Februari 1978, sebagai anak bungsu dari dua bersaudara. Terlahir sebagai putri Betawi Depok, satu kakek dengan H. Bokir dan Mandra, Gebby mewarisi darah seni juga dari kedua orang tuanya, H. Moch Dahlan (Pemusik & Pemain Lenong) dan Hj. Juarsih (Pemain Sandiwara Betawi). Kesuksesan menjadi seorang Entertainer seperti sekarang ini dilalui penuh perjuangan dan air mata.

Awal perjalanan karir Gebby dimulai tahun 1988 sebagai Penyanyi Pop di sebuah Group Musik bernama ManRos Band. Selama tiga tahun bergabung banyak pengalaman yang dia peroleh mulai dari belajar vocal sampai pentas di atas panggung. Tahun 1991 Ia berusaha pindah aliran musik dari musik Pop ke musik Dangdut yang pada awalnya membuat Ia merasa canggung karena tidak terbiasa dengan cengkokkan vocal Dangdut yang cukup sulit. Budi Bulloh adalah sosok penting dalam hidup Gebby yang mengajarkan bernyanyi Dangdut.

Album pertama  yang dirilis adalah “Tak Bisa Goyang” diproduksi oleh Virgo Ramayana tahun 1992.  Walau tidak tergolong sukses, Gebby tidak menyerah. Tahun 1994 kembali mengeluarkan album kedua “Pembaringan Terakhir” yang diproduksi oleh Bragiri Record. Album ini banyak mendapat sambutan dari masyarakat luas. Gebby pun tambah yakin untuk terus berkarya di jalur Dangdut dan menjadi  pilihan profesinya.

Tahun 1995 sampai tahun 2000, Ia bergabung di MSC Record dan menghasilkan banyak album seperti Rembulan & Kenangan. Kemana Dimana, Cinta Beracun, Rela, Hati yang Terluka. Selain itu Gebby juga membuat  album bersama S. Achmadi, Ida Laila, Ikke Nurjanah, Andryan S serta artis Ibukota lainnya.

Di tengah kesibukannya yang padat di dunia Dangdut, Gebby menyelesaikan pendidikan formal S-1 nya di tahun 2000  dengan meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Gunadarma.

Padatnya kegiatan Show Off Air membuat Gebby cukup lama tidak mengeluarkan album rekaman. Hingga tahun 2006, Iia bekerja sama dengan Gas Production kemudian melahirkan Tiga album berturut-turut di tahun 2007 yaitu: Gugat Cerai, Ijab Qabul dan Pembaringan Terakhir. Ketiga album tersebut  diaransemen baru dan berharap dapat  mengulang  sukses kembali.

Seperti kebanyakan artis yang lain, sempat namanya dirubah oleh produser dengan dalih agar lebih populer dari Gebby Conita, kemudian menjadi Gebby C Parera, lalu masuk rekaman di Arsita With MSC diganti menjadi Githa Parera, kemudian beralih menjadi Gebby Ghita Parera dan terakhir menjadi Githa Pareira.

Diluar jalur rekaman dia cukup aktif mengisi kegiatan di radio-radio  dan  aktif juga mengisi acara sebagai bintang tamu di semua stasiun TV Nasional maupun Lokal sejalan dengan show-show yang diadakan. Untuk kegiatan show Off Air dia telah melakukan banyak show hampir di seluruh Provinsi di Indonesia dan diluar Negeri seperti Malaysia dan Brunei Darussalam, baik itu dilaksanakan oleh Event Organizer sebagai ajang promosi suatu produk ataupun event-event lain seperti PILKADA. Khusus untuk Pilkada, bersama dengan Managementnya, Ia juga sering ditunjuk sebagai koordinator hiburan, untuk menangani program kampanye pemilihan Bupati atau Gubernur di beberapa daerah seperti di wilayah Indonesia Timur dan Sumatera. Dari beberapa event Pilkada yang dia tangani berhasil membuat calon yang Ia dukung memenangkan Pilkada tersebut.

Di dunia Sinetron  Gebby pun ikut meramaikan diantaranya “Biang Kerok” di Indosiar  tahun 1997, “Pepesan Kosong” di TPI, “MandraGade” di RCTI tahun 2000, “Konglomerat Mujur” di TPI tahun 2002. Di tahun 1997 dia mendapat kesempatan menjadi Presenter untuk beberapa episode acara “Dangdut Ria” di Indosiar.

Selain menyanyi dia juga mencoba menciptakan lagu karya sendiri, salah satu karyanya yang berhasil menjadi lagu andalan adalah Rembulan & Kenangan.

Tahun 2003-2005 dia diberikan kepercayaan oleh TPI selama tiga tahun berturut-turut untuk menjadi juri Audisi KDI I, II dan III. Begitu juga oleh Indosiar dia diberi kesempatan untuk menjadi Pelatih Vocal Putri Kondang In I bersama Hamdan ATT tahun 2005.  

Tahun 2006, dia bersama artis-artis Dangdut yang lain juga terlibat dalam proyek pembuatan album Kompilasi Karya Cipta Dorce Gamalama yang mendapat penghargaan dari rekor MURI. Walaupun  bukan berorientasi pada keuntungan materi, dia cukup senang bisa membantu sesama Seniman  untuk berprestasi dan berkarya dalam memajukan musik Dangdut di tanah air seperti apa yang dilakukan Dorce.

Kepulangan dari menunaikan Ibadah Haji tahun 2003, Gebby merasa rasa keImanannya  kepada Allah SWT bertambah.  Dia berusaha memperbaiki diri untuk dapat berbuat yang lebih baik lagi dan membawa manfaat bagi banyak orang. Kecintaannya kepada anak-anak membuat hatinya selalu merasa prihatin  akan nasib anak-anak yang kurang mendapatkan perlindungan dan kasih sayang dari lingkungannya. Ia Ingin  dapat memberikan yang lebih dan menjadi penyanggah derita mereka. Gebby bersama teman-temannya mendirikan Majelis Ta’lim yang bernama Rhoudotul Aitam, yaitu sebuah Perkumpulan Anak-Anak Yatim yang memberikan pengajaran dibidang keagamaan serta memberikan santunan pendidikan bagi mereka. Memang tidak mudah mengelola Lembaga yang membutuhkan konsentrasi dan biaya yang cukup besar tapi dia tak menyerah dan berusaha untuk bisa menyisihkan penghasilannya untuk kelangsungan pendidikan mereka. Gebby  yakin Allah akan memberikan jalan baginya untuk tetap Istiqomah dalam menjalani peran tersebut. 

Tidak hanya anak Yatim Piatu, janda-janda tua pun tak luput dari perhatiannya.  Gebby berusaha di setiap Hari Raya dapat mengumpulkan dan bersilaturahmi dengan mereka untuk berbagi atas sedikit rejeki yang Ia peroleh.

Gebby juga aktif sebagai  penceramah dibeberapa Majelis Ta’lim, pengajar sebuah Taman Pendidikan Quran Nurul Ikhsan yang kini santrinya berjumlah 200 orang.  Tidak hanya itu, pengajian bersama teman-teman artis di Majelis Ta’lim Ar Rahman yang dipimpin oleh Hj. Fitria Elvie Sukaesih pun ia ikuti. Keinginannya untuk terus mencari ilmu terus mengalir. Gebby pun terlibat sebagai aktifis Pengelolaan Sampah Mandiri bersama Drs. EC Sri Endah Nurhayati yang terus berusaha untuk merubah pola pikir masyarakat tentang arti penting sampah. Gebby pun terlibat di Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI) sebagai Sekretaris Bidang Kerohanian.

Di tahun 2007,  hidup Gebby makin lengkap dengan kehadiran seorang lelaki yang sangat mencintainya. Ia adalah Agung Marsudi yang dengan motivasi dan supportnya membuat Gebby terus melangkah menapaki karir dan kehidupan berkeluarga serta berusaha untuk membentuk keluarga Sakinah, Mawadah dan Warahmah. Mereka dikarunia dua orang anak: Ghayatta Nadirre  Anjallie (12 tahun)  & Ghaniyya Dzikra Lavega (9 tahun)

Seiring berjalannya waktu, Gebby dan Agung pun kemudian membangun usaha Biro Perjalanan Umroh dan Haji di tahun 2013 yang mereka namakan: Qonita Tour & Travel dan Perusahaan  PT. Qonita Zikra Semesta di Cibubur Village KA GF - 11, Jl. Radar AURI No. 1 Cibubur Jakarta Timur. Gebby sebagai Direktur Utama dan Agung Marsudi sebagai Komisaris. Mereka  menjalankan prinsip Qonita Travel yang Aman, Terjangkau dan Terpercaya. Pada tahun 2018, penyanyi Dangdut Ike Nurjanah berhasil mereka berangkatkan Haji lewat jalur non kuota tapi Undangan Kerajaan Arab Saudi.  Qonita Tour & Travel ini juga merambah ke “Moslem Tour” ke beberapa negara lain diantaranya Aqsho Palestina, Spanyol, Marocco, Turkey, Korea, Jepang, Eropa Barat, Eropa Timur, Uzbekistan dan program ini berbasis “Halal Tour”.

Untuk menjaga eksistensi di industri Musik Dangdut, Gebby Pareira  membentuk Grup Vokal Qonita di tahun 2016. Qonita beranggotakan Gebby  Pareira, Nong Niken, Erni Ardita, Jeni Anjani, Vita Jely, dan Minny Poppy. Sebagai pembuktian keseriusannya, Qonita meluncurkan single bertajuk ‘Jodoh Di Tangan Allah’ atau disingkat Joda karya Adibal Sahrul.  Qonita didirikan dengan maksud syiar agama lewat Tembang Religi, karena dengan musik orang gampang menerimanya. Tidak hanya sampai disitu Gebby Pareira juga tidak lupa mempersiapkan Single Solo terbarunya nya sebuah tembang cinta yang juga bernuansa Religi berjudul “Pasangan Surga”. Tembang “Pasangan Surga” ini, merupakan karya Adibal Sahrul yang di Produksi Maksimusic.

Atas keprihatinannya terhadap perkembangan musik Dangdut saat ini yang sering dianggap sebagai musik kelas bawah, Gebby mencoba merambah bidang pendidikan bersama Ikke Nurjanah dengan mendirikan SEKOLAH DANGDUT IKKE NURJANAH, untuk bisa berkontribusi membentuk Penyanyi Dangdut yang kelak akan bisa disejajarkan dg genre lain secara kualitas Musikalitas dengan kemampuan sesuai standard musik Internasional seperti menulis dan membaca partitur not balok untuk bisa membawa musik Dangdut Go International.