Gandrung Marsan, Seni Tari

Tari Gandrung Marsan adalah tarian tradisional kreasi baru dari daerah Banyuwangi,  Jawa Timur, yang merupakan pengembangan tari Gandrung Lanang. Seluruh penarinya adalah laki-laki dengan pakaian layaknya perempuan. Tarian ini turut serta memeriahkan pembukaan pesta olah raga Asian Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Tari Gandrung Lanang berhubungan dengan mitologi dalam kepercayaan masyarakat tentang penyatuan alam terkait kesuburan dan keseimbangan alam. Kata “gandrung” bisa dimaknai sebagai cinta, tertarik, atau terpesona, dan tarian ini menggambarkan keterpesonaan kaum tani kepada anugerah para dewa berupa hasil panen padi yang melimpah di sawahnya. Tari yang semula bersifat pemujaan ini dibawakan oleh anak laki-laki berusia antara 7 sampai 14 tahun sehingga dinamakan “Gandrung Lanang”. Nilai adat dan kearifan lokal itu tumbuh subur sehingga tarian Gandrung Lanang pun menjadi primadona sampai generasi Gandrung yang bernama Marsan. Biasanya penari Gandrung hanya mampu bertahan hingga usia 16 tahun lalu menghilang, tetapi seorang penari bernama “Marsan” bertahan hingga usia 40, bahkan mengabdikan hidupnya untuk tari Gandrung sampai ajal menjemput. Marsan adalah legenda Gandrung Lanang, piawai memerankan perempuan, dan dikagumi masyarakat karena pesan moral yang disampaikan dalam setiap tari yang dibawakan. Saat persaingan di antara sesama penari Gandrung Lanang begitu tinggi hingga sering berbuntut perkelahian saat pertunjukan, Marsan pun berusaha menjadi penengah dan menyampaikan pesan damai kepada masyarakat. Marsan adalah primadona tari Gandrung pada masanya (1890), dan kegandrungan masyarakat terhadapnya dimanfaatkan Marsan untuk melakukan upaya-upaya melawan penjajah yang ada di Banyuwangi. Pada perkembangan berikutnya, sekitar tahun 1895 diangkatlah seorang penari Gandrung perempuan yang kebetulan juga penari Seblang bernama Semi. Perubahan ini terjadi bersamaan dengan masuknya agama Islam yang melarang laki-laki berpenampilan seperti perempuan. Perlahan sejak tahun 1914 tari Gandrung Lanang pun tenggelam.

Kebesaran tokoh Marsan yang berjasa dalam pengembangan tari Gandrung,  peran penting tari Gandrung Lanang dalam membantu perjuangan, menghilangnya tari Gandrung Lanang setelah peran penari laki-laki diambil alih penari perempuan, membuat  Subhari Sufyan tergerak menghidupkan kembali tarian Gandrung Lanang yang telah lama mati. Tahun 2009, Subhari Sufyan menciptakan tari kreasi baru yang berakar dari Gandrung Lanang di jaman keemasan Marsan. Awalnya tarian ini mendapat tanggapan sinis karena dianggap tidak lazim dan kurang sopan jika laki-laki mengenakan kostum perempuan meskipun hanya untuk menari. Sufyan tidak patah arang, bahkan membawa tarian ciptaannya ke Jakarta untuk diikutsertakan dalam Festival Parade Tari Nusantara di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dan menang sebagai Juara Umum. Setelah kemenangan ini perlahan masyarakat Banyuwangi mulai menerima, dan menyadari bahwa penari laki-laki yang berpakaian serta berlenggak-lenggok layaknya perempuan dalam tari Gandrung Marsan tidak bermaksud merusak tatanan dan kodrat sebagai laki-laki. Tarian ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat Banyuwangi akan keberadaan tari Gandrung yang dibawakan oleh penari laki-laki sebelum perannya diambil alih penari perempuan.

Tari Gandrung Marsan dibawakan oleh sembilan orang penari laki-laki dengan kriteria khusus, yaitu  harus bisa berkarakter gagah saat melakukan gerak laki-laki, sekaligus bersikap luwes saat berlenggak-lenggok layaknya penari perempuan. Jika kedua karakter tersebut berhasil dibawakan dengan baik oleh kesembilan penari, maka penampilan tari Gandrung Marsan telah sesuai dengan karakter dari tokoh Marsan yang menjadi inspirasi tarian ini. Gerakan tari Gandrung Marsan banyak dipengaruhi oleh ragam gerak baku tari Gandrung pada umunya, antara lain nyiji, ngeber, sagah kanan dan kiri, penthangan, cangkah kanan dan kiri, serta laku loro. Tarian lain yang mempengaruhi adalah Jaran Dawuk, Seblang, Kuntulan, dan Podo Nonton (banjaran),  serta  gerakan malpal pada tarian Bali.

Struktur tari Gandrung Marsan terdiri dari: (1) Marsan berdo’a sebelum memulai misi memberantas tindakan asusila penari Gandrung laki-laki terdahulu yang ditandai dengan pemakaian “omprok”. Pada bagian ini pemeran Marsan duduk  bersimpuh di pojok kanan, melakukan gerakan-gerakan seperti memanjatkan do’a, sedangkan penari lainnya berada di belakang; (2) Marsan berkumpul dengan para pemuda yang menggambarkan mereka sedang bersiap latihan bela diri untuk melawan penjajah; (3) Marsan dan para pemuda belajar bela diri. Di bagian ini terlihat gerakan mengangkat tangan kanan hingga batas bahu dengan telapak tangan kiri di bagian siku tangan kanan, yang dikuti gerakan menyerupai gerak pemanasan dalam olahraga; (4) Marsan mengatur strategi perang. Dalam adegan ini kesan perjuangan tampak sangat kuat, terutama saat Marsan berorasi dalam bahasa “osing” yang berbunyi “sudah saatnya pemuda pemudi bangun dan memberantas para penjajah, pantang pulang rumah sebelum menang”; (5) Pada bagian terakhir,  Marsan dan penari Gandrung lainnya menunjukkan jati diri mereka sebagai laki-laki tulen yang tengah berjuang melawan penjajah, dengan menyamar menjadi penari Gandrung Lanang. Adegan ini ditandai dengan pemasangan kumis palsu oleh setiap penari,  teriakan-teriakan khas lelaki yang akan berangkat berperang, dan salah satu penari berteriak lantang “isun Marsan” yang artinya “saya Marsan”.

Penari mengenakan kemben dari kain beludru hitam untuk menutupi bagian dada sampai pinggang, sedangkan pundak dan separuh punggung dibiarkan terbuka. Pinggang memakai “pending” (ikat pinggang) berbahan beludru. Hiasan kain “Ilat-ilatan” berbentuk persegi panjang dari leher hingga pinggang dipasang di bagian depan kemben dengan cara diikat, terbuat dari kain beludru berornamen manik-manik. “Kelat bahu” pada masing-masing lengan terbuat dari kain hitam berornamen. “Sembong” untuk menutupi pinggul belakang, terbuat dari kain beludru yang diberi ornamen warna kuning, merah, dan hijau, serta mote berwarna emas dan merah. “Rapek” di bagian depan untuk menutupi pinggang hingga bawah perut, sedangkan di bagian kanan dan kiri pinggang memamaki “pedang-pedangan”. Keduanya berbahan beludru hitam yang diberi ornamen. “Sampur” atau selendang panjang dikalungkan di leher, tetapi memasuki bagian akhir tarian, kedua ujung sampur ditarik ke belakang dan diikat. Sampur biasanya berwarna kuning atau merah dengan motif segitiga berjejer di bagian kedua ujung kain. Celana panjang dilapis “jarik” (kain panjang) menutupi tubuh bagian bawah hingga batas sedikit di atas mata kaki. Agar bisa bergerak leluasa, kain diwiru di samping kiri. Motif kain khas Banyuwangi yaitu “gajah oling”. Hiasan kepala berupa “omprok”, terbuat dari samakan kulit kerbau dengan ornamen tokoh Antasena (putra Bima yang berkepala raksasa berbadan ular), warna perak yang berfungsi membuat wajah sang penari berkesan bulat telur, dan bunga “cundhuk mentul” di bagian atas. Properti tari berupa dua buah kipas dan kumis palsu.

Musik pengiring tari Gandrung Marsan adalah seperangkat gamelan Banyuwangi,  biola, dan angklung. Biola berfungsi sebagai pembuat melodi gending. Kethuk berfungsi sebagai pembuat irama dan mempertajam ritme untuk memperindah irama gending. Gendang, unsur pemersatu ritme dan tempo permainan, serta pengatur irama dan penuntun unsur-unsur gerakan yang dibawakan penari. Gong sebagai pengakhir pada komposisi nada atau gending. “Kluncing” alat musik segitiga berbahan besi, yang dimainkan dengan cara dipukul menggunakan sebuah besi pendek untuk menghasilkan suara berirama suasana meriah. Pemain kluncing menjadi pertunjukan tersendiri karena selalu menggerakan badannya mengikuti irama gending. “Saron Bali”, instrumen gamelan yang tergantung pada komando gendang untuk menentukan cepat, lambat, atau kerasnya penabuhan. “Angklung”, “rebana”, dan “jedor” adalah alat musik tambahan. Jedor, alat musik mirip “terbang” (rebana besar) menghasilkan suara besar untuk memberi tanda tekanan pada bagian akhir.