Gandrung Kemiren, Seni Tari

Gandrung adalah tarian yang sangat populer di Banyuwangi. Pada awal kemunculannya, tari Gandrung dibawakan oleh laki-laki seluruhnya sehingga sering disebut dengan “Gandrung Lanang”. Penari Gandrung terkenal pada masa itu (1890) bernama Marsan, yang menjadi legenda karena kecintaan dan pengabdiannya pada tari Gandrung hingga akhir hayatnya. Marsan dan kawan-kawannya berkeliling kampung dengan membawa gendang dan terbangan (semacam rebana besar) untuk mementaskan tari Gandrung. Namun sebenarnya mereka tidak hanya sekedar menari tetapi juga menjadi mata-mata. Saat menari di tangsi-tangsi Belanda, Marsan mengamati situasi dan menceritakannya kepada para pejuang yang berada di wilayah Banyuwangi. Seiring dengan berkembangnya Islam di tanah Jawa, adanya larangan laki-laki menyerupai perempuan dan sebaliknya menyebabkan penari  Gandrung digantikan oleh perempuan. Masyarakat sendiri berpandangan bahwa seluwes-luwesnya gerakan seorang lelaki tetap lebih luwes dan kenes perempuan. Perlahan tari Gandrung Lanang mulai sepi peminat hingga akhirnya tenggelam sejak tahun 1914. Salah satu tarian Gandrung Wadon yang masih bertahan hingga kini adalah Gandrung Kemiren, yaitu tari Gandrung yang tumbuh dan berkembang di Desa Kemiren, sebuah desa adat suku Osing di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Tarian ini ikut menyemarakkan hajatan Pesta Kebudayaan Nasional 2019 di Istora Senayan.

Gandrung perempuan pertama (1895) adalah Semi, seorang anak kecil berusia sepuluh tahun. Konon saat Semi sakit parah, sang ibu (Mak Midhah) mengucapkan mantra dan bernadzar untuk menjadikan anaknya seorang penari Gandrung jika sembuh dari sakit parah yang diderita. Masyarakat suku Osing sangat kuat kepercayaan magisnya, sehingga ketika kesehatannya sudah pulih tiba-tiba sang anak gemar menari-nari. Tradisi gandrung yang dilakukan Semi diikuti oleh adik-adik perempuannya, dengan menggunakan kata Gandrung sebagai nama panggung. Awalnya kesenian gandrung hanya boleh dibawakan oleh keturunan penari sebelumnya, namun sejak tahun 1970-an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung mempelajari tarian ini, dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian.

Struktur pertunjukan tari Gandrung Kemiren terdiri dari Jejer Gandrung, Paju, dan Seblang-seblangan. Jejer Gandrung merupakan tari pembuka, yang dimaksudkan sebagai bentuk penghormatan kepada tuan rumah, para tamu, dan semua orang yang hadir saat pertunjukan berlangsung, serta bentuk pengharapan agar penyelenggara hajat mendapatkan berkah. Penari Gandrung berdiri di tengah-tengah arena pertunjukan (kalangan), menari solo sambil memainkan kipas dan melantunkan gending podho nonton. Gending podho nonton berisi syair yang isinya mengajak para pemuda untuk melawan kesewenang-wenangan Ki Demang dukungan Belanda, yang menyiksa rakyatnya sendiri dengan memaksa pemuda Blambangan melakukan kerja paksa membangun jalan raya serta jembatan. Kesenian Gandrung memang lahir pada masa penjajahan Belanda.

Paju adalah babak yang memberi kesempatan kepada para penonton untuk menari bersama penari gandrung. Penari memberikan selendang kepada para tamu sesuai urutan yang disusun sebelumnya oleh gedhog, biasanya berdasarkan kedudukannya di masyarakat. Paju yang terdiri dari empat orang membentuk bujur sangkar, posisi penari berada di tengah-tengah. Gandrung kemudian mendekati paju satu persatu untuk menari bersama dengan gerakan-gerakan yang menggoda. Setelah selesai menari, penari Gandrung mendatangi penonton untuk menemani menyanyi (ngrepen/repenan) sesuai gending yang dipilih. Paju dan ngrepen dilakukan selang-seling sepanjang malam hingga menjelang dini hari. Saat menungu giliran menari atau menyanyi bersama Gandrung, seringkali terjadi keributan di antara penonton akibat lamanya menunggu atau mabuk. Di akhir babak paju dan ngrepen, jika masih banyak waktu biasanya para gedhog mempersilakan penonton untuk ikut menari njaban bersama Gandrung. Selesai menari paju njaban penonton memberikan tombokan atau uwul pada baki yang dipegang oleh gedhog.

Adegan penutup pertunjukan Gandrung adalah Seblang-seblangan yang biasanya baru berlangsung menjelang Subuh sehingga sering disebut seblang subuh. Ada lima lagu wajib yang harus dinyanyikan yaitu seblang lokento, sekar jenang, kembang pepeh, sundreng-sundreng, dan kembang terna. Namun seringkali tidak seluruh lagu bisa dinyanyikan karena durasi pertunjukan banyak tersita oleh paju gandrung. Sejak tahun 1950-an lagu sundreng-sundreng, kembang pepeh, dan kembang terna sudah jarang dinyanyikan. Seblang-seblangan dimaksudkan sebagai pemujaan terhadap Dewi Sri, dewi kemakmuran dalam masyarakat agraris, serta mengenang kejayaan kerajaan Blambangan dan penderitaan yang dialami rakyat osing masa itu. Gerak tarian dilakukan perlahan penuh penghayatan dan kadang sambil mengibas-ngibaskan kipas sesuai irama, atau tanpa membawa kipas sambil menyanyikan lagu-lagu bertema sedih misalnya seblang lokento. Suasana mistis sangat karena masih terhubung erat dengan ritual seblang, yaitu ritual penyembuhan atau penyucian yang masih dilakukan oleh penari-penari perempuan lanjut usia meski sulit dijumpai. Saat ini babak seblang subuh kerap ditiadakan meskipun sebenarnya merupakan penutup pertunjukan gandrung.

Tari Gandrung Kemiren diiringi seperangkat alat musik yang terdiri dari 2 buah biola atau baolah yang berfungsi sebagai pembuat melodi gending, sepasang kethuk sebagai pembuat irama dan mempertajam ritme, dua buah kendhang (gendang) sebagai pengatur irama dan penuntun tari, dua buah gong sebagai pemanis suara di akhir komposisi nada, dan kluncing (triangle). Terkadang dikreasikan dengan saron Bali, angklung atau rebana, dan electone (organ elektronik). Pertunjukan tari Gandrung juga menyertakan panjak atau pengundang (pemberi semangat), yang bertugas memberi semangat dan meramaikan pertunjukan gandrung. Biasanya peran ini dilakukan oleh pemain kluncing.

Penari gandrung mengenakan busana yang terdiri dari: (1) Basahan, berupa kemben terbuat dari kain beludru hitam yang disebut utuk; (2) Kain panjang motif gajah oling dengan warna dasar putih, dikenakan agak tinggi di atas mata kaki; (3) Kelat bahu atau gelang kana (Bali) terbuat dari kulit lembu yang dikenakan di lengan atas; (4) Ilat-ilat atau lamak dari kain beludru warna hitam; (5) Pending (ikat pinggang) berbahan logam berwarna kuning emas atau putih perak; (6) Sembong dari kain beludru yang berfungsi sebagai penutup tubuh bagian depan; (7) Oncer atau sembongan, yaitu potongan kain kecil-kecil pendek warna-warni sebagai pengisi bagian pinggang yang tidak tertutup oleh sembong; (8) Sampur, selendang merah dengan rumbai-rumbai warna kuning emas yang dikalungkan di leher menjuntai ke bawah, berfungsi sebagai penghias gerakan tari; (9) Gelang dan cincin yang biasanya milik sang Gandrung; (10) Omprog atau omprong, hiasan kepala yang bentuknya seperti mahkota dari kulit lembu yang diberi pahatan, hiasan rumbai warna kuning emas, dan kembang goyang dari bahan logam berwarna kuning emas.